Berlakukan Sistem Baru, Voting Berbayar Duta FKIP Menuai Sorotan

Berlakukan Sistem Baru, Voting Berbayar Duta FKIP Menuai Sorotan

Sharing is Caring
       
  

Banjarmasin, Warta JITU— Pemilihan Duta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tahun ini memunculkan perhatian setelah sistem voting berbayar diberlakukan untuk menentukan duta terfavorit.

Sistem ini dikonfirmasi langsung oleh Ketua BEM FKIP, Andri Noor Azumardi.

“Voting berbayar ini kami hadirkan sebagai bagian dari upaya penilaian yang lebih jelas untuk kategori duta terfavorit,” ujar Andri saat diwawancarai.

Ia mengatakan, selama ini kategori tersebut hanya dianggap sebagai pelengkap, tanpa tolok ukur yang konkret.

“Dengan voting, kami ingin melihat bagaimana peserta membranding diri, bukan hanya di atas panggung, tapi juga ke masyarakat luas,” jelasnya.

Setiap suara dalam voting dihargai Rp2.000. Andri menegaskan, sistem ini tidak bersifat memaksa, melainkan menjadi bagian dari strategi peserta dalam membangun dukungan. Dana yang terkumpul digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional seperti dekorasi panggung dan sebagai hadiah.

Ia juga menyampaikan bahwa koordinasi dengan pihak fakultas telah dilakukan dan disepakati.

“Kami bekerja sama dengan sponsor, dan sistem ini sudah kami komunikasikan. Dana dari fakultas memang ada, tapi tidak cukup karena efisiensi anggaran,” tambahnya.

Mengenai legalitas sistem ini, Andri menyampaikan telah mendapat restu dari Wakil Dekan III FKIP, Ali Rachman dengan catatan tidak dilakukan dalam bentuk penjualan tiket di lingkungan kampus.

“Kalau hanya voting secara online dan targetnya bukan mahasiswa, itu diperbolehkan,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta pemilihan duta yang tidak ingin disebutkan nama lengkapnya, sebut saja, L mengungkapkan pendapatnya. Ia menilai sistem voting berbayar masih menyisakan ketidakadilan.

“Sebelumnya saya merasa kurang adil sih, karena seharusnya jika voting itu diadakan dan itu berbayar, tidak mengapa. Tetapi harus dibatasi, satu akun hanya boleh satu vote yang bisa diberikan,” ujar L melalui pesan singkat.

Penerapan sistem ini memunculkan pertanyaan lebih lanjut.

Apakah duta terfavorit pada akhirnya akan ditentukan oleh jumlah pendukung, atau kemampuan finansial pendukungnya?

Dalam kondisi tanpa batasan teknis yang ketat, sistem ini berpotensi menguntungkan peserta dengan jaringan yang lebih luas dan dana yang lebih kuat.

Andri menyatakan teknis penilaian masih akan dibahas bersama dewan juri dan akan dievaluasi untuk pelaksanaan di tahun-tahun mendatang.

Penulis: Dewi, Nova Lisa

Penyunting: Asil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *