
Tulisan ARM (anggota Pers Mahasiswa Progress Unindra) pada Jumat (20/3) berujung kekerasan. ARM menuliskan Opini yang berjudul “Sesat Berfikir Kanda HMI dalam Menyikapi Omnibus Law.
Pada tulisan tersebut ia menyampaikan pendapatnya tentang HMI yang mendukung Omnibus Law untuk disahkan oleh DPR ditengah mahasiswa yang menolak adanya kebijakan tersebut. Opini membawanya pada kekerasan yang disinyalir dilakukan oleh kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Fakultas Teknik Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FTMIPA) unindra PGRI.
Dilansir dari siaran pers oleh LPM Progress di laman instagramnya, awal mula terjadinya kekerasan pada hari Sabtu (21/3). Beberapa orang yang mengaku kader HMI mendatangi sekretariat LPM Progress untuk mencari ARM. Pada kedatangannya, mereka meminta kepada LPM Progress untuk menurunkan tulisan yang menyangkut HMI tersebut.
Lalu, pada Minggu (22/3) barulah beberapa anggota HMI dapat bertemu dengan ARM setelah melakukan janji. Pertemuan dilakukan dikampus B, Unindra pada pukul 19.00. LPM Progres menjelaskan bahwa mereka memiliki hak jawab terhadap tulisan yang dibuat dengan membuat tulisan bantahan yang akan diterbitkan pada laman Web LPM Progress.
Belum sempat 15 menit berjalan, suasana diskusi mulai berubah. Pihak HMI bersikeras tidak dapat menerima tulisan yang ada dan meminta untuk tulisan diturunkan. Pada saat suasana memanas ada salah satu anggota HMI yang menyatakan akan menunjuk serta membawa parang.
Beberapa orang sudah mengerumuni ARM dan memberikan beberapa pukulan.
Pada saat itu teman-teman LPM Progres berusaha untuk dapat menyelamatkan ARM dari tempat kejadian. Beberapa orang yang tidak tau darimana datangnya mulai mengeroyok ARM. Pukulan yang diberikan oleh masa tersebut bahkan menyebabkan bagian bibirnya sobek.
Akibat pemukulan tersebut ARM dibawa ke rumah sakit untuk ditangani luka-lukanya. Usai kejadian ini korban telah melaporkan perbuatan sejumlah orang yang terlibat. (yna)
