Kebijakan Kuliah Daring, Mahasiswa Ragukan Efektivitasnya

Kebijakan Kuliah Daring, Mahasiswa Ragukan Efektivitasnya

Sharing is Caring
       
  

Banjarmasin, Warta JITU —Kebijakan kuliah daring setiap hari Jumat yang diterapkan oleh Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sejak April 2026 menghadirkan beragam respons dari mahasiswa.

Salah satu mahasiswa yang enggan disebutkan identitasnya mengaku,
kebijakan ini memang memberi ruang untuk mengatur waktu lebih leluasa, terutama bagi mereka yang ingin pulang lebih awal ke kampung halaman. Namun, hal ini juga memicu kekhawatiran terkait proses belajar yang tidak lagi berjalan maksimal.

“Menurut saya kebijakan kuliah daring setiap Jumat ini kurang efektif, mungkin bagi beberapa orang akan memudahkan mereka untuk pulkam lebih awal contohnya saja mahasiswa rantauan. Tapi bagi saya sendiri hal ini membuat mahasiswa tidak bisa mendapat materi secara penuh, karena daring itu mempunyai banyak keterbatasan seperti halnya jaringan yang tiba tiba terkendala atau bahkan ada mahasiswa yang zoom meet sambil tidur,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut akan berpengaruh langsung pada pemahaman materi. Minimnya interaksi membuat mahasiswa lebih mudah terdistraksi dan kehilangan suasana belajar yang biasanya terbentuk di ruang kelas.

“Setiap daring saya merasa lebih mudah terdistraksi karena tidak adanya pertemuan langsung. Sesi interaksi juga terbatas sehingga kemungkinan mahasiswa tidak benar benar memahami materi yang telah disampaikan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan, hingga saat ini pembelajaran tatap muka masih menjadi metode yang paling efektif dalam menunjang pemahaman mahasiswa.

“Jujur lebih efektif tatap muka. Dengan tatap muka kami bisa bebas berdiskusi tanpa ada hambatan apapun, dan dosen juga bisa memastikan seluruh mahasiswa benar-benar memperhatikan materi yang disampaikan,” pungkasnya.

Pandangan serupa datang dari mahasiswa lain yang juga tidak ingin disebutkan identitasnya. Ia berasal dari dari bidang sains dan menilai bahwa tidak semua mata kuliah dapat berjalan optimal secara daring, terutama yang berkaitan dengan praktik langsung.

“Jujur untuk kuliah daring sendiri itu kurang bagi anak sains apalagi banyak yang bisa nitip presensi jadi kehadiran kurang. Selain itu, jaringan bermasalah juga bisa membuat susah dapat materinya,” katanya.

Selain aspek akademik, ia juga menyoroti sisi ekonomi yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, kebijakan ini tidak selalu berarti penghematan bagi semua mahasiswa.

“Buat yang rumahnya pulang-pergi atau ngekost tetap aja bolak balik, dan itu tetap buang uang buat mahasiswa yang gak kaya-kaya banget. Apalagi jaringan sering gangguan, jadinya buang uang lagi,” jelasnya.

Ia juga menekankan, pengalaman langsung tetap menjadi bagian penting, terutama untuk kegiatan praktikum dan pendalaman materi.

“Pengalaman langsung praktikum itu penting banget, apalagi buat asistensi mengejar nanti. Soalnya di sekolah kan lebih bagus praktikum langsung. Begitu juga untuk studi S2 nanti,” tambahnya.

Mahasiswa berharap agar kebijakan ini tidak diterapkan secara kaku. Perlu ada penyesuaian agar tujuan efisiensi tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.

“Harapan saya terkait kebijakan ini mungkin bisa untuk dipertimbangkan lagi dengan melihat urgensi yang lebih dibutuhkan mahasiswa untuk sekarang. Saran saya agar pelaksanaannya bisa dibuat lebih optimal. Metode pembelajaran harus lebih interaktif,” tutupnya.

Ia juga menilai, kampus perlu mempertimbangkan kebijakan daring ini agar tetap bersifat fleksibel dan tidak diterapkan ke seluruh mata kuliah, melainkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mata kuliah.

Penulis: Kiki

Penyunting: Nada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *