Banjarmasin, Warta JITU — Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Kalimantan Selatan menyampaikan sejumlah aspirasi terkait persoalan banjir yang melanda beberapa daerah di Kalimantan Selatan pada Kamis (8/1/2026) bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, ke Desa Sungai Tabuk, Kalimantan Selatan.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (BEM ULM), Adi Jayadi, menyebutkan, penyampaian aspirasi dilakukan sebagai bentuk atensi kepada Pemerintah Provinsi dan juga Pemerintah Kabupaten/Kota yang terdampak. Meski sempat dihalangi untuk berkomunikasi dengan Wakil Presiden RI, sejumlah aspirasi akhirnya tetap dapat tersampaikan.
Adapun aspirasi yang diajukan menyoroti tiga faktor utama penyebab banjir tahunan di Kalimantan Selatan, yakni maraknya aktivitas tambang ilegal, pendangkalan sungai di sejumlah titik, serta lemahnya tata kelola ruang.
“Saat ini terdapat lebih dari 200 tambang ilegal yang masih aktif dan perlu segera ditertibkan. Selain itu, pendangkalan sungai di sejumlah titik serta lemahnya tata kelola ruang turut memperparah banjir di Kalimantan Selatan,” jelas Adi.
Adi juga mengungkap, solusi yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah solusi jangka panjang yang menjangkau lima sampai sepuluh mendatang, bukan sebatas solusi jangka pendek yang hanya berdampak seminggu atau sebulan saja.
Menanggapi aspirasi tersebut, Gibran memberikan pernyataan yang merujuk pada arahan kepada Pemerintah Provinsi atau Kabupaten/Kota agar dapat menanggulangi permasalahan banjir yang terjadi.
Namun, Adi menilai belum adanya solusi konkret yang ditawarkan oleh Pemerintah Pusat terhadap aspirasi mahasiswa.
“Gibran ataupun Wakil Presiden kita merespons dengan baik, tapi ada hal yang ternyata dirasa itu tidak pas karena bentuknya memang arahan kembali ke Pemerintah Provinsi atau Kabupaten/Kota. Sedangkan kami ingin tahu bagaimana Pemerintah Pusat hari ini merespons daripada permasalahan ini, sehingga tidak ada solusi yang dihadirkan Pak Gibran terhadap apa yang coba kami tuntut ataupun aspirasikan,” jelas Adi.
Ia juga mengatakan, jawaban yang diberikan oleh Gibran terkesan sama saja seperti pernyataan yang sudah diangkat oleh kebanyakan media. Sehingga tanggapan yang diberikan tersebut justru menuai kekecewaan.
“Kami selalu percaya bahwa tagar yang paling benar adalah #WargaJagaWarga, karena pemerintah hari ini tidak becus dan juga tidak bisa menyelesaikan daripada permasalahan hari ini,” ungkapnya.
Adi menambahkan, dalam waktu dekat Aliansi BEM se-Kalimantan Selatan berencana membuka ruang diskusi atau forum untuk merumuskan rekomendasi kebijakan sebagai solusi atas permasalahan banjir. Melalui forum tersebut, mahasiswa dan masyarakat diharapkan dapat terlibat langsung dalam upaya bersama mencari penyelesaian jangka panjang.
“Dalam waktu dekat, kami akan membuka ruang diskusi untuk merumuskan rekomendasi kebijakan melalui kajian dan policy brief agar mahasiswa dan masyarakat dapat terlibat langsung dalam mencari solusi,” tutup Adi.
Penulis: Kiki, Andhika
Penyunting: Hani, Nada
