Banjarmasin, Warta JITU — Pengelolaan sampah dan kebersihan di Student Business Center (SBC) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) saat ini kembali menjadi sorotan. Sampah-sampah yang berserakan dan terus bertumpuk di area SBC kerap kali mengeluarkan bau tak sedap karena dibiarkan terlalu lama.
Kepala Komisi III bidang Aspirasi & Kelembagaan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) ULM Faldhy Mirpani mengungkapkan bahwa area SBC dikelola oleh pihak Rektorat ULM, namun saat ini tidak ada wadah pembuangan yang efisien sehingga sampah tersebut ditaruh sementara di depan parkiran SBC sebelum akhirnya diangkut.
“Mulanya sampah itu biasanya langsung dibuang ke tempat pembuangan dekat gerbang dua kampus, akan tetapi tempat membuang sampah dekat gerbang dua tidak dipakai lagi kemudian jadi seperti itu keadaannya sekarang,” ungkapnya.
Dari keterangan salah satu penjual di kantin SBC, Yuniu Adidah, mengatakan bahwa keadaan sampah yang berserakan dan menumpuk ini sudah terjadi kurang lebih sebulan yang lalu sejak pengelola sampah kantin berhenti bekerja.

Ia juga menambahkan bahwa awalnya ada yang menggantikan pengelola sampah yang resign. Setiap penjual di kantin harus membayar 10 ribu/minggu (di luar pembayaran bulanan sewa kantin) untuk bayar kebersihan dan ada sekitar 10 kantin di SBC. Jadi, pengelola sampah akan mendapat 100 ribu per minggu. Menurut Yuni, para penjual tidak ada yang keberatan. Namun, pengelola sampah yang baru tidak cukup dengan uang gaji itu karena bekerja dari pagi sampai sore.
“Beliau juga sudah melapor ke Rektorat untuk meminta gaji. Tapi dari pihak Rektorat tidak ada kepastian, cuma uang dari kami itu tidak cukup. Jadi, beliau memilih resign. Sementara penjual di kantin piket membersihkan kantin. Kalau sampah yang ditumpuk di depan itu diambil rutin sehari atau dua hari tidak masalah, tapi ini sudah seminggu jadinya bau,” tuturnya.
Menurut Yuni, piket bersih-bersih dari penjual ini tidak efisien karena kebanyakan mereka sibuk bersih-bersih tempat masing-masing. Jadi, yang membersihkan area kantin biasanya yang memiliki pegawai saja.
“Mahasiswa juga meninggalkan sampah di meja-meja, jadi yang memunguti sampah itu ya kami. Seperti sampah cangkir jus, pentol, tisu, mixue, kadang ada rokok. Harapannya untuk mahasiswa kalau ada sampah buang ke tempatnya jangan ditinggalkan di meja, terus juga minta tolong segera dicarikan tukang bersih-bersih,” tutup Yuni.
Editor: Mai
