Suara-suara Kecil di Balik Program KIPK

Suara-suara Kecil di Balik Program KIPK

Sharing is Caring
       
  

Di antara janji kesetaraan pendidikan, ada cerita-cerita sunyi tentang perjuangan, ketidakadilan, dan harapan yang tetap dinyalakan dalam diam.

Di sebuah sudut Hulu Sungai Selatan, ada cerita sederhana tentang perjuangan seorang mahasiswi. Gadis itu kini duduk di bangku kuliah semester empat, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Di balik wajah teduh dan tutur kata yang tenang, tersembunyi perjalanan yang panjang. Bertahan di antara kekurangan, kehilangan dan keinginan kuat untuk mengubah nasib. Kita sebut saja ia Nona.

Nama ini bukan nama asli, demi menjaga privasinya. Namun, kisahnya nyata, tentang tekad, harapan, dan luka kecil di tengah jalan bernama KIP Kuliah. Nona dibesarkan dalam kondisi keluarga yang cukup-tidak berlebih, namun tidak dalam kekurangan mutlak. Ayahnya telah meninggal dunia pada awal 2020, meninggalkan Ibu yang kini bekerja keras sebagai pencuci pakaian dan pembuat asam-asam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam situasi seperti itu, mimpi melanjutkan kuliah terasa bagai menggenggam angin. Menurut Nona, melanjutkan kuliah setelah lulus Aliyah mungkin harus ditunda entah sampai kapan, jika tidak ada keajaiban. Keajaiban itu datang lewat program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK). Berkat dorongan guru-guru di madrasah, Nona memberanikan diri mendaftar.

“Mereka bilang saya punya potensi, dan saya memang ingin kuliah, jadi saya daftar,” tuturnya.

Proses pendaftarannya berjalan lancar, karena semua persyaratan dapat ia penuhi. Ketika pengumuman tiba, hatinya membuncah bahagia.

Bagi Nona, KIPK bukan sekadar beasiswa. KIPK adalah jembatan yang menghubungkan impian dengan kenyataan. Melalui program ini, Nona menerima bantuan biaya kuliah dan uang saku bulanan. Kedua hal itu menjadi penopang utama kehidupannya di perantauan. Untuk membayar tempat tinggal, makan sehari-hari, dan kebutuhan kuliah lainnya.

Tanpa KIPK, mungkin jalannya akan jauh lebih berat. Ia harus bekerja keras dan menabung sebelum bisa berkuliah. Namun di tengah rasa syukur, ada juga sesak yang tak bisa diabaikan. Nona mengaku pernah menyaksikan kenyataan pahit yang terjadi pada penerimaan KIPK.

KIPK yang seharusnya diberikan kepada mahasiswa dari keluarga kurang mampu, malah jatuh ke tangan mereka yang berasal dari keluarga berada.

“Saya marah dan jengkel. Hal itu sangat disayangkan terjadi. Miris sekali,” katanya, matanya menerawang.

Menurut Nona, ketidakadilan ini terjadi karena ada nepotisme, proses verifikasi yang longgar, dan kurangnya pengawasan dari pihak berwenang.

“Ada teman yang lebih pantas dapat, tapi malah tidak lolos,” tambahnya. Ia menyayangkan sistem seleksi yang belum sepenuhnya transparan dan adil.

Jika diberi kesempatan berbicara langsung kepada pemerintah atau pihak kampus, Nona ingin menyampaikan tentang perlunya evaluasi serius terhadap sistem ini.

Mulai dari ketepatan sasaran hingga kecepatan pencairan dana yang sering terlambat dan berdampak pada kehidupan mahasiswa penerima. Ia bermimpi, suatu hari nanti, KIPK bisa lebih kuat memberdayakan, membantu lebih banyak mahasiswa yang benar-benar butuh, menjaga keadilan dalam akses pendidikan, dan mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin di dunia akademik.

“Semoga program ini terus ada, semakin baik, dan benar-benar menjadi penyambung mimpi bagi yang membutuhkan,” harap Nona.

Ketika ditanya tentang mimpinya selepas lulus, wajahnya berbinar.

“Saya ingin jadi penerjemah. Dari dulu saya suka sekali belajar bahasa asing,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Bagi Nona, KIPK bukan sekadar bantuan dana. KIPK adalah penunjang pendidikan. Jembatan yang menghubungkan seorang gadis dari Hulu Sungai Selatan dengan dunia yang lebih luas, penuh harapan dan cita-cita.

Penulis: Dewi

Penyunting: Rabi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *