Gandeng Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Kemenbud Gali Masukan untuk Buku Sejarah Indonesia

Gandeng Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Kemenbud Gali Masukan untuk Buku Sejarah Indonesia

Sharing is Caring
       
  

Direktorat Sejarah dan Permuseuman Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementrian Kebudayaan RI bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan Diskusi Publik Draf Penulisan Buku Sejarah Indonesia pada Senin (29/7) yang bertempat di General Building Lecture Theater Universitas Lambung Mangkurat. Acara ini dimulai dari pukul 8.00 WITA hingga selesai.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional, akademisi, hingga komunitas sejarah sebagai upaya penyempurnaan draf buku sejarah nasional yang tengah digarap oleh Kementerian Kebudayaan. Kegiatan dibuka dengan laporan pelaksanaan program dan sambutan dari berbagai pihak, lalu dilanjutkan dengan sesi utama yang menghadirkan para editor buku sejarah nasional.

Restu Gunawan selaku Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi dalam sambutannya menyampaikan rencana penulisan buku sejarah ini telah melalui proses diskusi bersama para editor sejak akhir tahun lalu, meskipun pelaksanaannya baru dimulai pada awal tahun ini. Ia menegaskan bahwa penulisan ini juga menjadi bagian dari peringatan 80 tahun Kemerdekaan Indonesia.

“Sebetulnya gagasan penulisan buku sejarah ini sudah mulai dibicarakan sejak Oktober tahun lalu. Lalu, pada November kami mulai menjalin komunikasi intensif dengan para editor umum, dan akhirnya mulai dikerjakan pada Januari. Jadi kalau ada yang menyebut ini tergesa-gesa, rasanya tidak demikian,” jelasnya.

Restu juga menambahkan bahwa melalui kegiatan ini, ia berharap seluruh peserta yang hadir dapat memberikan masukan terhadap penulisan draf buku sejarah tersebut. Masukan tersebut dinilai penting agar kekurangan isi maupun bagian-bagian sejarah yang belum banyak ditulis dapat dilengkapi.

“Saat ini, draf buku masih berada pada tahap 80 sampai 90 persen. Masih ada ruang terbuka untuk perbaikan. Jika ada ide, gagasan, atau hal-hal yang belum tercantum dalam buku ini, bisa disampaikan langsung kepada para editor yang akan memaparkan materi dalam sesi berikutnya,”harapnya.

Di sisi lain, Agus Mulyana selaku Direktur Sejarah dan Permuseuman menyampaikan bahwa fokus utama dalam penulisan buku ini terletak pada penguatan narasi kebangsaan. Ia menjelaskan bahwa sepuluh jilid awal buku dirancang untuk menggambarkan proses panjang terbentuknya bangsa dan negara Indonesia.

“Masukan dari publik sangat kami butuhkan agar buku ini benar-benar mampu merepresentasikan sejarah Indonesia secara utuh dan inklusif,” ujarnya.

Agus menekankan bahwa semua saran yang masuk akan dipertimbangkan oleh tim penulis dan editor, selama disertai dengan bukti yang kuat dan relevan dengan konteks sejarah nasional.

“Ketika kita bicara sejarah, yang kita bicarakan adalah bukti. Selama ada sumber yang sahih dan peristiwa tersebut memiliki nilai penting dalam sejarah keindonesiaan, tentu akan kami akomodasi,” tegasnya.

Menutup rangkaian diskusi, Susanto Zuhdi selaku Editor Umum Penulisan Buku Sejarah Indonesia 2025 menekankan pentingnya menyajikan sejarah secara menyeluruh. Ia menyampaikan bahwa sejarah Indonesia tidak hanya mencatat kejayaan, tetapi juga harus jujur dalam mengungkap sisi-sisi kelam masa lalu.

“Sejarah harus kita pelajari secara utuh, baik yang membanggakan maupun yang menyakitkan, karena keduanya membentuk karakter dan kesadaran bangsa,” pungkasnya.

Penulis: Dewi

Penyunting: Nova Lisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *