Tuhan, apa kau akan menerima kertas seperti ini?
Nayara Aditama itu aku, hidupku kadang di jalan yang benar tapi tak jarang juga aku berpaling. Aku merasa memang begitulah kehidupan manusia, tidak mungkin ada yang lurus saja kan? Saat ini aku berkuliah, namun kadang menjadi kupu kupu malam. Untuk apa kita cepat cepat bertobat, bukankah kita masih muda? Itu pikirku dulu sebelum kematian hampir menimpaku.
Malam itu kupikir hanya seperti malam biasanya, tanpa ada kejadian yang menghebohkan di rumah sakit. Tapi ternyata Tuhan menunjukkan jalan hidupku yang lain. Penyakit yang menggerogoti tubuhku ternyata sudah parah, sesak napasku tak tertahankan. Kukira ini sudah menjadi waktuku untuk kembali, jujur saja tidak pernah kurasakan takut yang sebesar ini. Syukurnya tim medis cepat datang ke rumahku dan nyawaku berhasil tertolongkan. Waktu berlalu dan aku mulai pulih, walaupun aku harus selalu minum setumpuk obat pahit itu.
Nongkrong seperti biasanya menjadikanku bersemangat pagi itu, bermain bersama teman dan bertemu pacarku sungguh sangat menyenangkan, andai selalu begitu harapku. Pagiku ternyata disambut kenyataan bahwa pacarku berselingkuh dengan temanku, dan ajaibnya banyak yang menyebut mereka serasi. Ah pikirku kenapa hidupku menjadi kacau sekarang dari sakit itu. Kehilangan teman, hingga kehilangan pacar. Terlebih lagi karena masalah ini membuat nilai kuliahku kacau, dosenku menegur dan meminta agar aku bisa mempertahankan nilaiku. Masalahnya aku juga manusia kenapa harus selalu baik-baik saja dan selalu memenuhi ekspektasi yang lain.
Lengkap sudah rasaku semua permasalahan ini, apa yang salah dalam hidupku? Saat hidupku kacau-kacaunya aku mulai berpikir, apakah Tuhan sudah acuh terhadapku? apakah aku sudah terlalu jauh darinya? Iya sangat jauh ternyata. Karena rentetan masalah mendatangiku dan membuatku berada dititik yang rendah aku mulai mencari pegangan, dimana pegangan itu kudapati pada Tuhanku. Tapi apakah aku akan diterima kembali?
Saat berpikir seperti itu aku tidak langsung berubah, mustahil pikirku untuk bisa kembali pada hakikat kehidupan ini. Perbuatanku tidak berbeda dari masa lalu, selalu penuh dengan kelalaian dan mulai diluar batasan. Tapi ada satu kejadian dimana itu bisa membuatku berpikir untuk berubah. Malam itu aku sedang sakit dan sesak napas kembali, aku mendengar ada suara orang yang berzikir terus menerus hingga aku tenang dan tertidur.
Kejadian ini sebenarnya membuatku sangat takjub, apakah pertolongan Tuhan itu benar benar adanya? Beberapa waktu setelah kejadian ini aku mulai ikut kegiatan keagamaan seperti pengajian dan lain sebagainya. Saat di pengajian aku sangat terkejut karena tiba tiba ada yang mengejek ku “hei kenapa kau menulis dengan tangan kiri? Itu tidak boleh”. Aku hanya bisa diam dan berpikir, apakah agama sekeras ini? Apakah Tuhan tidak lemah lembut kepada hambanya? Padahal ini hanya perkara tangan, bagaimana dengan yang lainnya.
Lalu karena ada temanku yang bersekolah di pondok pesantren, aku pun bertanya kepadanya bagaimana kehidupannya di sana, dan dia jawab “seru sekali disini, aku mendapat pacar yang sholeh dan selalu mengingatkanku dengan ibadah”. Aku pun berpikir lagi sejak kapan agama menjadi selucu ini? bahkan di tempat sekelas pondok pesantren pun tidak luput menjadi sarang dosa. Karena itu kupikir sah-sah saja jika aku tidak bertobat, toh mereka yang paham agama saja begitu.
Banyak hal yang menggoyahkanku dalam menempuh jalan untuk kembali kepada Tuhan, salah satunya dengan ajaran yang hanya menunjukkan berbagai murka Tuhan atas dosa kita, apakah Tuhan sepemarah itu? Jika begitu, apakah kita hanya beribadah karena takut kepada neraka bukan kepada Tuhan? Lalu bagaimana cara mendapatkan surga jika tempat kumpulan ilmu surgawi saja tidak mengubah kelakuan manusia? Sungguh pusing kepalaku memikirkannya.
Karena tak kunjung mendapatkan apa yang kucari dari agama, aku pun masih tetap melakukan pekerjaanku sebagai ‘kupu kupu malam’. Dulu kukira dengan mendapatkan uang ketenangan akan mudah kucari, tapi hingga saat ini aku masih terus gelisah seakan ini bukan menjadi jalan yang seharusnya kutempuh. Kulihat di sepanjang jalan, ada banyak sekali lansia yang berjuang untuk hidup dengan memunguti sampah. Tapi kulihat mereka tertawa riang bersama anak kecil yang mereka bawa, apa yang membuat mereka terasa damai?
Ana, sahabat sekaligus teman satu indikosku mengajak aku untuk pergi ke daerah kumuh dan melakukan bakti sosial, jujur saja aku kurang suka pergi ke tempat seperti itu dan bukankah lebih nyaman bersantai di rumah? Tapi ya sudahlah paksaannya ini terlalu kuat. Saat aku tiba di sana aku melihat ada seorang ibu yang menggendong anaknya dan terlihat sedang berjualan gorengan dengan nampan di atas kepala. Kupanggil ibu itu dan kubeli gorengannya, iseng aku bertanya kepada ibu itu “kenapa mau saja berjualan gorengan, bukannya masih banyak pekerjaan lain yang lebih menguntungkan?” Dan jawaban si ibu sungguh mengejutkanku, ibu itu bilang “tidak apa-apa jika hanya lelah sedikit, asalkan halal dan Tuhan meridhoinya”. Ridho Tuhan, apa itu baru kali aku dengar.
Bergegas aku kembali dan mulai mencari apa itu ridho Tuhan di google, banyak hal baru yang pertama kali kudengar tentang ini, tapi ada satu hal yang membuatku terpaku lama. Karena itu kutahu bahwa yang membawa kita ke surga bukanlah karena amal kita tapi karena ridho Tuhan, dan untuk mendapatkannya itulah kita harus mematuhi perintah-Nya. Ternyata agama yang kucari selama ini penuh dengan kasih dan sayang-Nya.
Ku akhiri semua kenakalanku, dan mulai berbenah diri untuk menuju pencipta. Aku mencoba menghapus semua tinta hitam di kertas kehidupanku, semua hal yang baik mulai ku pelajari seperti sholat dan mengaji. Pekerjaanku sebagai kupu-kupu malam juga tidak kulakukan lagi, dengan harapan semoga kedamaian dapat ku miliki, dan catatan di kertas usang ini dapat Tuhan ridhoi.
Penulis: Yasmina
Editor: Maimunah
