Banjarmasin, Warta JITU — Dalam pantauan tim redaksi LPM Warta JITU pada Minggu (11/1), mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BNI yang berada di lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tidak lagi menyediakan pecahan Rp20.000. Kondisi tersebut menuai keluhan dari mahasiswa karena dinilai menyulitkan pemenuhan kebutuhan harian yang didominasi transaksi nominal kecil.
Raudatun Nisa, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2024, mengaku tidak terlalu sering menggunakan ATM BNI di ULM. Dalam sebulan, Nisa biasanya melakukan penarikan uang sekitar dua hingga tiga kali. Meski demikian, perubahan nominal penarikan tetap membuatnya merasa kecewa.
“Uang Rp20.000 itu berguna banget buat saya sebagai anak kos. Pengeluaran sehari-hari kebanyakan pakai uang kecil. Kalau narik Rp20.000 bisa banyak lembar, jadi lebih mudah untuk bayar-bayar dan kembaliannya juga lebih gampang,” ujarnya.
Nisa menambahkan, ATM BNI di lingkungan ULM sebelumnya menyediakan pecahan Rp20.000, namun kini telah diganti menjadi pecahan Rp50.000. Kondisi tersebut semakin disayangkan karena ATM tersebut menjadi satu-satunya mesin ATM BNI di lingkungan kampus.
Meski demikian, Nisa menilai ketiadaan pecahan Rp20.000 tidak terlalu memengaruhi cara mengatur pengeluaran sehari-hari. Menurut Nisa, pengelolaan keuangan tetap bergantung pada kemampuan individu dalam mengontrol diri.
“Pengaturan pengeluaran sehari-hari itu bukan dari nominal uangnya, tapi dari diri sendiri yang harus pintar mengatur uang,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Lina Lisnawati, mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS angkatan 2023. Lina mengaku cukup sering menggunakan ATM BNI di lingkungan ULM karena lokasinya yang dekat dengan aktivitas perkuliahan.
Menurut Lina, hilangnya pecahan Rp20.000 justru menimbulkan kesulitan tersendiri, terutama ketika saldo rekening tersisa dalam nominal kecil.
“Kalau saldo tinggal Rp80.000, Rp60.000, atau Rp40.000 dan ingin ditarik habis jadi tidak bisa. Akhirnya terpaksa pakai QRIS,” tuturnya.
Lina menilai, keberadaan pecahan Rp20.000 berperan penting dalam mengontrol pengeluaran mahasiswa, khususnya dalam transaksi keseharian.
“Uang kecil itu membantu supaya tidak boros. Kalau pegang uang nominal besar, rasanya lebih gampang habis. Apalagi beberapa warung juga tidak selalu punya uang kembalian,” jelasnya.
Lina menegaskan bahwa ketersediaan pecahan Rp20.000 di ATM kampus merupakan kebutuhan penting bagi mahasiswa, terutama mahasiswa rantauan yang dituntut untuk lebih menghemat pengeluaran.
“Harapan saya, pecahan Rp20.000 di ATM BNI bisa tersedia lagi, terutama di lingkungan ULM, karena pecahan Rp20.000 itu salah satu cara saya untuk menghemat pengeluaran. Kalau bisa, di setiap ATM BNI juga tetap ada pecahan Rp20.000, selain pecahan Rp50.000 atau Rp100.000,” tukasnya.
Harapan serupa juga disampaikan Nisa. Menurutnya, ketersediaan penarikan uang pecahan Rp20.000 di ATM BNI ULM sangat dibutuhkan mahasiswa karena lokasinya yang strategis dan berada di lingkungan kampus.
“Harapan saya, pengambilan uang pecahan Rp20.000 di ATM BNI bisa tersedia lagi, apalagi di lingkungan ULM. Soalnya ATM itu satu-satunya dan letaknya strategis di area kampus, pas banget untuk kebutuhan mahasiswa. Saya juga baru tahu ternyata ada penarikan khusus pecahan Rp20.000, dan di daerah lain seperti Kapuas rasanya belum ada,” harapnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak bank terkait alasan penghapusan pecahan Rp20.000 di ATM BNI di lingkungan ULM. Mahasiswa berharap layanan ATM di kawasan kampus dapat kembali menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna utamanya, yakni mahasiswa.
Penulis: Dewi
Penyunting: Hani
