Hampir Lima Tahun Pindah Menetap di Kota, Lalu Saya Jadi Apa?

Sharing is Caring
       
  

Saya tidak pandai statistik, tetapi saya cukup berani untuk mengatakan bahwa jumlah perusahaan kapitalisme besar lebih banyak daripada perguruan tinggi. Iya, tentu, maksud saya yang benar-benar kampus dengan kriteria “ideal”.

Manday kelana

Setelah menjalani masa studi empat tahun delapan bulan, tetapi belum kunjung lulus kuliah. Saya memikirkan, apa lagi yang bisa saya bagikan pada orang lain selagi masih menjadi masyarakat kampus? Terutama hal yang berhubungan dengan kuliah dan organisasi.

Setelah mengingat, merefleksi, dan menggali lagi ingatan lama atas pengalaman-pengalaman saya selama menghabiskan detik-detik terakhir di dunia perkuliahan, jujur saja saya belum paham betul dengan semua ilmu pendidikan. Masih banyak tanda tanya yang menjadi pertanyaan bagi saya. Mengambil jurusan ilmu pendidikan nyatanya tidak membuat saya dengan mudah menjawab pertanyaan teman-teman.

“Jurusanmu lulusnya jadi apa?”

“Kenapa pendidikan kita dikomersialisasikan?”

“Kenapa pungutan liar makin marak terjadi pada instansi pendidikan?”

“Kenapa fasilitas masih banyak yang kurang?”

“Kenapa kamu jomblo?”

Menurut saya, seharusnya pendidikan itu sangat penting untuk menciptakan bangsa yang maju, berpikiran terbuka, dan memiliki wawasan yang luas serta berkualitas dalam hal pendidikan terutama pada proses pembelajarannya.

Saya bisa saja menjawab dan menjelaskan. Akan tetapi, dengan kembali membuka buku-buku, entah itu yang dipinjam dari pusat sumber belajar atau  yang kadang terpaksa dibeli dari dosen agar bisa masuk kelas pada mata kuliah tertentu. Pada kasus ini, kawan-kawan saya pasti dapat menerima jawaban yang saya berikan. Namun, berbeda cerita jika jawaban yang sama tidak bisa saya berikan untuk pertanyaan yang sama. Jika pertanyaannya muncul dari kerabat kerja, tetangga kontrakan atau keluarga serta teman di kampung halaman, sedangkan jawaban alternatif lainnya kadang saya belum memikirkannya.

Pengalaman ini bisa dikatakan juga mewakili pengalaman kawan-kawan mahasiswa yang senasib dengan saya. Ya, sebisa mungkin jangan juga sampai senasib seperti saya, miris dan ironis tahu! Apalagi setelah baca cerita dari artikel ini, Anda senyum-senyum sendiri sambil mengangguk-angguk tidak jelas. Berarti Anda termasuk mahasiswa kritis dan semester tua–tetapi, di kampus saya julukan mahasiswa kritis itu relatif macamnya, kalau tua berarti belum lulus.

Dengan sebatas pengetahuan yang saya miliki perihal mengatur manajemen rumah tangga, dalam artian di sini perihal kapasitas penyimpanan ilmu pengetahuan yang dapat saya cerna dan kelola. Maka, kita perlu untuk memilah dan memilih dengan siapa kita berbagi pengalaman akademik di bidang ilmu pendidikan ini. Agar orang tersebut mengerti, sehingga diperoleh umpan balik dari hasil diskusi teman sejawat. Jika tidak tepat, maka akan menjadi perdebatan panjang.

Mun bahasa banjarnya tu pandiran bungul. Akan tetapi, saya masih ingin membagikan pengalaman semasa masih kuliah ini. Ingin menjadi orang yang bermanfaat dengan melalui jalan ninjaku, yakni berbagi atau biasa disebut “sharing is caring”.

Mengapa berbagi pengalaman? Sebab berbagi pengalaman lebih mudah daripada berbagi uang, makanan, apalagi pasangan. Hanya bermodal waktu dan tenaga saja sudah bisa dilakukan. Mungkin ini alasan mengapa kawan-kawan saya yang lebih tua di kampus, bahkan senior yang sudah alumni sekalipun, suka sekali bercerita tentang apa yang sudah dilalui selama  masa kuliah kepada mahasiswa baru yang notabenenya lebih muda.

Bagi saya dan kawan-kawan yang merantau ke kota merupakan tantangan tersendiri. Banyak lika-liku perjalanan yang kami lalui. Nah, cerita perjalanan ini yang biasanya dibagikan oleh kami yang lebih dulu menjadi warga kampus kemahasiswaan kepada yang  baru menjadi warga kampus. Berbagai macam cerita ini dipaparkan, lalu disalurkan melalui meja-meja kantin, teras kesekrektariatan, taman Open Space, atau di mana saja, agar bermakna untuk dikenang.

