Baik balon berbahan lateks maupun foil, sudah begitu akrab dengan kita. Entah itu balon yang diisi dengan gas helium atau hidrogen, atau mungkin balon yang diisi dengan udara biasa. Balon-balon ini sering digunakan dalam berbagai acara, seperti acara ulang tahun, anniversary, seremoni, perayaan kelulusan, dan masih banyak lagi acara yang bisa menggunakan properti balon.di dalamnya. Warna-warnanya yang begitu beragam membuat suasana acara terkesan lebih ceria. Untuk menjadikan acara lebih meriah, tidak sedikit pula penyelenggara acara memiliki agenda pelepasan balon ke udara dengan jumlah yang banyak dan tentu kita sudah sering melihat ini. Bahkan bisa jadi, balon-balon itu pernah mendarat di atap rumahmu?
Pelepasan balon ke udara sendiri melambangkan banyak hal.Pada beberapa kelompok masyarakat, ada yang menilai bahwa melepaskan balon seumpama pengiriman doa dan pesan ke surga, jiwa yang terbang ke surga, atau tanda pelepasan kesedihan seperti yang dikutip dari Twigs. Selain itu, dilansir dari detiknews, pelepasan balon memiliki makna melepaskan masa lalu yang buruk dan siap menghadapi serta menjalani masa kini, yang berarti balon juga bisa diartikan sebagai harapan.
Akan tetapi, di balik warna-warni dan filosofi yang mengagumkan, pernahkah kalian berpikir sejauh apa balon yang dilepaskan itu terbang? Apakah balon-balon itu pada akhirnya akan mendarat di Mars atau sekadar mengambang di luar angkasa? Jawabannya, tentu saja tidak. Mengutip dari Cool Cosmos, balon gas seperti ini hanya dapat mencapai ketinggian rata-rata 20 mil (32 kilometer) dan itu masih jauh dari batas permukaan luar angkasa yang dimulai sekitar 600 mil (960 kilometer) dari permukaan bumi. Sementara itu, dilansir melalui Balloonatics Party Shop, balon-balon helium berbahan lateks mampu bertahan sekitar 12-24 jam, sedangkan balon foil dapat bertahan selama 3-5 hari atau seminggu sebelum mulai mengempis.
Lalu, dimana tempat persinggahan terakhir balon-balon ini setelah mengudara ratusan kilometer? Inilah hal terburuknya, balon yang dilepaskan secara sengaja atau tidak, bisa mendarat di mana saja. Tak jarang balon-balon ini tersangkut di pepohonan dan tentu ada beberapa juga yang mendarat di laut. Meski ada beberapa produsen balon yang mengklaim bahwa produk balon miliknya sudah ramah lingkungan, tetapi bagaimanapun tidak ada balon yang tidak merusak dan membahayakan lingkungan, jika ia masih berbahan lateks atau foil—biasa juga disebut mylar. Hal itu karena sejatinya balon lateks membutuhkan waktu hingga 4 tahun untuk dapat terurai, sedangkan balon foil tidak dapat terurai menurut Cary Institute of Ecosystem Studies.
Sekarang, coba kita pikirkan, saat balon-balon ini dilepaskan dan mendarat di pepohonan atau hutan dan lautan. Tidak sedikit fakta yang dapat ditemukan bahwa burung-burung, penyu atau lumba-lumba salah mengira balon-balon yang sudah kempis itu adalah makanan atau ubur-ubur karena warna-warninya yang menarik, sehingga mereka memakannya dan berakibat pencernaannya terganggu. Ini berarti sisa-sisa dari balon yang diterbangkan ke udara tidak hanya benar-benar membahayakan lingkungan, tetapi juga ikan dan satwa liar. Dikutip dari Green Matters, para peneliti di Australia menemukan setidaknya satu dari lima burung laut sering mati karena memakan sampah balon tersebut. Tali atau pita yang mengaitkan balon satu sama lain turut berbahaya karena seringkali melilit tubuh hewan, sehingga membuatnya susah bernafas.
Balon-balon yang dilepaskan ini pun fatal bagi pesawatterbang karena dapat menghalau pandangan pilot atau bahkan lebih parahnya lagi balon bisa masuk ke baling-baling pesawat dan mengganggu kerja mesin. Selain itu, balon mudah terbakar atau meledak karena diisi dengan helium.Banyak sudah kita temui fakta mengenai balon helium yang meledak saat dilepaskan karena tersangkut tiang listrik, seperti yang pernah terjadi di kawasan pelabuhan Teluk Nibung, Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut) dalam acara HUT Kementerian BUMN pada 26 Februari lalu.
Melihat betapa buruknya dampak balon terhadap lingkungan, beberapa negara sudah menerapkan undang-undang terkait larangan melepaskan balon ke udara karena tindakan tersebut sama saja dengan membuang sampah sembarangan. Negara-negara itu adalah Australia, negara bagian Amerika Serikat, dan Inggris.
Jika kamu akan mengadakan sebuah acara dan berniat untukmenggunakan balon sebagai properti, entah ingin dilepaskanke udara atau tidak, maka pikirkanlah baik-baik dampak buruknya bagi lingkungan. Ada banyak alternatif yang dapat menjadi pilihanmu untuk memeriahkan acara bahagiamu itu, seperti meniup gelembung, menggunakan dekorasi fabric atau paper bunting, karangan bunga atau yang lebih bermanfaat lagi adalah menanam pohon.
Penulis: Ummu Hani
Sumber foto: iNEWS
