ULM Tergenang Banjir, Mahasiswa Hadapi Berbagai Kendala

ULM Tergenang Banjir, Mahasiswa Hadapi Berbagai Kendala

Sharing is Caring
       
  

Banjarmasin, Warta JITU — Hujan deras yang mengguyur Kota Banjarmasin dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan sejumlah wilayah terdampak banjir, termasuk Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Banjir sangat mengganggu aktivitas perkuliahan mahasiswa, terutama di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), yang beberapa ruang kelas turut tergenang air, terlebih karena banjir terjadi saat jadwal ujian akhir semester sedang berlangsung.

Mahasiswa Teknologi Pendidikan, Rusmad mengatakan, banjir kali ini lebih parah dibanding tahun sebelumnya.

“Saya agak terkejut karena tahun lalu tidak separah ini. Akibatnya, mahasiswa jadi terkendala dalam transportasi, terutama jalan umum yang sering dilewati,” kata Rusmad.

Mahasiswa dari program studi (prodi) Teknologi Pendidikan, Rusmad saat diwawancarai (Nova Lisa/ Warta JITU)

Meskipun demikian, Rusmad mengaku banjir kali ini tidak sepenuhnya menghentikan aktivitasnya. Ia menjelaskan, meskipun terdapat beberapa kendala pada jalur transportasi umum di sekitar kampus, akses ke universitas masih dapat dilalui dengan cukup baik. Dengan kondisi saat ini, ia merasa aktivitasnya sehari-hari masih dapat berjalan normal meski tetap ada hambatan kecil di beberapa titik.

“Memang ada kendala-kendala dalam beberapa hal, terutama jalur transportasi umum di universitas kita ini, tetapi dalam hal normal, Alhamdulillah masih bisa dilewati. Jadi, untuk kendalanya tuh tidak terlalu signifikan lah,” tambahnya.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Deavindy turut menyampaikan keluhan yang dirasakan. Ia merasa banjir tidak hanya menyulitkan secara fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan.

“Saya pribadi terkena penyakit gatal-gatal di kaki karena air banjir ini bercampur dengan air got. Kalau kendaraan untuk transportasi aman-aman saja,” ungkapnya.

Potret salah satu mahasiswa dari program studi (prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Deavindy saat diwawancarai (Nova Lisa/ Warta JITU)

Deavindy juga memberikan tanggapan terhadap pihak kampus yang menurutnya belum sigap menangani situasi ini.

“Kayaknya pihak kampus masih buta akan banjir ini. Soalnya dari tahun-tahun sebelumnya bukannya ditangani malah makin parah. Apa sebenarnya yang salah? Entah salurannya atau jalannya tidak diperbaiki. Jadi, saya tegaskan sekali lagi, pihak kampus masih menutup mata seakan-akan tidak terjadi apa-apa padahal banjir sudah masuk ke dalam kelas,” tegasnya.

Kondisi ini juga disampaikan oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Nadia Ruhama, yang merasa terganggu akibat sulitnya akses menuju fakultas.

“Banjir cukup dalam, sehingga banyak kendaraan mahasiswa yang mogok karena kemasukan air. Beberapa kelas juga tergenang, meskipun petugas kebersihan sudah berusaha keras membersihkan air. Namun, jika hujan kembali turun, kondisi banjir akan kembali seperti semula,” ujar Nadia.

Banyak mahasiswa berharap pihak kampus dapat segera mengambil langkah konkret untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Menurut Deavindy, langkah seperti perbaikan saluran air harus menjadi prioritas utama. Ia juga berharap pihak kampus dapat lebih sigap dalam menangani permasalahan ini dengan meningkatkan fasilitas, termasuk memperbesar atau membersihkan saluran air secara berkala.

“Mungkin bisa ditingkatkan lagi fasilitas di ULM, apalagi terkhususnya kampus FKIP yang paling banyak mahasiswanya, sampai masuk ke kelas kan, berarti memang sudah parah. Otomatis terganggu fokus belajar,” ungkap Deavindy.

Banjir yang melanda ULM menjadi tantangan nyata bagi mahasiswa dan pihak kampus. Meskipun ini adalah fenomena alam yang sulit dihindari, mahasiswa berharap ada upaya nyata untuk mengurangi dampaknya dari pihak kampus, baik melalui perbaikan fasilitas maupun pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Penulis: Nova Lisa

Penyunting: Dyaa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *