Banjarmasin, Warta JITU — Ruang 19 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tengah menjalani proses renovasi setelah sebelumnya dilaporkan mengalami keretakan pada bagian bangunan. Berdasarkan pantauan tim redaksi LPM Warta JITU FKIP ULM pada Sabtu (28/2) perbaikan tersebut telah berlangsung dalam beberapa minggu terakhir.
Ketua Jurusan Pendidikan Ekonomi, Muhammad Rahmatullah, menjelaskan bahwa keretakan pada ruang tersebut sebenarnya telah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan telah diusulkan kepada pihak fakultas. Namun, pelaksanaan renovasi baru dapat direalisasikan tahun ini karena adanya pertimbangan prioritas anggaran akibat efisiensi.
“Sebenarnya itu sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan sudah disampaikan ke fakultas. Cuma mungkin karena masih ada segala prioritas sehingga baru sekarang bisa akhirnya diperbaiki. Alhamdulillah, mungkin juga terkait dengan adanya efisiensi anggaran sehingga ada prioritas-prioritas kegiatan,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa renovasi tersebut cukup memengaruhi proses perkuliahan, mengingat Ruang 19 merupakan salah satu ruang yang dominan digunakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi. Akibat perbaikan, ruang tersebut untuk sementara tidak dapat difungsikan.
Sebagai langkah antisipasi, pihak jurusan bersama fakultas telah menyiapkan dua opsi agar perkuliahan tetap berjalan lancar. Opsi pertama adalah memindahkan kegiatan belajar mengajar ke sejumlah ruang alternatif yang telah disediakan fakultas, seperti Aula Hasan Bondan serta beberapa ruang kosong lainnya. Selain itu, laboratorium juga dimanfaatkan sebagai ruang pengganti sementara.
“Beberapa tempat sudah disediakan oleh fakultas sebagai opsi. Kami juga menggunakan ruang lab sebagai opsi pengganti sementara hingga perbaikan selesai. Jika memang terjadi tabrakan jadwal, dosen juga dipersilakan menggunakan sistem pembelajaran daring,” jelasnya.
Rahmatullah menambahkan bahwa koordinasi antara jurusan dan fakultas telah dilakukan secara intensif, termasuk dengan pihak yang menangani perbaikan sarana dan prasarana (sarpras). Menurutnya, komunikasi berjalan baik melalui edaran resmi maupun koordinasi secara langsung.
Selanjutnya, ia menilai pentingnya sistem manajemen perencanaan sarana dan prasarana yang lebih terstruktur di tingkat fakultas. Ia mengusulkan adanya roadmap pengelolaan sarpras, termasuk pemantauan berkala dan rencana perbaikan berkelanjutan.
“Ruang kuliah ini sangat penting sehingga memang perlu perencanaan yang matang dan monitoring rutin. Kalau memang ada kerusakan, bisa segera dilakukan perbaikan. Mudah-mudahan dari universitas maupun fakultas bisa lebih memperhatikan penganggaran terkait sarpras, khususnya ruang kuliah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi periode 2025, Muhammad Zainadi, mengaku telah mengetahui adanya keretakan sejak ia semester dua atau lebih tepatnya 2025. Ia menyebut retakan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa.
“Tanggapan saya lebih ke khawatir, apalagi retaknya itu di dekat meja dosen dan kadang kami presentasi maju ke depan sehingga merasa was-was. Ada beberapa keluhan dari teman-teman juga,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai renovasi yang dilakukan saat ini tidak terlalu mengganggu perkuliahan karena mata kuliah yang sebelumnya menggunakan Ruang 19 telah dialihkan ke ruang lain.
Zainadi berharap setelah renovasi selesai, fasilitas di Ruang 19 dapat ditingkatkan agar lebih nyaman bagi mahasiswa, seperti penambahan pendingin ruangan (AC) serta pengecatan ulang bagian dalam kelas.
Penulis: Kiki
Penyunting: Dewi
