Peringati Hari Puisi 2025, UPTD Taman Budaya Banjarmasin Gaungkan Isu Palestina

Peringati Hari Puisi 2025, UPTD Taman Budaya Banjarmasin Gaungkan Isu Palestina

Sharing is Caring
       
  

Banjarmasin, Warta JITU – Unit Pelaksanaan Teknis Daerah Taman Budaya gelar Hari Puisi Indonesia 2025 dengan mengusung tema “Puisi Menajamkan Kepedulian, Puisi Menghangatkan Kehidupan” di Panggung Rampa Taman Budaya.

Ketua pelaksana Hari Puisi Indonesia 2025, Ahmad Ichsan Ridzani, mengungkapkan kegiatan ini tidak hanya memeringati hari lahir salah satu sastrawan Indonesia, tetapi juga dilatarbelakangi oleh keadaan Negara Palestina yang mengalami genosida oleh zionis.

“Latar belakang diselenggarakan acara ini ialah memeringati kelahiran Chairil Anwar, serta berangkat dari pikiran kami tentang isu Palestina saat ini,” ujarnya.

Sebagai penyelenggara teknis di lapangan, Ichsan menyampaikan harapan terkait pagelaran puisi di Kalimantan Selatan.

“Semoga peringatan hari puisi ke depannya akan lebih banyak penonton dan apresiatornya. Mudah-mudahan kita dapat melestarikan sastra di Kalimantan Selatan, khususnya di Banjarmasin,” harapnya.

Sejumlah partisipan turut menghidupkan malam Hari Puisi, di antaranya IB Production, Sanggar Ar-Rumi, Sanggar Seni Demokrat, Kelompok Studi Seni Sanggar Budaya (KS3B), Sanggar Sesaji, serta beberapa sastrawan yang menunjukkan bakatnya.

Salah satu anggota Sanggar Sesaji Banjarmasin, Faisal Embron, menjelaskan pertunjukkan yang dibawakan oleh tim mereka itu mengangkat dua puisi karya ketua yayasan mereka, Rudi Karno, yang berjudul Palestina dan Suar.

“Puisi Palestina menceritakan tentang kezaliman bangsa zionis yang telah membumihanguskan bangsa Palestina,” ujarnya.

Puisi tersebut dibawakan salam bentuk teater ikal yang menghadirkan pohon Sajaratul Hayat atau pohon kehidupan, yang kemudian dipotong oleh sosok-sosok mereka yang disebut zionis.

Sementara itu, Suar berkisah tentang bagaimana manusia yang kehilangan arah harus mencari penerang, yaitu ilmu. Ia jua mengatakan kedua puisi ini saling berkaitan.

Selama kurang lebih empat puluh tahun berkarya, Faisal turut membeberkan sejarah singkat serta keunikan yang menjadi ciri khas dari Sanggar Sesaji Banjarmasin.

Faisal menjelaskan sanggar tersebut didirikan pada tahun 1984 dan sejak awal aktif menggarap puisi, khususnya dalam bentuk musikalisasi. Selain itu, mereka juga kerap menampilkan seni pertunjukan berbasis sastra, seperti teater dan musik.

“Sanggar Sesaji memiliki beberapa ciri khas. Teater dibawakan secara absurd dan surealis. Kalau musik dan puisi, kami lebih banyak menggarap yang beraliran sufistik,” tukasnya.

Ciri khas tersebut sudah sangat melekat sehingga banyak sanggar lain bisa langsung mengenali jika yang sedang tampil adalah Sanggar Sesaji. Sama halnya dengan Ichsan, Faisal mengungkapkan aspirasi terhadap masa depan seni di Kalimantan Selatan.

“Saya berharap mudah-mudahan seniman, mahasiswa, maupun pelajar di Kalimantan Selatan menjadikan pertunjukan puisi sebagai suatu bahan edukasi dan literasi bagi kita. Gali terus potensi seni, terutama seni lokal karena seni dan budaya adalah pondasi bagi kita. Ketika budaya luar masuk, kita bisa menghadangnya dengan budaya kita sendiri. Generasi yang kehilangan seni budaya berarti kehilangan jati dirinya. Semoga karya seni tetap maju,” lanjutnya.

Sementara itu, Heni Apriani Nisa atau kerap disapa Aluh menjadi salah satu penonton sekaligus penampil dalam acara ini. Ia membawakan puisi karya Adjim Arijadi secara spontan dan percaya diri.

“Niatnya hari ini mau menonton, ternyata dipersilakan tampil oleh Ibu Eli Rahmi. Beliau juga yang ngasih puisi yang saya bawakan, puisi oleh Pak Adjim Arijadi. Ini pertama kalinya membacakan puisi beliau,” tandasnya.

Dari sudut pandang penikmat karya sastra, Aluh memberikan komentar sekaligus harapan terhadap acara ini.

“Untuk acara ini menurut saya sudah sangat baik. Namun, sepertinya kita harus mengajak apresiator lagi untuk menonton. Jadi, tim produksi bisa mengajak lagi para apresiator untuk menonton. Selebihnya bagus dan luar biasa, keren!” tutup Aluh.

Penulis: Zulfa

Penyunting: Nova Lisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *