Mahasiswa selalu dihadapkan dengan tugas dan organisasi. Menjalani kegiatan yang padat ini tentu saja membutuhkan waktu, tenaga, dan mental, belum lagi masalah seperti terlambat masuk kelas, dimarahi dosen, organisasi, masalah percintaan, dan lain sebagainya. Semua ini memberi tekanan pada fisik, mental, maupun emosi. Semua tekanan ini pada akhirnya akan meledak. Salah satu respon tubuh untuk melindungi dari stres yang menumpuk ini adalah dengan Freeze Mode.
Dilansir dari Kompasiana.com, freeze mode merupakan respon yang dilakukan tubuh berupa tindakan tidak melakukan apapun (hampa dan beku). Kondisi ini adalah respon alami dari alam bawah sadar secara naluriah. Terlalu banyak agenda, beban pikiran, dan kejadian traumatis membuat alam bawah sadar berusaha melindungi diri dari tekanan dengan mengaktifkan freeze mode. Ketika freeze mode ini aktif, tubuh dan pikiran akan di freeze sementara untuk memberikan efek tenang dan nyaman dalam jangka pendek.
Lebih jelasnya, freeze mode ialah sebuah situasi ketika pikiran terus menerus teralihkan dari hal yang sebenarnya ingin dilakukan. Semua orang pasti pernah mengalami situasi ini. Situasi di mana pikiran dan tubuh tidak tertarik untuk melakukan apapun bahkan hanya untuk mengambil segelas air saat haus. Gejalanya seperti scroll handphone berjam-jam, berbaring dalam waktu yang lama, tidak ingin melakukan apapun padahal banyak kegiatan, bahkan malas untuk makan. Jika freeze mode tidak segera diakhiri, justru malah memperburuk keadaan. Freeze mode membuat kita terjebak dalam zona nyaman yang sebenarnya mengancam. Terlalu malas untuk melakukan kegiatan tetapi jika tidak dilakukan malah menjadi beban pikiran dan pada akhirnya kondisi ini hanya membuat semakin merasa terbebani. Stres yang tadinya ringan malah semakin berat karena pemicu beban pikiran yang sebenarnya sepele tidak ditangani.

“5 menit lagi deh,” atau, “Nanti dulu, episode yang ini belum selesai,” tetapi setelah melewati waktu yang dijanjikan malah stuck pada kegiatan itu hingga berakhir dengan, “Ya sudahlah besok saja”. Pada akhirnya tidak ada kegiatan yang diselesaikan di hari itu dan hanya muncul penyesalan di kemudian hari, seperti, “Seharusnya aku kerjakan kemarin,” atau, “Tenggatnya hari ini tapi aku belum menyelesaikan apapun,” dan lain sebagainya. Atau perasaan lain seperti hampa, merasa tidak punya teman padahal punya tetapi malas untuk berinteraksi. Inilah yang sebenarnya menjadi masalah.
Mahasiswa pasti sangat relate dengan hal ini. Mengeluhkan tugas yang menumpuk padahal diri sendiri yang enggan menyelesaikan karena merasa tidak sanggup padahal belum mencoba sama sekali. Mengikuti organisasi untuk menambah relasi ternyata juga menambah beban pikiran. Puncaknya adalah ketika libur semester yang ditunggu-tunggu. Banyak agenda yang telah direncanakan jauh-jauh hari, tetapi karena terlalu “malas” akhirnya hanya beberapa kegiatan yang dilakukan dan malah lebih banyak bermain handphone. Ada juga yang menganggap libur semester sebagai waktunya hibernasi sepuasnya.
Setelah libur semester berakhir, kebanyakan mahasiswa masih terlarut dengan rasa nyaman itu sehingga siklus yang sama kembali terulang. Tugas dianggap sebagai beban, setiap ada waktu selalu digunakan untuk scroll handphone dan kegiatan yang tidak berguna lainnya. Hingga ketika dihadapkan dengan masalah lain seperti nilai yang anjlok, ia mengeluhkan kalau hidupnya terlalu berat untuk dijalani. Kenyataannya, ia sendiri yang membiarkan dirinya terjebak dalam freeze mode yang berkepanjangan. Lebih parah lagi malah memilih healing dan kuliahnya terbengkalai. Setelah pulang healing disuguhi lagi dengan tugas yang ia tinggalkan, akhirnya menyalahkan dosen karena terlalu kejam memberi banyak tugas.
Jika kegiatan ataupun tugas dianggap sebagai beban, mindset seperti itu harus segera diubah.
“Tugas adalah kewajiban agar nilai tetap aman.”
“Harus produktif setiap hari agar hidup lebih bermakna.”
Mendengar kalimat seperti itu yang ada mahasiswa malah semakin tertekan. Mereka juga tahu bahwa mereka harus menyelesaikan tugas mereka, mereka tahu bahwa mereka sebenarnya tidak punya banyak waktu untuk bermalas-malasan. Masalahnya, rasa malas itu ternyata adalah respon alami untuk tetap menjaga kewarasan. Sangat sulit memang ketika rasa malas itu menghampiri, tetapi mau tidak mau kita harus segera menyadarkan diri agar tidak terlarut lebih lama.
Lebih mudahnya, daripada menekan diri dengan pikiran tentang kewajiban dan masa depan, akan lebih mudah jika menerapkan mindset seperti, “Ayo kerjakan sekarang supaya nanti malam bisa tiduran nonton film sepuasnya,” dengan begitu setidaknya akan ada sedikit motivasi untuk bergerak. Cobalah untuk tidak terus-menerus menunda pekerjaan, selesai di awal maupun di akhir, pada akhirnya pekerjaan itu tetap harus dikerjakan walau dengan paksaan. Jadi, daripada belum dikerjakan dan terus jadi beban pikiran, lebih baik kerjakan sekarang walau terpaksa dan bermalas-malasan setelah selesai.
Akan lebih baik lagi jika setelah mengerjakan tugas, sesekali pergi untuk mengisi waktu luang dengan hobi. Misalnya bermain basket, olahraga, membaca buku, dan kegiatan lainya yang membuat tubuh dan otakmu ter-refresh. Lalu, jika merasa tidak punya teman, coba buka mata dan lihatlah sekitar. Ada banyak orang yang menyayangi dan bersedia membantu jika kamu terjebak dalam masalah. Hidup ini memang berat tetapi terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja. Rencanakan hidupmu kedepannya secara perlahan, tidak ada yang menang maupun tertinggal karena garis start setiap orang berbeda-beda. Jadi, tidak perlu terburu-buru dan menuntut diri. Hidup hanya sekali jadi nikmati hidup ini and let it flow, tetapi harus tetap memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa.
Tidak ada yang salah dengan freeze mode, tidak salah juga jika ingin bermalas-malasan sebentar. Bersenang-senang sesekali juga tidak masalah. Semua itu untuk menjaga kesehatan mental dari tekanan dunia yang selalu sibuk dan menuntut. Hal yang terpenting, jangan biarkan dirimu terlarut dalam semua itu dan terjebak dalam zona nyaman.
Penulis: Lia