Seringnya ikut gabung diskusi atau nimbrung nongkrong dengan kawan di kampus, saya telah mendapatkan banyak pelajaran dari berbagai macam mahasiswa yang lebih tua dari saya, baik dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) maupun Dewan Mahasiswa (DEMA). Seburuk-buruknya pelajaran yang saya peroleh, ya, pengalaman buruk dan konyol mereka selama di kampus. Cerita bagaimana mereka bisa diterima oleh kampus, hingga lika-liku mereka beradaptasi menjadi kaum urban yang ambisinya terpatahkan oleh kapitalisme. Balik lagi ambil yang baiknya dan buang buruknya untuk jadikan sebuah makna dalam belajar kehidupan.

Beragam mahasiswa yang saya kenal itu berasal dari pelosok desa. Termasuk saya sendiri. Sebenarnya tempat asal saya juga tidak terlalu desa, bisa dibilang pinggiran kota, lah. Tetapi, pastinya belum ada perguruan tinggi besar di sana, apalagi yang berlabel negeri. Bahkan, tidak ada pusat perbelanjaan yang megah di sana karena pemerintah setempat lebih mengutamakan pasar tradisional dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) setempat yang nyatanya makin tergerus oleh tambang dan sawit.

Terdapat banyak sekali usaha-usaha yang berdiri, seperti penjual kuliner makanan khas daerah, pusat kerajinan purun, UMKM, kesenian dan budaya, serta tentunya destinasi wisata yang dijadikan masyarakat sebagai mata pencaharian. Tidak lupa juga, ada banyak perusahaan-perusahaan industri besar di kota ini. Tidak heran, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 mengatakan bahwa Kabupaten Tapin adalah wilayah yang angka kemiskinannya terendah nomor dua di Kalimantan Selatan, dengan presentase 3,60%.

“Tetapi, mengapa tidak ada perguruan tinggi besar seperti di kabupaten/kota yang ada di Pulau Jawa sana?”

“Lalu, mengapa lebih banyak perusahaan tambang dan sawit ketimbang perguruan tinggi?”

Memang pertanyaan itu sudah dianggap umum, tetapi memang perlu dipertanyakan. Saya tidak pandai statistik, tetapi saya cukup berani untuk mengatakan bahwa jumlah perusahaan kapitalisme besar lebih banyak daripada perguruan tinggi. Iya, tentu, maksud saya yang benar-benar kampus dengan kriteria “ideal”.

Lalu, saya berasumsi kalau mahasiswa perantauan ini mayoritas berasal dari desa. Setidaknya lingkaran perkawanan saya cukup mewakili asumsi yang saya suguhkan ini.

Pada pertama kali masuk kampus, saya menyoroti aroma hutan kecil di dekat masjid kampus, saat itu tahun 2018 masih banyak pohon besar. Kondisi fisik kampus seperti gedung megah bertingkat, dekat pusat perbelanjaan yang modern, dan mahasiswa baru yang berlalu lalang kebingungan mencari di mana gedung kuliahnya.

Perlahan saya mulai mengalami pergeseran kosmologi budaya dan perilaku. Mulai dari pemandangan sawah-sawah hijau ke gedung bertingkat dengan kaca lebar, dari jalan besar yang kadang hanya dapat dilalui becak ke jalan besar, tetapi terlihat sempit karena sering macet. Hingga pemandangan masyarakat desa dengan pakaian berkebun dan terakhir pemandangan masyarakat ibu kota provinsi dengan pakaian beragam model modis yang belum saya ketahui apa nama model pakaiannya.

Setelah bergumam lama sendirian di jalan menuju kampus, semuanya saya sudahi ketika berada di depan pintu gerbang masuk kampus Universitas Lambung Mangkurat. Sudah seharusnya saya beradaptasi dan bertahan hidup di tengah gempuran era globalisasi dan new era media.

Seperti kata pepatah seorang sepuh yang saya kenal, “Survival itu lebih mudah di hutan, daripada di perkotaan.”

Mengapa begitu? Karena bertahan hidup di hutan tentu semuanya telah disiapkan oleh alam semesta, tinggal kita yang memanfaatkannya saja entah itu melalui bertani atau berkebun.

Nilai-nilai Kearifan lokal yang kental terkandung dalam kearifan lokal pertanian sekaligus menjadi tonggak pelestarian lingkungan dan budaya penting untuk dilestarikan dan dikembangkan. Hal ini sangat berguna bagi masyarakat lokal dan global karena tradisi tersebut dapat memberikan manfaat untuk menjaga alam demi pembangunan yang berkelanjutan baik secara masyarakat lokal maupun global, sehingga setiap generasi dapat merasakan manfaat dari alam (Sidauruk, I. M., 2022).

Sedangkan di perkotaan? Kita bertahan hidup dengan cara berkerja secara individu, mencari yang namanya rupiah sebagai alat tukar bahan kebutuhan sandang pangan sehari-hari.

Pada umumnya, kota adalah daerah permukiman, sehingga sumber daya alam yang dimiliki sedikit. Oleh karena itu, kehidupan ekonomi masyarakat kota bergantung pada masyarakat desa yang masih memiliki sumber daya alam melimpah. Kehidupan ekonomi masyarakat desa tak dapat terpenuhi juga karena dipengaruhi letak geografis yang sukar dijangkau dengan sarana perhubungan, sehingga kesejahteraannya tergantung pada pembangunan wilayah masing-masing. Kehidupan ekonomi masyarakat desa dan kota tentu memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Apalagi wilayah pedesaan yang letaknya cukup terpencil dengan beberapa pemukiman kecil dan jauh dari hiruk pikuk keramaian. Sementara perkotaan cenderung 24 jam aktivitas berjalan terus tidak berhenti sehingga hal ini jelas memengaruhi kehidupan ekonomi kota dan desa (Safitri, S. R., 2022).

Selanjutnya, segala percobaan-percobaan dimulai dan dilalui. Mengingat tujuan awal masuk perguruan tinggi adalah: “kuliah dan mencari ilmu pengetahuan”. Selebihnya, tak sekadar kuliah, tetapi juga mencari berbagai pengalaman dengan ikut organisasi, bekerja sambilan, mengikuti seminar pinggiran, atau apa pun itu yang bisa meningkatkan kapasitas softskill dan hardskill individu.

Beragam aktivitas ini membuat saya lebih hidup. Sampai-sampai, saya baru sadar kalau sudah banyak bertemu dengan orang baru dengan berbagai latar belakang suku dan budaya, secara tidak sadar telah bertemu mereka dari Sabang sampai Merauke. Meskipun tidak semua dalam satu waktu.

“Berangkat haha hihi, pulang-pulang memasuki semester akhir.”

Saat itu saya di perjalanan dari kota Banjarmasin ke kota Surabaya dengan transportasi laut. Setelah sampai di Surabaya, menginap satu malam di Sekretariat LPK Gema. Lalu, esok harinya menuju Kota Tulungagung. Baru saja naik bus, tiba-tiba kawan saya mengabarkan jikalau ada surat edaran SK dari koordinator progam studi bahwa dosen pembimbing skripsi telah dibagi. Entah rasa senang atau kesal setelah melihat SK tersebut. Bagaimana tidak, artinya saya sebentar lagi sudah harus keluar dari kampus.

Melihat fenomena ini, kuliah ibarat pabrik, semua produk dibuat dengan cepat dan hasilnya sama semua. Namun, kualitasnya dipertanyakan, bukan? Sepulang dari Surabaya, saya kembali ke rutinitas yang pada saat itu masih melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah. Setelah itu, tiba lah semester baru dan masa bimbingan pun mulai berjalan.

Saat itu sudah tiba, yaitu hari bimbingan dan harus menunggu di kampus. Namun, karena saat itu dosennya ada “halangan”, alhasil rencana bimbingan pupus dan harus menunggu sekian hari berikutnya untuk kembali konsultasi.

Ada beberapa kemungkinan yang mungkin menjadi respon saya dan kawan-kawan mahasiswa yang sama seperti saya menunggu dosen. Pertama, ia akan sabar menunggu hingga hari berikutnya seperti Kozuki Momonosuke yang menanggung beban negeri Wano, dengan tetap menanggung risiko di hari berikutnya si dosen kembali memiliki “halangan”.Kedua, si mahasiswa akan depresi seperti Monkey D. Luffy untuk beberapa hari karena kehabisan makanan dan kembali bangkit menjadi pejuang skripsi di saat yang tepat, yaitu saat hari bimbingan tiba dan saat revisi menumpuk serta saat sidang akhir. Semua memiliki risiko dan solusi, jadi jalani saja.

Semua kembali lagi ke pejuang skripsi itu. Apakah bisa keluar dari cengkeraman wewenang dosen yang bisa digunakan untuk kemaslahatan umat atau ke luar kota melaksanakan proyeknya? Eh, ada, sih, satu cara terakhir untuk melancarkan konsultasi skripsi. Caranya, dengan menjadi Kurozumi Orochi yang menjadi bagian dari Kaido dan selalu mengabdi (re: menjilat) sekutunya. Namun, saya tidak perlu cara yang terakhir. Jadi, saya tidak  bisa menyarankan hal lain selain dinikmati dan memaknainya.

“Tetapi, bukan kah dalam dunia perkuliahan memang semacam itu?”

Semangat, ya, kawan-kawan mahasiswa!


Penulis: Manday Kelana

Editor: Ums

Sumber foto: StartupStockPhotos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *