Kampus butuh mahasiswa dan mahasiswa butuh kampus. Begitu seharusnya. Yang diharapkan adalah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan, terlebih dalam lingkungan akademik.
Dosen sebagai pengajar memiliki kewajiban memberikan penilaian terhadap kompetensi mahasiswa. Situasi ini membuat dosen memiliki kuasa yang “lebih” dibandingkan para mahasiswa. Dengan kekuasaan memberi nilai inilah dosen dapat berbuat seenaknya.
Mungkin teman-teman pernah mendengar keluhan mahasiswa yang mengatakan, “Dosen lah yang memegang kekuasaan.” Hal itu mungkin layak bagi otak mahasiswa yang telah diperbudak arus pemahaman para dosen. Tapi, tidak bagi mahasiswa yang memiliki pemahaman berbeda mengenai hal tersebut.
Beberapa dosen di suatu fakultas memberikan nilai sesuai kedisiplinan, terlepas dari mahasiswa itu cerdas atau biasa saja. Dari sisi dosen seperti ini, ada kala dosen yang mengajarkan mengenai kedisiplinan kepada mahasiswanya, justru menerapkan yang sebaliknya.
Dosen A bicara tentang kedisiplinan di dalam kelas, tapi saat UTS malah telat bikin soal sampai ujian harus ngaret 2 jam karena nunggu soal. Ditambah memberikan nilai tidak sesuai hanya karena mahasiswanya menjawab seadanya di waktu yang sempit. Padahal dosen sendiri belum tentu bisa berpikir dan menjawab dalam waktu yang singkat seperti itu.
Kehadiran mahasiswa di perkuliahan menjadi nilai penting. Bagaimana dengan dosen yang selalu “menghilang”, tetapi memberikan nilai buruk kepada mahasiswanya? Siapa yang salah, mahasiswa atau dosen?
Untuk bisa memenuhi penilaian standar semester, dosen sering kali mengatakan yang terpenting adalah mengerjakan tugas tepat waktu. Tugas membuat salindia dan presentasi di depan kelas paling sering diberikan oleh para dosen dengan dalih agar bisa berbicara di depan banyak orang. Namun, tidak sedikit mahasiswa mengeluhkan mengenai dosen yang suka memojokkan dengan iming berupa kritik dan saran. Bahkan, ada juga yang menganggap tugas presentasi kelompok hanya sebagai dalih agar dosen tidak perlu cape-cape menjelaskan materi.
Beberapa waktu yang lalu, beredar cerita di salah satu media sosial dari salah seorang mahasiswa mengenai ‘ketidakadilan’ dosen dalam memberikan nilai. Dosen B menaruh nilai B untuk satu kelompok, meski diprotes karena ada satu anggota kelompok yang sama sekali tidak membantu, dosen tersebut tetap tidak menggubris. Hal tersebut membuat mahasiswa semakin malas saat kuliah. Kita juga tidak tahu yang sebenarnya terjadi, apakah dosen tersebut benar-benar menerimanya dalam diam atau sama sekali tidak mau peduli.
Dari thread di Twitter yang membahas tentang nilai, salah satu warganet menceritakan tentang pengalamannya. Ada dosen yang memberikan nilai pukul rata hanya karena ingin memberikan rasa semangat atas chemistry setiap mahasiswanya. Dosen tersebut diketahui juga menilai dari sisi moral dan attitude mahasiswanya. Walaupun tuai pujian dan dinilai sportif, hal ini menuai pro dan kontra. Mayoritas mahasiswa “senang” tanpa harus bersusah payah belajar dan mengerjakan tugas karena dosen akan otomatis memberi nilai A. Namun, bagaimana dengan yang sudah memberikan effort? Lalu, apakah semua mahasiswa tersebut bisa mempertahankan nilai pukul rata itu dan membuktikan kinerjanya? Ataukah akan semena-mena hanya karena dosen mereka begitu baik?
Dilansir dari kasus salah satu dosen yang memberikan pesan di aplikasi Line. Ada mahasiswanya yang protes diberi nilai C sehingga membuat mahasiswa tersebut harus mengulang mata kuliah di semester berikutnya. Tidak segan, dosen berinisial SJ mengungkapkan bahwa mahasiswa lebih baik diberikan nilai biasa, namun memiliki skill yang luar biasa. Menurutnya, pendidikan di lingkup perguruan tinggi harus mengutamakan kemampuan, keilmuan, dan keahlian, bukan hanya membanggakan nilai. Bagi SJ memberi nilai A atau B itu gampang, akan tapi nantinya menjadi beban jika ternyata kemampuan mahasiswa tidak sinkron antara nilai di atas kertas dengan keilmuannya.
Beda dosen beda kebijakan. Tidak bisa hanya memberi nilai seragam, harus ada yang membedakan antara mahasiswa cerdas, kreatif, dan rajin, dengan mahasiswa yg hanya rajin tapi tidak cerdas apalagi kreatif.
Salah satu faktor penentu nilai yang sering menjadi perbincangan oleh mahasiswa adalah dosen. Maklum, menurut saya kalau faktor keberuntungan itu dianggap 100%, maka rasio dari faktor dosen menempati persentase tertinggi.
Sepanjang masa perkuliahan yang masih berjalan, saya bisa membagi sejumlah dosen menjadi beberapa kategori berdasarkan metode penilaian. Pertama, mahasiswa yang menjadi favorit atau yang paling pintar, maka dosen akan begitu senang memberikan nilai bagus untuk semua anak didiknya.
Kedua, dosen yang memberikan nilai sesuai dengan kemampuan anak didiknya, ini masih bisa dibedakan menjadi dosen dengan standar tinggi, yang benar-benar menilai dari segala aspek, dan dosen dengan standar sedang saja. Kategori inilah yang paling sulit dihadapi. Dosen dengan penilaiannya sulit diterka atau bisa dibilang jenis dosen dengan penilaian random. Saya membayangkan dosen seperti ini menggunakan metode ombyokan seperti dalam arisan untuk memberikan nilai. Tidak melihat berbagai aspek mahasiswanya.
Sebagai mahasiswa, kita harus pintar dalam memahami segala aspek dalam perkuliahan, termasuk dosen. Kita tidak boleh hanya berpacu pada penilaian ataupun materi yang diberikan dosen. Nilai B atau C bukanlah hal yang buruk, bisa saja dosen tersebut justru memberikan penilaian secara objektif terhadap apa yang kita lakukan maupun kerjakan sebelumnya, tetapi kita tidak sadar dengan performa sendiri. Nilai A juga tidak menjamin untuk kedepannya jika tidak diimbangi dengan kompetensi yang tinggi. Melihat dari kasus di atas, tidak sportifnya nilai yang diberikan, sebagai mahasiswa suara protes bisa saja menjadi baik ataukah malah semakin buruk?
Tidak ada yang salah dengan setiap nilai yang diberikan. Sesekali menerimanya dan menjadi acuan semangat di kemudian hari.
“Ternyata aku mendapat nilai C, aku harus mencari tahu kesalahanku apa, dan berusaha memperbaikinya sendiri.”
“Nilaiku B, kenapa ya?” atau “Kok bisa ya nilaiku A padahal jarang mengerjakan tugas.” Semua pemikiran mahasiswa tersebut seringkali saya dengar.
Mahasiswa yang berpikir kritis akan pendidikan pasti sangat kontra terhadap masalah-masalah yang tertulis di atas. Inilah saatnya membangun generasi yang memutus garis pembodohan dan anti kritik melalui alur yang baik serta pikiran yang positif tanpa menjatuhkan (menyalahkan) pihak-pihak tertentu. Belajar bukan tentang yang nilai akhir di atas kertas, tetapi prosesnya.
Penulis: Mike
Editor: Lia
Sumber foto: freepic.com
