Sepenggal Cerita dari Berorganisasi

Sharing is Caring
       
  

Banyak asumsi bahwa kuliah tanpa ikut organisasi seperti masakan tanpa rempah. Bagaikan sayur tanpa garam, atau apalah itu. Asumsi tersebut barangkali dirasa wajar jika kita melihatnya dari segi manfaat yang akan didapatkan. Sebut saja misalnya, berorganisasi bisa menambah relasi, wawasan, membentuk pola pikir, atau sekadar menambah kesibukan. Namun, tidak sedikit juga anggapan yang menyebut bahwa berorganisasi akan menghambat kelulusan atau terjebak sebagai budak organisasi. Dua sisi perspektif tersebut kadang menimbulkan dilema bagi mahasiswa baru. Terlebih saat ini, hampir seluruh kampus negeri sudah mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti minimal satu organisasi atau unit kegiatan mahasiswa (UKM).

Saya Reza Syarief, seorang mahasiswa yang awalnya tidak menaruh minat pada UKM apapun. Bahkan sejak semester pertama, saya berpikir bahwa kuliah hanya untuk mengejar Satuan Kredit Semester (SKS) dan lulus sesegera mungkin. Hal itu saya jalani selama dua semester dengan peran sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Namun, hal itu perlahan berubah sejak saya memahami betapa pentingnya poin Sistem Kredit Kegiatan Mahasiswa (SKKM) untuk memperlancarkan kelulusan saya nantinya.

Pada kesempatan yang sama, di semester tiga, sebuah penawaran datang dari seorang teman. Ia meminta saya untuk bergabung ke Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta JITU. Sebuah unit kegiatan mahasiswa dalam lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ULM dan bergerak di bidang jurnalistik. Memang sejak masa Perkenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), UKM ini lumayan menarik perhatian. Dengan berbekal rasa penasaran dan keharusan untuk mengejar SKKM, saya akhirnya mendaftarkan diri.

Sebagai calon anggota, saya mengikuti rangkaian proses perekrutan terbuka yang diadakan oleh pengurus LPM Warta JITU. Tepat di hari terakhir pendaftaran, saya mengisi formulir daring dan mengirimkan salah satu karya saya di bidang jurnalistik berupa cerpen. Setelahnya, saya mengikuti wawancara luring yang berlangsung di lingkungan ULM. Di antara ramainya pertemuan siang itu, masing-masing calon anggota diminta menyebutkan alasannya bergabung. Saya tak pernah lupa saat itu mengatakan bahwa ingin menyalurkan bakat menulis saya di hadapan para pengurus dan sesama calon anggota yang lain. Beberapa hari kemudian, saya dan teman-teman lainnya diterima dengan status sebagai Calon Jurnalis Muda (CJM).

Seiring waktu berjalan, saya mengikuti rangkaian kegiatan dan pertemuan yang diadakan setiap Sabtu oleh UKM dengan Pakaian Dinas Harian (PDH) biru tua tersebut. Kata salah satu pengurus, Sabtu adalah hari LPM. Walaupun saat itu harus dilaksanakan secara daring karena situasi pandemi, kegiatan itu tetap berjalan dengan baik dan menyenangkan. Selain menerima materi jurnalistik dari para pengurus, dari tiap pertemuan itu juga, saya belajar memaknai usaha-usaha yang dipersiapkan oleh pengurus sebelum bertatap muka dengan calon jurnalis muda (CJM). Mulai dari komunikasi, koordinasi, dan konfirmasi yang dilakukan para pengurus pada setiap agenda yang dilaksanakan.

Dari sekian kegiatan yang saya ikuti sebagai CJM, yang paling berkesan adalah Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD). Kegiatan kaderisasi ini dilaksanakan pada saat semua orang berjuang melawan pandemi dan kemalasan yang membelenggu produktivitas. Komitmen dan keseriusan tiap CJM diuji pada saat itu. Setiap pertemuan dan pengetahuan yang diperoleh di hari-hari sebelumnya, harus ditunjukkan melalui PJTD tersebut. Saya, teman-teman CJM, dan pengurus berangkat ke lokasi kegiatan dengan menaiki bus. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dan memberikan sesuatu yang bernilai untuk saya. Bahkan, PJTD ini juga yang pada akhirnya membuat saya semakin teguh dan mantap untuk bertahan di organisasi ini. Saya melalui tiap proses itu melalui dari CJM, jurnalis muda, anggota penuh, pengurus, hingga kini berstatus sebagai Anggota Luar Biasa (ALB).

Perjalanan awal sebagai calon jurnalis muda (CJM) yang masih menerka-nerka seluk-beluk organisasi ini, kemudian menjadi jurnalis muda (JM) yang belajar mengikuti alur tiap divisi dalam bekerja, lalu beralih sebagai anggota penuh (AP) yang mulai memiliki nomor anggota, hingga berstatus sebagai pengurus yang mengkoordinir sebuah divisi. Rangkaian proses yang saya lalui bersama teman-teman seorganisasi ini memberikan dampak berarti dalam membentuk diri saya yang sekarang. Dari yang awalnya hanya sekadar mengejar SKKM, tetapi akhirnya saya juga mendapatkan nilai-nilai penting lainnya, seperti relasi, pengalaman berorganisasi, jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab, serta kenangan yang tak lekang di ingatan. Bahkan sebagai bonus, saya dapat menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu.

Bagi saya, mengikuti organisasi merupakan sebuah upaya untuk mengembangkan dan membentuk jati diri. Sejak berorganisasi, saya juga belajar mengatur waktu sebaik mungkin. Selama bisa menentukan prioritas, semuanya akan baik-baik saja. Hidup tak melulu tentang meraih nilai yang bagus dari dosen, tetapi hidup barangkali perlu diwarnai dengan perjuangan bersama-sama dalam menyukseskan kepanitiaan, mengurus proposal kegiatan, bekerja sama dalam divisi, menghadiri rapat yang tiada habisnya, dan belajar mengenal berbagai jenis manusia yang ada di organisasi. Semua rasa senang, sedih, bahagia, kecewa, dan bangga menyatukan dalam satu garis waktu yang dilalui dengan penuh lelah dan usaha. Semua itu tentunya demi sebuah pengalaman dan sepenggal cerita yang nantinya bisa dibagikan dalam sekelumit diskusi yang menyegarkan ingatan.

Penulis: Reza Syarief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *