Mala

Sharing is Caring
       
  

“Mala, kau adalah orang paling jahat di muka bumi. Kau mengambil separuh umurku tapi secara bersamaan kau juga mengambil seluruh hatiku. Sepuluh tahun yang menyedihkan dan menyakitkan itu kuhabiskan hanya untuk mencintaimu.”

ANISA, MALA

“Arsen … kita kayaknya udah ngga bisa sama-sama lagi. Maaf.”

Mala langsung beranjak dari kursi tanpa menunggu jawabanku. Detak jantungku semakin lemah. Deru nafas yang kian memburu membuatku susah payah mengambil nafas. Aku masih tidak percaya kalimat itu harus muncul dari mulut orang yang begitu kucintai. Ia perempuan yang selama dua tahun terakhir begitu kupuja. Kedua bola mataku masih menatap kursi kosong tempat perempuan itu mengatakan kalimat sialan. Hari itu tepat dua tahun kami berpacaran. Aku sudah jauh-jauh hari mempersiapkan kejutan kecil untuknya. Kupesan  kue red velvet bertuliskan, “happy anniversary peri kecilku”. Dan bagian paling menyedihkan, ia bahkan tidak mengetahui dalam saku celanaku terdapat kotak kecil yang seharusnya isi kotak itu sudah bertengger di jari lentiknya. Sayangnya, kalimat sialan itu lebih dulu keluar memporak-porandakan seluruh rencana manis yang telah kutata dengan rapi.

Kringg … kringg … kringg

“Ah, mimpi itu lagi.”Monologku.

Sepuluh tahun berlalu, ingatanku dengan kejadian hari itu masih melekat. Mimpi-mimpi yang sama terus menghantui. Hanya satu yang kupikirkan setiap terbangun dari mimpi-mimpi itu, Mala. Bagiku separuh hidupku adalah Mala. Nirmala, perempuan berdarah Jawa-Sunda itu seolah mencuri duniaku. Rambut hitam legam dengan sedikit gelombang. Senyum tipis yang selalu membuat jantung berdebar. Parfum vanilla yang tak pernah absen ia pakai, aku paham betul semua tentangnya. Aku memahami Mala melampaui diriku sendiri, tetapi hari itu Mala membuktikan bahwa aku keliru. Andai Mala tahu jarak dan waktu tak akan mampu menghapus ia dalam diriku. Andai hari itu ia tidak pergi mungkin setiap pagi akan kulihat ia di sampingku, atau mungkin rumah ini sudah diisi dengan suara tangis dan tawa dari malaikat kecil. Berandai-andai membuatku hampir lupa dengan hal penting yang harus kulakukan hari ini. Bergegas kuambil handuk dan bersiap menuju suatu tempat.

Dalam catatanku hari ini ke-250 kali aku mendatangi restoran ini. Sudah banyak yang berubah, karyawan laki-laki sudah seimbang jumlahnya dengan karyawan perempuan, manager resto dari bujangan hingga telah punya tiga orang anak meski kabarnya ia memiliki simpanan sebuah rumor yang kudengar dari beberapa karyawan yang bergosip saat jam istirahat, pengemis yang sering duduk di depan pintu juga telah beralih profesi menjadi penjual bakso keliling, kepiting rebus yang telah dihapus dari daftar menu, dan Mala yang juga ikut terhapus dalam hidupku ditempat ini. Namun, ada satu bagian yang tidak berubah, meja 22. Tempat terakhir kali aku menatap mata indah Mala. Aku duduk di meja itu, meja favorit sekaligus meja paling kubenci di resto ini. Setiap tanggal tujuh Februari aku akan membawa kue dan bunga lalu menatap kursi kosong di depanku. Entahlah, aku hanya senang melakukannya. Kegiatan gila itu tidak pernah absen kulakukan bahkan aku membayar mahal agar meja itu tidak digunakan orang lain selain aku atau mungkin suatu hari nanti kembali kutempati dengan Mala. Tatapan orang-orang di sekitar seolah mengisyaratkan isi pikiran mereka. “Gila kah pria itu?” Jika mereka bisa mendengar pertanyaaan itu sebenarnya sudah kujawab dalam hati, ya aku gila karena Malaku. Kuambil kunci dalam saku celana menuju parkiran. Dengan cepat mobilku melaju membelah jalanan kota. Kuakui kewarasanku sudah lenyap bersamaan dengan lenyapnya Mala dalam hidupku. Sesekali aku menertawakan diriku sendiri. Pria berumur 38 tahun masih menunggu dan mencintai wanita yang sekarang entah di mana berada. Tanpa peduli apakah wanitanya masih mencintainya atau barangkali sudah berbahagia dengan pria lain. Aku hanya meyakini, Mala pasti kembali. Sepuluh tahun bukanlah hal yang mudah. Hari-hari kuisi hanya dengan bekerja, bekerja, dan bekerja. Sebagai pewaris tunggal Aditama Corp, bertemu dengan tumpukan kertas setiap hari membuat hidupku monoton. Mobilku berhenti di basement kantor. Cepat-cepat aku masuk ke ruang kerja dan meminum beberapa pil obat penenang. Pikiranku benar-benar kacau, wajah Mala seolah berputar-putar di kepalaku.

Tok … tok … tok

”Masuk!”

“Permisi Bos, besok ada jadwal peresmian panti di Jogja.”

“Ya, kamu atur saja.”

Brakkkk

“Arsen, semua obat ini kau habiskan?”Sambil memegang kotak obat.

”Hm.”

“Kau gila? Kau ingin mati konyol hah?”

“Aku memang sudah lama mati, Raka.”

“Obat untuk satu minggu kau habiskan sekali minum, Apa yang ada di kepalamu?”

“Mala.”

Hahh. Kudengar helaan nafas Raka. Jika sudah begitu ia pasti sedang marah. Meski dengan mata terpejam aku tahu betul bagaimana sifat Roy. Itulah sebabnya ia menjadi sahabat sekaligus sekretaris perusahaanku.

“Sampai kapan kau hidup seperti ini, Sen?”

Aku menyimak tanpa berminat menjawab pertanyaan yang sudah puluhan kali ia tanyakan.

”Aku ingin kau hidup normal. Tanpa obat penenang, tanpa perayaan aneh di resto, tanpa mimpi-mimpi buruk, semua bisa kau hilangkan dengan melupakan perempuan itu.”

“Tugasmu mengatur jadwalku, Raka. Bukan mengatur siapa yang harus kuingat dan kulupakan.”

Tanpa menjawab Raka pergi meninggalkan ruanganku. Hari semakin sore, dibalik kaca kutatap pemandangan senja yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit dan lalu lalang kendaraan hilir mudik. Semua orang tengah berlomba-lomba menuju rumah masing-masing untuk melepas penat. Sepotong kenangan kembali mendatangi isi benakku. Aku kembali teringat bagaimana aku dan Mala menikmati senja hari itu.

“Hari ini kamu cantik, secantik senja yang mewarnai langit kota.”

Mala tersenyum, “Berarti sewaktu-waktu aku bisa pergi jika waktunya telah tiba.”

Aku menoleh, “Maka akan kutunggu kau kembali esok hari.”

Aku tersenyum kecut, “Mala, kamu benar-benar membuktikan ucapanmu. Sayangnya, aku juga membuktikan ucapanku hari itu. Aku masih menunggumu. Ayolah kembali.” Monologku.

Pagi ini aku tiba di Jogja setelah melakukan perjalanan selama dua jam. Aku langsung mendatangi panti asuhan yang akan kuresmikan. Acara berjalanan dengan lancar, wajah semua anak dengan rumah baru mereka terpancar dengan jelas. Hanya saja sedari tadi kulihat ada satu anak yang terus diam dengan wajah murung. Bu Dela pengurus panti pun mengatakan anak itu lebih sering menyendiri di kamarnya. Aku menjadi penasaran apa yang membuatnya begitu sedih.

“Hey, boy. Apa yang kau lakukan di kamar? Ayo bermain bersama teman-teman di luar.”

Anak itu diam. Bahkan tidak melirikku sama sekali.

“Kau tak suka kamar ini, hm?”

Ia masih diam. Matanya sedari tadi masih menatap tumpukan amplop di hadapannya. Aku penasaran apa isi amplop itu dan apa yang membuat anak ini terus menatapnya tanpa henti, tetapi aku tidak ingin terus menanyainya sehingga kuputuskan untuk beranjak pergi mencari beberapa mainan yang mungkin bisa membuatnya bicara. Baru dua langkah kakiku berjalan anak itu mengatakan sesuatu yang membuat langkahku terhenti.

“Siapa Om sebenarnya?”

Aku menoleh, “Maksudmu, Nak?”

Ia berbalik menoleh ke arahku, lalu perlahan turun dari kursi yang ia tempati sembari menyodorkan tumpukan amplop padaku. Kuraih amplop itu dengan wajah bingung. Dan yang pertama kali kulihat tertera namaku pada setiap bagian depan amplop. Aku terkejut bukan main. Beberapa saat kami saling memandang dalam keheningan hingga anak itu membuka suara.

“Semua amplop itu milik ibuku. Kupikir ibu menuliskannya untukku, tetapi nama itu sedikit berbeda dari namaku. Dan aku baru mendengar nama Om tadi pagi sama persis dengan nama yang tertera di amplop itu.”

“Siapa namamu, Nak?” Tanyaku penasaran.

“Arsenio.”

Lagi-lagi aku terkejut. Bagaimana bisa anak ini memiliki nama yang hampir mirip denganku dan yang membuatku semakin bingung mengapa namaku bisa tertera di amplop itu. Apakah surat itu untukku? Ah, dia mengatakan amplop itu milik ibunya bagaimana bisa surat itu ditujukkan untukku. Apakah aku mengenal ibunya?Atau ibunya mengenalku?

“Jika ini milik ibumu, bolehkah Om tahu siapa nama ibumu?”

Ia terdiam sejenak lalu menjawab, “Nirmala.”

Kakiku seketika lemas. Anak yang ada di depanku adalah anak dari perempuan yang kucintai selama ini. Anak dari perempuan yang kutunggu hingga sepuluh tahun. Apakah itu artinya Mala telah menikah dan memiliki anak? Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Jika benar Mala yang menulis semua isi amplop itu lalu di mana dia sekarang? Mengapa dia menitipkan anaknya di panti asuhan? Ke mana dia selama ini? Seluruh pertanyaan membabi buta menyerang isi kepalaku. Aku ingin menanyakan pada anak itu, tetapi apa aku bisa mendapat semua jawaban itu dari anak delapan tahun? Ia pasti tak mengerti apa-apa tentang aku dan ibunya. Mataku tertuju pada amplo-amplop yang kugenggam. Aku memberanikan diri membuka satu per satu amplop. Lembar surat perlahan kubuka. Kutarik nafas untuk memulai membaca isi surat.

***

Jogja, 8 Mei 2011

Arsen Aditama,

   Arsen, minggu lalu ibuku datang ke panti menemuiku. Aku senang karena ia mengatakan ingin tinggal bersamaku dan menyesal pernah menitipkanku di Panti Asuhan, tapi beberapa hari setelahnya aku baru mengetahui bahwa ia hanya ingin memanfaatku agar aku dapat menguras hartamu untuk kesenangannya dan suami barunya. Ya, dia datang padaku karena uang dan karena ia mengetahui aku berpacaran denganmu. Selama itu ia terus mendesakku agar meminta uang padamu tapi aku selalu menolak.

Aku memutuskanmu tepat dihari anniversary kita. Maaf. Hanya itu yang bisa kukatakan. Tidak ada yang bisa kulakukan selain meninggalkanmu, Sen. Bagimu uang memang tidak ada apa-apanya tapi bagiku cinta tidak sepantasnya harus ternodai karena materi. Aku tidak ingin datang dengan wajah karena uang di hadapanmu seperti apa yang ibuku lakukan. Hari itu juga aku pergi dari Jakarta dan ikut ibuku ke kampung halamannya di Jogja. Ia menjualku dengan anak juragan tanah. Kami menikah bukan karena cinta. Ia hanya mencintai tubuhku bukan aku. Setiap hari aku dipukuli karena ia mabuk. Aku juga harus makan makanan sisa layaknya kucing jalanan. Hidupku memang hancur, Sen. Aku meyakini pilihan yang kuambil dengan meninggalkanmu sejauh yang aku mampu entah aku akan berbahagia atau justru menyesal semuanya akan kutanggung sendiri. Setiap hari aku hanya meminta pada Tuhan agar kau menemukan wanita yang lebih baik dariku.

Aku mencintamu,

Nirmala

***

Jogja, 12 Juli 2011

Arsen Aditama,

Dua bulan sudah aku menikah, Sen. Selama itu juga aku selalu dipukuli. Tinggal di rumah ini tidak ada warna selain hitam yang kulihat. Kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Aku tidak menangis. Aku tidak bersedih. Aku juga tidak kesakitan. Aku hidup tenang di sini sekalipun aku harus mati di tangan suamiku, mungkin jenazahku nanti akan menampilkan senyum terbaik. Sebab, tidak ada lagi yang mengharapkanku. Ibuku dengan tega membuangku. Ia bahkan tidak pernah sekalipun menjengukku seolah aku barang yang selepas dijual ditinggal begitu saja dengan pemilik baru. Aku sudah mengikhlaskan semuanya,Sen. Mengikhlaskan takdir yang kupilih. Tapi jika sampai detik ini aku masih mencintaimu, Apa aku berdosa? Apa aku akan dihukum Tuhan? 

Nirmala

***

Jogja, 10  Januari 2012

Arsen Aditama

Arsen, hari ini aku melahirkan anakku. Aku dibantu oleh tetangga sekitar. Suamiku? Ah jangan tanya dia, seperti biasanya mungkin ia masih bersenang-senang bersama wanita lain. Ia memang tidak peduli denganku dan anakku. Tapi tidak mengapa semua sudah terbiasa kulalui. Dan rasa sakit hatiku padanya terobati dengan melihat wajah anakku. Dia tampan seperti dirimu mungkin karena selama mengandung wajahmu yang selalu kuingat bukan wajah suamiku. Aku beri nama ia Arsenio.

Nirmala

***

Jogja, 10  Januari 2014

Arsen Aditama,

Arsen, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu. Ya, aku memang tidak tahu diri setelah meninggalkanmu aku dengan mudahnya mengatakan rindu. Jika kau tahu barangkali kau akan merasa muak mendengar kalimat itu. Atau kau juga akan menjauhiku. Sekarang aku mengerti arti kehilangan. Aku kesepian. Mungkinkah aku meminta kisah kita dipersatukan Tuhan kembali? Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benakku hari-hari kulalui tanpa dirimu. Aku selalu menitipkan doa untumu. Sayangnya, aku tak mampu melawan restu-Nya.

Nirmala

***

Jakarta, 20 September 2016

Arsen Aditama,

Aku membencimu Arsen. Sangat membencimu. Hari ini aku tiba di Jakarta dan tanpa sengaja melewati resto tempat terakhir kali kita bertemu. Aku ingin duduk di sana sembari mengingat betapa bodohnya apa yang kulakukan padamu. Dan kau tau? Aku diusir. Mereka mengatakan meja itu telah dibooking oleh seorang pengusaha dan tidak boleh ada yang menempatinya. Setelah kucari tahu ternyata kau yang melakukannya. Yah, kau memang gila, Sen. Sangat gila. Seperti apa yang dikatakan orang-orang saat kau tidak ada. Kau membuang uang hanya untuk sebuah meja dan untuk dikatai gila. Mengapa kau melakukan itu? Mengapa kau senang tidak bisa melupakanku? Apa yang kau harapkan dari perempuan sepertiku? Seharusnya sekarang kau telah menikah dan memiliki keluarga yang bahagia layaknya di negeri dongeng.

Nirmala

***

Jogja, 22 Oktober 2019

Arsen Aditama, Arsenio, dan semua orang yang kucintai…

Tuhan, jika suatu hari nanti aku harus pergi, semoga orang-orang yang kucintai tidak merasakan kesedihan sedikitpun. Aku ingin mereka hidup dengan penuh gurat senyum di wajah. Aku ingin selepas kematian datang padaku mereka dengan mudah melupakanku. Hari-hariku semakin melelahkan. Hanya dua alasan mengapa aku bertahan hingga detik ini. Arsen dan Arsenio anakku. Jika bukan karena mereka mungkin tetangga sudah menemukanku tergantung dengan tali di rumah ini.

Arsen, Setiap malam kupanjatkan doa pada Tuhan agar aku diberi kesempatan untuk bertemu denganmu sekali saja.Aku ingin meminta maaf atas rasa sakit yang telah kuberi padamu. Jika memang Tuhan tidak mengabulkannya, aku berharap kita dipertemukan dikehidupan lain.

Dan, Arsenio. Maaf ibu tidak bisa memberikan keluarga yang lengkap untukmu. Maaf jika hari-harimu hanya melihat ibu disiksa oleh ayahmu sendiri. Jika kau sudah dewasa berjanjilah pada ibu, Nak. Kau tak akan seperti ayahmu. Jadilah anak yang baik. Ibu mencintaimu.

Salam cinta

Nirmala

***

“Sekarang di mana ibumu? Di mana Malaku? Di mana kekasihku? Di mana!”

Dengan tangan gemetar anak itu berusaha menjawab pertanyaanku. Ia bahkan tidak berani menatap mataku.

“Ibu … ibu sudah meninggal enam bulan lalu.”

“Apa? Malaku meninggal? Jelas-jelas di surat ini Malaku menuliskan ia ingin bertemu denganku. Ayo antar aku bertemu dengan ibumu!”

Kugenggam tangan anak itu dengan kencang. Bahkan, pergelangan tangannya sudah mulai memerah. Kali ini ia benar-benar semakin gemetar, aku bahkan bisa merasakan gurat ketakutan di wajah polosnya, seketika suara tangis memenuhi setiap pori-pori udara di kamar itu. Orang-orang berdatangan menyaksikan kami berdua. Raka berusaha menenangkanku dan anak itu dibawa oleh pengurus panti untuk ditenangkan. Keadaannya saat itu benar-benar kacau.

“Ada apa dengamu, Sen? Mengapa kau berteriak seperti itu kepada anak kecil.”

“Raka, anak itu. Anak itu berani-beraninya ia mengatakan bahwa Malaku telah meninggal.”

Kusodorkan seluruh amplop padanya. Dengan wajah bingung, Raka menerimanya dan membaca satu per satu.

“Arsen, tenangkan dirimu. Kita bisa cari tahu semuanya dengan kepala dingin.”

“Kau harus menemukan Malaku, Raka. Bahkan jika apa yang anak itu katakan benar, bawa aku pada makam kekasihku.”

Seminggu setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk tetap berada di Jogja sampai aku benar-benar menemukan Mala.

Tok … tok … tok

“Masuk”

Raka masuk dengan langkah perlahan.

“katakan!”

“Bos, aku menemukannnya.”

Wajahku seketika mengembang, “Mana Mala, mengapa tidak langsung kau bawa ke sini.”

Dengan wajah yang masih menunduk, Raka menjawab, “Makam.”

aku tersenyum kecut, “Bawa aku ke sana.”

Nirmala binti Supardi.

Aku membeku. Batu nisan itu benar-benar bertuliskan nama kekasihku. Air mataku jatuh membasahi tiap gumpalan tanah yang menutupi tubuh orang yang begitu kucinta. Aku tak pernah menangisi apapun dalam hidupku. Namun, hal itu tak berlaku untuk Mala. Malaku pergi bukan pergi seperti sebelumnya. Ia pergi ke tempat lebih jauh bahkan lebih jauh dari menghilangnya ia selama sepuluh tahun.

“Mala, kau adalah orang paling jahat di muka bumi. Kau mengambil separuh umurku tapi secara bersamaan kau juga mengambil seluruh hatiku. Sepuluh tahun yang menyedihkan dan menyakitkan itu kuhabiskan hanya untuk mencintaimu. Bukan ini yang kuharapkan, Mala. Bukan pertemuan seperti ini. Kutegaskan sekali lagi, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu sayang. Jika aku harus menukar seluruh yang kumiliki untukmu maka akan kulakukan. Semuanya boleh hilang asal bukan kamu, sayang.”


Anisa, perempuan yang kerap disapa ica ini merupakan mahasiswi kelahiran Amuntai, 6 Mei 2002. Kegemarannya membaca cerpen menginspirasinya untuk mulai menulis. Selain menulis cerpen, ia juga menulis beberapa puisi yang termuat dalam antologi puisi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang berjudul “Menjenguk Kenangan”.

Penulis: Anisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *