Budi Pekerti (2023): Sebuah Refleksi Pahit tentang Dampak Media Sosial di Indonesia

Sharing is Caring
       
  

Judul: Budi Pekerti

Genre: Drama

Pemain: Sha Ine Febriyanti (Bu Prani), Dwi Sasono (Pak Didit), Prilly Latuconsina (Tita), Angga Yunanda (Muklas), Omara Esteghlal (Gora), Ari Lesmana (Tunas)

Sutradara: Wregas Bhanutedja 

Produser: Adi Ekatama, Ridla An-Nuur, Willawati, Nurita Anandia W.

Penulis: Wregas Bhanutedja

Bahasa: Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa

Rumah Produksi: Rekata Studio dan Kaninga Pictures

Tanggal Rilis (Bioskop): 9 September 2023 (Toronto) dan 2 November 2023 (Indonesia) 

Durasi: 1 jam 50 menit

Pernahkah terbersit di benak Anda bahwa efek media sosial bisa menjadi senjata yang “mematikan” bagi karir seseorang? Itulah yang diperlihatkan dalam film “Budi Pekerti” karya sutradara dan penulis berbakat, Wregas Bhanutedja. Film ini diproduksi oleh Rekata Studio dan Kaninga Pictures, dengan pemeran utama Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Prilly Latuconsina, dan Angga Yunanda, berhasil menjadi sorotan sebagai film drama terbaik sepanjang tahun 2023.

“Budi Pekerti” menggambarkan realitas kehidupan sehari-hari di Indonesia dan menyoroti dampak negatif media sosial. Film ini tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) pada 9 September 2023, sebelum tayang di seluruh bioskop  Indonesia pada 2 November 2023. Kesuksesannya tidak hanya terlihat dari sambutan masyarakat, tetapi juga dari dua Piala Citra yang diraih. pada kategori Aktris Pendukung, Aktris Terbaik, dan Aktris Terbaik  diberikan kepada Prilly Latuconsina dan Sha Ine Febriyanti.

Film ini berkisah tentang Ibu Prani (Sha Ine Febriyanti), seorang guru bimbingan (BK) di sebuah sekolah menengah di Yogyakarta. Bu Prani, yang dikenal sebagai seorang konselor yang khusus memberikan “refleksi” kepada siswa nakal, mengalami perubahan drastis dalam hidupnya ketika sebuah kejadian sepele di media sosial mengancam kariernya. Sebuah video singkat debat Warung Putu menjadi viral dan mengubah pandangan masyarakat dan komunitas sekolah terhadapnya.

Keputusan Bu Prani untuk mencalonkan diri sebagai wakil kepala sekolah terancam setelah videonya menimbulkan kontroversi. Gambaran situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai etika dan ekspresi diri di era digital. Pengakuan Gora (Omara Esteghlal), alumni siswa SMP sekaligus siswa Ibu Prani, yang bekerja di kantor berita Gaung Tinta, semakin memperburuk keadaan dengan “menggoreng” informasi di bawah tekanan Pemimpin Redaksi Gaung Tinta, Tunas (Ari Lesmana), yang melebih-lebihkan berita viral Bu Prani.

Film ini berhasil menghadirkan fenomena sosial yang aktual, seperti cyberbullying dan membuat sesuatu menjadi viral tanpa bisa dipastikan kebenarannya. Wregas Bhanutedja memukau penonton dengan membenamkan mereka dalam “tamparan keras” peristiwa viral di Indonesia. Menyinggung peristiwa dan permasalahan nyata dalam film ini memberikan pengalaman mendalam bagi penontonnya.

Adegan favorit saya terjadi saat Tita (Prilly Latuconsina) berhadapan dengan media berita Gaung Tinta. Tita yang bertengkar sengit hingga geram ingin melemparkan gelas ke arah Tunas, membalasnya dengan mengarahkan flashlight ponselnya ke arah Tita. Adegan ini seolah mencerminkan kekuatan jejaring media sosial sebagai senjata yang mampu “membunuh” karier seseorang. Keseluruhan film ini meningkatkan kesadaran akan dampak besar yang  ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa kecil yang diselewengkan oleh media sosial.

Meskipun film ini mempunyai banyak keunggulan, seperti kemampuannya dalam menyajikan fenomena sosial dan pesan moral yang kuat, namun masih terdapat beberapa kekurangan. Adegan Tita merokok sambil frustasi mungkin kurang tepat karena film ini mengangkat isu pendidikan. Namun, kekurangan tersebut tidak menghilangkan esensi film secara keseluruhan.

“Budi Pekerti” adalah tontonan yang relevan untuk semua kalangan. Bagi pekerja, mahasiswa, bahkan mantan siswa, film ini memicu refleksi tentang arti sejati dari “budi pekerti.” Cerita ini tidak hanya berkisah tentang dampak buruk media sosial, tetapi juga mengajak penonton untuk menghargai profesi guru.

Secara keseluruhan, film ini memuaskan dari segala aspek, mulai dari kualitas akting, plot, sinematografi, hingga desain suara. Dengan skor akhir 9,3/10, film ini menawarkan pengalaman visual yang luar biasa. Jangan lewatkan kesempatan Anda menyaksikan renungan pahit manis dampak media sosial dalam “Budi Pekerti”.

Nah, bagaimana, Sobat JITU? Apakah Anda tertarik untuk menonton film Budi Pekerti? Jangan lupa berikan pendapatmu kalian setelah menonton film tersebut di kolom komentar!

Penulis: Rezaldi

Editor: Mike

Sumber Foto: Rekata Studio/Kaninga Pictures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *