
Selasa (31/3) Penyebaran virus COVID-19 masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat. COVID-19 –yang kemudian dikategorikan sebagai pandemi oleh WHO− memberikan banyak dampak, salah satunya pada sistem perkuliahan yang beberapa minggu terakhir beralih ke sistem perkuliahan daring (online).
Dalam surat edaran Rektor ULM No.1292/UN8/KP/2020 tanggal 24 Maret, perkuliahan daring resmi diperpanjang hingga 8 April 2020. Namun tidak menutup kemungkinan akan terus diperpanjang, mempertimbangkan kondisi terkini dan edaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Artinya, sistem kuliah daring akan terus diberlakukan hingga pandemi COVID-19 mereda. Bahkan banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk pulang ke kampung halaman. Lalu yang menjadi pertanyaan, seberapa efektif dan bagaimana kondisi mahasiswa yang melaksanakan kuliah daring?
Kondisi ini pun dikomentari oleh Dr. H. Aminuddin Prahatama Putra, M.Pd selaku Wakil Rektor 1 bidang akademik ketika diwawancarai via Whatsapp pada Sabtu, (28/3).
“Terhitung sampai Sabtu sore tanggal 28 Maret 2020 , ada 864 kelas dari 11 fakultas dan program pascasarjana yang melaksanakan kuliah online. Ini yang tercatat di SIMARI, belum lagi yang di Google Class, aplikasi Zoom dan sebagainya. Bahkan juga ada program studi yang melaksanakan seminar proposal melalui aplikasi Zoom yang dimana mahasiswa berada di rumah masing-masing, termasuk mahasiswa yang sedang pulang ke kampung halaman. Artinya tidak masalah mahasiswa pulang ke kampung dan yang jelas pelaksanaan sistem daring berjalan lancar,” tutur beliau.
Selain itu, Aminuddin juga mengatakan tidak pernah mendapatkan keluhan dari mahasiswa tentang tugas-tugas yang diberikan dosen terlalu memberatkan, bahkan di mata kuliah yang beliau ampu sendiri pun mahasiswa lebih antusias bertanya dibandingkan kuliah tatap muka.
Namun, bagaimana dengan kondisi di lapangan? Kami dari tim LPM Warta JITU telah menyebarkan kuisioner online berbentuk Google Form tentang pelaksanaan kuliah daring di kalangan mahasiswa ULM. Sejak pertama kali disebar tanggal 31 Maret hingga berita ini diturunkan, telah terkumpul 92 responden. Rata-rata diisi oleh mahasiswa FKIP I, FKIP II, dan beberapa responden dari FISIP, FEB hingga Faperta. Jawaban yang didapatkan pun beragam, ada yang menyukai perkuliahan daring, namun ada juga yang kurang sependapat dengan model pembelajaran ini. Berikut beberapa contoh tanggapan mahasiswa yang telah kami dapat:
“Enak si gak harus dandan, bisa sambil rebahan tapi terlalu lelah dengan tugas yang menumpuk, otak juga perlu istirahat”
“Susah jaringannya lelet, kuota cepat abis, pokoknya tugasnya buanyakkk banget baru selesai tugas ada lagi tugas baru yang datang.”
“Menurut saya tingkat keefektifan kuliah online jauh lebih rendah ketimbang kuliah tatap muka, karena kuantitas tugas lebih tinggi diberikan serta sulit mendapatkan pemahaman dan penjelasan secara detil dan lugas oleh dosen seperti pada saat kuliah tatap muka dikelas. Tetapi jika melihat situasi seperti sekarang ini, langkah bijak yg diambil dengan menerapkan kuliah online adalah langkah yang terbaik, karena memiliki tujuan untuk menekan turun angka penyebaran virus covid 19 atau sering disebut dengan virus corona.”
Rata-rata banyak mahasiswa yang mengeluh jaringan yang lelet, kuota yang boros, dan intensitas tugas yang tinggi. Memang dalam situasi sekarang, solusi yang lebih tepat adalah kuliah sistem daring. Selain untuk menghindari penyebaran virus juga mengikuti anjuran dari pemerintah. Namun alangkah baiknya seluruh pihak yang terkait baik pemerintah, universitas, dan mahasiswa untuk melihat situasi dari berbagai sudut pandang.
“Pendapat saya untuk kondisi saat ini sah-sah saja karena tidak memungkinkan melakukan secara tatap muka, tapi lebih baik mahasiswa difasilitasi kuota free untuk mengakses internet lebih karena mengingat akan banyak yang di akses melalui internet,” tulis salah satu mahasiswa FKIP ULM.
”Menurut saya, mengingat masih adanya wabah corona ada baiknya kuliah online diperpanjang, tapi dengan syarat ada perubahan dalam sistem perkuliahan online tersebut seperti koordinasi waktu pengumpulan tugas serta pemberitahuan adanya perkuliahan kepada mahasiswa agar mahasiswa tidak terlalu terbebani oleh kegiatan kuliah online ini. Walaupun begitu, saya sangat berharap agar kuliah bisa dilaksanakan seperti biasanya di dalam kelas, karena suasana kuliah online dan kuliah secara tatap muka sangat berbeda, terutama pada sistem tanya jawab atau diskusi nya yang menyebabkan sangat sedikit informasi yang didapat dari sesi diskusi dalam kelas online,” saran mahasiwa lain. (Mim)
