Cerita Mutiara yang Tersembunyi karya Nor Jannah, yang menjadi salah satu pemenang lomba cerpen dalam Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XVI tahun 2019, mengisahkan tentang Ita, seorang gadis yang merindukan liburan di rumah neneknya di kampung. Bersama ibunya, Ita berangkat dari kota dengan aturan baru: tidak boleh menggunakan ponsel selama di kampung. Di sana, Ita bertemu kembali dengan teman masa kecilnya, Toni, dan mereka mengenang permainan tradisional yang pernah mereka mainkan.
Cerpen ini memperlihatkan setiap peristiwa dengan menggunakan rangkaian alur cerita dan penceritaan yang baik. Dari pengenalan (orientasi), munculnya masalah, puncak konflik, penurunan konflik, hingga penyelesaian (resolusi), cerita bergerak sesuai dengan peran tokoh-tokoh di dalamnya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Vladimir Propp yang menekankan pentingnya peran tokoh dalam membawa cerita maju.
Namun, kritik terhadap analisis Propp muncul dari Greimas yang menganggap bahwa pendekatan tersebut terlalu terbatas pada dongeng. Greimas menawarkan skema aktan sebagai alternatif untuk menganalisis peran tokoh secara lebih umum, baik dalam cerita fiksi maupun non-fiksi. Model aktan ini memandang tindakan tokoh sebagai langkah-langkah menuju tujuan tertentu, dan dapat digunakan untuk menghubungkan tindakan antar-tokoh dalam cerita.
Dalam pandangan Ridho (2018), aktan merupakan peran abstrak yang dapat diisi oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Model ini menekankan bahwa setiap tindakan tokoh memiliki tujuan yang spesifik, dan hal ini dapat membentuk aktan tertentu dalam cerita.
Dengan demikian, cerita Mutiara yang Tersembunyi tidak hanya menghadirkan narasi yang menarik, tetapi juga melibatkan pembaca dalam pemahaman tentang peran tokoh-tokoh dalam menggerakkan alur cerita menuju titik puncak dan penyelesaian.
Greimas (dalam Salahuddin, 2018: 18) membagi enam aktan, yaitu subjek, objek, pengirim (sender), penerima (receiver), penolong (helper), dan penentang (opposant). Keenam aktan tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut.

Peran subjek dan objek merupakan elemen sentral dalam narasi. Keduanya memiliki hubungan yang menandakan bahwa subjek mengincar objek. Dalam upayanya untuk mencapai objek tersebut, subjek memerlukan kekuatan (pengirim) yang memfasilitasi pencapaian tersebut. Pengirim dalam hal ini tidak selalu harus berupa karakter konkret, tetapi bisa berbentuk hal-hal abstrak seperti struktur sosial, takdir, dorongan, dan sebagainya (Megawati, 2018: 3). Di sisi lain, penerima adalah individu yang menerima kekuatan tersebut. Penerima seringkali juga bisa menjadi sosok yang sama dengan objek yang diinginkan.
Selain itu, keberadaan penolong (helper) dan penentang (opposant) merupakan elemen penting yang terkait erat dengan subjek dalam sebuah narasi. Penolong adalah entitas atau individu yang memberikan bantuan kepada subjek untuk mencapai objek yang diinginkan, sementara penentang adalah hal atau tokoh yang bertindak sebagai penghalang dan berusaha menghambat subjek dalam pencapaian tujuannya.
Dengan dasar tersebut, saya tertarik untuk melakukan analisis terhadap cerpen Mutiara yang Tersembunyi karya Nor Jannah dengan menggunakan pendekatan naratologi Greimas. Beberapa penelitian sebelumnya telah menjelajahi naratologi Greimas, seperti yang dilakukan oleh Megawati (2018) dengan judul Model Aktan Greimas dalam Novel Mencari Perempuan yang Hilang Karya Imad Zaki, Salahuddin (2018) dengan judul Skema Aktan dan Model Fungsional Novel Maryamah Karpov: Kajian Naratologi A.J. Greimas, dan Yuniasti (2019) dengan judul Analisis Struktur Naratif A.J. Greimas dalam Novel Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan. Ketiga penelitian tersebut menegaskan bahwa jenis konflik dan peran tokoh dalam setiap novel memiliki pengaruh besar terhadap skema aktan yang terbentuk di dalamnya. Skema aktan ini dapat bervariasi, tergantung pada latar belakang tokoh dan alur cerita yang ada dalam masing-masing novel.
Di samping itu, Mutiara yang Tersembunyi karya Nor Jannah ini merupakan cerpen yang bertemakan pentingnya menjaga kelestarian budaya tradisional. Dari segi isinya, cerpen ini mengangkat nilai-nilai budaya yang harus dilestarikan. Dalam hal ini, budaya yang harus dilestarikan berupa permainan tradisional yang saat ini kurang mendapat tempat dan perhatian oleh generasi muda lokal. Selain itu, cerpen ini menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh pembacanya sehingga mendukung pengungkapan peran tokoh yang menggerakkan jalan cerita.
Berdasarkan hasil analisis saya, cerpen Mutiara yang Tersembunyi karya Nor Jannah ini memiliki skema aktan sebagai berikut.

Cerpen Mutiara yang Tersembunyi karya Nor Jannah memiliki skema aktan yang terdiri atas subjek, objek, pengirim, penerima, penolong, dan penentang. Keenam aktan tersebut dijabarkan sebagai berikut.
- Subjek dan Objek
Aktan utama subjek dan objek dari cerpen Mutiara yang Tersembunyi adalah seorang gadis bernama Ita yang berkeinginan untuk menikmati masa liburan semester dengan nuansa berbeda di rumah neneknya. Pada awal cerita, Ita diceritakan sudah tidak sabar berlibur ke rumah nenek untuk meredakan rasa rindu dan menikmati asrinya alam pegunungan di sana. Meskipun sedikit terganggu dengan tak membawa ponsel, tetapi ia tetap antusias untuk berlibur dengan nuansa baru. Posisi Ita sebagai subjek dan liburan dengan nuansa baru sebagai objek dihubungkan oleh sebuah fungsi ingin memeroleh atau mendapatkan. Hal tersebut terlihat melalui kutipan berikut.
Liburan kali ini bukan hal yang mudah untuk kuputuskan, sebab mama memberi saran agar aku meninggalkan HP di rumah. Berat rasanya aku harus berpisah dengan HP, apalagi seminggu lamanya. Aku sudah membayangkan, betapa bosannya aku di rumah nenek tanpa HP. Sempat, niat liburan kuurungkan, tetapi rasa rinduku ke nenek mampu mengalahkan egoku. (Jannah, 2023: 14)
- Pengirim dan Penerima
Dalam usaha subjek mendapatkan objek, dibutuhkan aktan yang memiliki kuasa (pengirim), yaitu Toni dan usaha ayahnya melestarikan permainan tradisional. Hal tersebut yang menyadarkan Ita untuk lebih mencintai kebudayaan lokal tradisional, khususnya permainan egrang. Perhatikan kutipan berikut.
Aku tercengang mendengar pembahasan Toni tentang arti pentingnya kebudayaan. Ternyata dia sangat mencintai kebudayaan, khususnya permainan tradisional. Sikap dan ucapan Toni menampar harga diriku yang lebih menyukai permainan modern. Dia seakan mengingatkanku akan pentingnya memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan. (Jannah, 2023: 17)
Penjelasan Toni mengenai arti pentingnya kebudayaan lokal menjadi pemicu Ita untuk mengubah pemikirannya yang sempat menganggap permainan egrang itu kuno. Selain itu, aktan pengirim berupa usaha ayah Toni melestarikan budaya tradisional, juga membantu menambah keyakinan Ita betapa berharganya budaya lokal. Sebagaimana terdapat pada kutipan berikut.
Di rumah Toni kulihat banyak alat bermain, semuanya permainan tradisional. Rupanya, ayah Toni serius dalam melestarikannya. Kulihat banyak penghargaan yang ditempel di dinding. Aku baru tahu, ternyata ayah Toni mengelola ini dengan panggilan nurani. (Jannah, 2023: 17)
Sementara itu, aktan penerima dalam cerpen ini adalah subjek berhasil menikmati liburan dengan mencintai permainan tradisional. Berikut kutipan yang mendukung hal tersebut.
Liburan kali ini adalah liburan yang sangat berharga bagiku. Aku bertemu Toni, jiwa mudanya berkobar dalam melestarikan budaya, ia menyadarkanku bahwa sebagai anak bangsa yang baik, kita diharuskan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan, terlebih budaya lokal agar tidak musnah dan membiarkan mutiara-mutiara tersembunyi itu tetap bersinar sepanjang masa. (Jannah, 2023: 18)
- Penolong dan Penentang
Usaha subjek dalam mencapai tujuannya dibantu oleh aktan penolong. Dalam hal ini, usaha Toni mengajak Ita bermain egrang lagi, mendorong kesadaran Ita mengenai arti penting kebudayaan tradisional. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Aku jamin, jika kamu setiap hari bersamaku, kamu akan ketagihan tinggal di sini. Kamu akan menemukan keasyikan jika bermain dengan mereka. Keasyikan yang tidak kamu temukan di kota. Aku berani jamin. Kita taruhan?” Toni menantangku. (Jannah, 2023: 16)
Selain itu, aktan penentang dalam cerita ini adalah pandangan Ita yang menyatakan bahwa permainan gim online lebih modern daripada kenangan masa kecilnya saat bermain egrang. Menurut Ita, bermain gim online dianggap lebih mudah dan tidak memerlukan usaha yang besar seperti bermain egrang. Pandangan ini tercermin dalam kutipan di bawah ini.
“Apa istimewanya egrang? Apa kamu tidak tahu, bermain game online itu lebih
mengasyikkan? Tidak harus lelah melangkahkan kaki di atas bambu, juga tidak akan kesakitan karena terjatuh dari egrang,” ucapku sewot. (Jannah, 2023: 15)
Tambahan dari itu, Ita juga memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan ketika bermain egrang di masa kecilnya. Suatu ketika, dia terlibat dalam sebuah pertandingan melawan Toni dalam sebuah acara lomba. Namun, sayangnya, Ita kalah dalam perlombaan tersebut dan terjatuh di depan banyak orang. Insiden tersebut membuatnya merasa malu karena orang-orang tertawa melihatnya jatuh. Pengalaman tersebut membuatnya enggan untuk bermain egrang lagi, seperti yang diungkapkan dalam kutipan berikut ini.
Belum mencapai garis finis, aku sudah jatuh. Jelas saja semua orang yang melihat tertawa terbahak-bahak menjadikanku tontonan dan bahan ejekan, tidak terkecuali Toni. Sedangkan aku hanya bisa menangis kesakitan sambil memegangi kakiku yang terluka. Sejak saat itulah bagiku Toni adalah anak yang menjengkelkan dan egrang permainan yang paling tidak kusukai. (Jannah, 2023: 15)
Berdasarkan skema aktan yang telah dijelaskan, cerita Mutiara yang Tersembunyi karya Nor Jannah yang dianalisis dengan pendekatan naratologi Greimas menggambarkan serangkaian struktur naratif yang mengisi keenam peran utama, yaitu subjek, objek, pengirim, penerima, penolong, dan penentang. Peran subjek diwakili oleh Ita yang memiliki keinginan untuk menjalani liburan semester dengan pengalaman baru. Dorongan untuk mencapai tujuan tersebut didorong oleh peran pengirim, yang termanifestasikan melalui usaha Toni dan upaya ayahnya untuk mempertahankan permainan tradisional. Melalui pengirim ini, subjek dapat memperoleh kesenangan dari liburan dengan menghargai tradisi lokal, atau menjadi penerima dalam alur cerita. Namun, dalam usahanya mencapai objek, subjek dihadapkan dengan penolong dalam bentuk usaha Toni untuk mengajaknya bermain egrang lagi, sementara pandangan Ita bahwa gim online lebih modern dan kenangan negatif dari masa lalunya bermain egrang bertindak sebagai penentang yang menghalangi dan menghambat subjek dalam mencapai tujuannya.
Dengan demikian, pengungkapan peran tokoh berdasarkan skema aktan dalam cerpen ini dapat membantu untuk mengetahui hal-hal yang menggerakan cerita. Selain itu, skema aktan ini memudahkan dalam membedah struktur dalam sebuah cerita melalui pengelompokkan aktan dan fungsinya.
Referensi:
Jannah, N. (1 Juli 2023). Naskah2 Pemenang Lomba Prosa ASKS. Google Drive. https://drive.google.com/drive/u/3/folders/15NNsIyutfdGZ0LFmYzMSV-nVAMMfl1T7
Megawati, E. (2018). Model aktan Greimas dalam novel Mencari Perempuan yang Hilang karya Imad Zaki. Semiotika: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik, 19(2): 1-9. https://doi.org/10.19184/semiotika.v19i2.11257.
Ridho, I. (2018). Kajian cerita: Dari roman ke horor. Penerbit JBS.
Salahuddin, N. (2018). Skema aktan dan model fungsional novel Maryamah Karpov: Kajian naratologi A.J. Greimas. [Skripsi, Universitas Negeri Makassar]. Eprints UNM. http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/5816.
Yuniasti, H. (2019). Analisis struktur naratif A.J. Greimas dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Kembara: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 5(2): 195-207. https://doi.org/10.22219/kembara.v5i2.9959.
Sumber Thumbnail : iStock & menurutahli.com
Penulis : Reza Syarief
