
Istilah ‘Banyak Anak, Banyak Rezeki’ sering terdengar di masyarakat, namun sebenarnya pertama kali dipopulerkan pada masa Kolonial Belanda, saat terjadi pekerjaan tanam paksa. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga kerja besar, dan untuk mengatasi tekanan tersebut, masyarakat mulai melihat kelahiran banyak anak sebagai investasi untuk menyediakan tenaga kerja di masa depan.
Pada zaman tersebut, anak dianggap sebagai investasi keluarga, diharapkan dapat membantu dalam kegiatan sehari-hari seperti menggarap lahan dan pekerjaan rumah tangga. Pemikiran ini mengakar kuat pada masyarakat petani dan nelayan, di mana memiliki banyak anak dianggap dapat meringankan beban pekerjaan.
Meskipun beberapa keluarga mungkin masih memegang kepercayaan ini, pertanyaannya adalah apakah istilah ini masih relevan dan apakah anak hanya dianggap sebagai investasi untuk jaminan masa tua keluarga? Ada kekhawatiran bahwa jika anak sukses, mereka akan menjadi tulang punggung keluarga dan menanggung beban finansial orang tua mereka. Seperti yang dialami oleh seorang komedian terkenal, Nunung, ia mendapatkan dukungan simpati dari publik setelah mengungkapkan bahwa ia bertanggung jawab dalam membiayai 50 anggota keluarganya. Komedian yang berasal dari Srimulat ini harus menanggung semua kebutuhan ekonomi keluarganya, termasuk anak-anak, saudara, dan keponakan. Meski kerap merasa stres, lelah sekaligus sedih, ia juga masih mencemaskan nasib keluarganya yang belum mapan jika ia tiada. Sebagian orang berpendapat bahwa Nunung seharusnya dapat menolak, karena tidak semua anggota keluarga berhak mendapatkan bantuan, kecuali jika mereka yang masih bersekolah atau orang tua mereka tidak mampu mencari nafkah sendiri.
Fenomena ini telah menghasilkan apa yang disebut sebagai Generasi Sandwich. Generasi sandwich adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang yang harus membiayai hidup generasi sebelumnya (orang tua) dan generasi setelahnya (anak-anak atau adik-adik). Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Dorothy. A. Miller pada tahun 1981 melalui jurnalnya yang berjudul The Sandwich Generation : Adult Children of the Aging.
Menurut dosen Fakultas Psikologi (FPsi.) Universitas Indonesia (UI), peran generasi sandwich tidaklah mudah karena perlu mempertimbangkan perbedaan dua generasi.Generasi ini rentan mengalami stres karena banyaknya tanggungan yang harus mereka pikul, dan mereka cenderung mengabaikan perawatan dan apresiasi diri sendiri. Lebih lanjut, Marini dalam tulisannya berjudul Generasi Sandwich: Permasalahan, Tantangan, dan Solusinya menjelaskan meskipun belum membentuk keluarga sendiri, jika seseorang memenuhi tanggung jawab dalam menyokong kehidupan orang tua dan merawat anggota keluarga inti seperti adik, dapat dikategorikan sebagai bagian dari generasi ini. Tidak menutup kemungkinan bahwa individu tersebut mungkin menghadapi tekanan yang signifikan. Tekanan yang dimaksud dapat berupa tekanan mental karena dihadapkan pada kondisi keuangan yang tidak stabil.
Sering dianggap wajar dalam masyarakat, hal ini sebenarnya memengaruhi kualitas hidup dan menjadi suatu siklus yang sulit terputus. Saat ini, ada kecenderungan untuk membatasi jumlah anak dan memiliki banyak anak dapat berdampak pada kesejahteraan keluarga, terutama jika keuangan tidak stabil.
Salah satu cara untuk mengatasi fenomena Generasi Sandwich adalah dengan perencanaan finansial yang matang. Mengandalkan istilah ‘Banyak Anak, Banyak Rezeki’ tidaklah cukup. Anak bukan bahan investasi dan pentingnya perencanaan finansial yang matang sedari awal untuk menjadi kunci mencapai kebebasan finansial.
Jadikan tujuan keuangan pribadi sebagai prioritas. Mengapa? kebanyakan sandwich generation hanya berfokus pada pemenuhan kesejahteraan orang tua/kerabat/anak, sedangkan kesejahteraan diri sendiri sering kali dikesampingkan. Jika hal ini terus terjadi, maka bukan tidak mungkin anak-anak akan menjadi “si generasi sandwich” berikutnya. Mempersiapkan sedari dini tujuan keuangan jangka panjang pribadi (dana pensiun) sebagai salah satu cara melindungi anak-anak dari kondisi generasi sandwich di masa depan. Pentingnya juga, bagi anak-anak muda dari Generasi Sandwich saat ini yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka lebih memahami pentingnya investasi dan menabung untuk masa pensiun.
Perencanaan finansial yang matang melibatkan investasi di berbagai instrumen. Selain itu, hidup hemat dan menghindari utang yang berlebihan juga penting untuk menjaga stabilitas keuangan.
Ketika memasuki masa tua, sebagai orang tua, terkadang perlu untuk tidak bergantung sepenuhnya pada dukungan finansial dari anak-anak. Meskipun orang tua dapat menjadi kewajiban tanggungan anak-anak dalam pembiayaan hidup, sebaiknya kedua belah pihak memiliki kemandirian finansial. Dengan kedua orang tua memiliki stabilitas finansial yang baik dan matang, beban tanggungan bagi anak-anak dapat dikelola dengan lebih baik. Hal ini memungkinkan anak-anak untuk lebih fokus pada keluarga dan hubungan dengan sanak saudara tanpa perlu merasa khawatir terkait beban finansial keluarga.
Generasi sandwich perlu memberikan perhatian khusus pada kualitas relasi mereka dengan orang tua dan anak-anak. Ini merupakan solusi bagi mereka untuk membina hubungan yang positif dengan kedua generasi ini. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan jujur sangat penting, sehingga setiap hambatan yang timbul dapat diselesaikan melalui diskusi bersama, dan solusi untuk permasalahan dapat ditemukan.
Faktanya, hal ini menunjukkan bahwa generasi sandwich tidak akan mengalami kesulitan jika mereka menjalankan peran mereka dengan persiapan dan manajemen yang baik. Bahkan, melalui komunikasi yang baik antara tiga generasi ini, dapat terbentuk kedekatan dalam keluarga dan nilai-nilai positif dapat diajarkan secara turun-temurun.
Simpulannya, beban yang ditanggung akan menjadi berkah jika orang tua memiliki persiapan dan perencanaan finansial yang matang serta komunikasi yang baik satu sama lain. Anak dapat fokus pada pendidikan, karier, dan masa depan mereka tanpa harus terbebani oleh tanggungan finansial keluarga.
Penulis : Mike
