Panggung Aksi untuk Hutan yang Kian Sempit! Aksi Kamisan Serukan Keadilan Ekologis

Panggung Aksi untuk Hutan yang Kian Sempit! Aksi Kamisan Serukan Keadilan Ekologis

Sharing is Caring
       
  

Banjarmasin, Warta JITU— Deretan poster, teatrikal, dan lantangnya suara mahasiswa kembali menggema di depan Gerbang ULM dalam gelaran Aksi Kamisan ke-71. Bertajuk Dari Meratus ke Raja Ampat: Stop Deforestasi & Tambang Ugal-Ugalan! Aksi ini menjadi bentuk konsistensi perlawanan terhadap eksploitasi alam yang terus meluas dari Kalimantan hingga Papua.

Muhammad Khafi, penggerak Aksi Kamisan Kalimantan Selatan, menegaskan bahwa tema kali ini bukan sekadar slogan, melainkan wujud nyata pembelaan terhadap krisis ekologi yang semakin parah.

Muhammad Khafi, penggerak Aksi Kamisan Kalimantan Selatan (Warta JITU)

“Tujuan aksi ini sebagai bentuk perlawanan terhadap eksploitasi alam yang ugal-ugalan serta pembelaan terhadap negara atas kerusakan ekologi. Kami menolak tambang rakus dan perampasan hak masyarakat adat dari Meratus sampai Raja Ampat!” tegasnya.

Khafi juga menyoroti pencabutan empat izin tambang di Raja Ampat yang sempat dianggap langkah positif, namun menurutnya hanyalah kamuflase semu.

“Izin tambang di Raja Ampat memang dicabut, tapi itu bukan kemenangan. Itu hanya ilusi perbaikan,” ujarnya.

Dalam orasi, Farida Anselmamogan, mahasiswa asal Distrik Jair Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, mengangkat suara dari wilayah timur yang telah lama merasakan dampak eksploitasi.

“Hutan kami habis, digantikan kebun sawit! Sekarang yang kami banggakan tinggal Raja Ampat, dan itu pun mulai diincar. Saya datang ke sini, berpanas-panasan, demi hutan adat kami!” serunya penuh emosi.

Aksi yang diikuti oleh berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat sipil ini menyampaikan tiga tuntutan utama:

  1. Keadilan ekologis yang menyeluruh, bukan sekadar penutupan tambang, tetapi juga pemulihan wilayah yang telah rusak.
  2. Penghentian seluruh proyek ekstraktif yang merusak lingkungan dan menggusur rakyat dari ruang hidupnya.
  3. Perubahan kebijakan yang berpihak pada kehidupan dan keberlanjutan, bukan semata keuntungan ekonomi.

Aksi ini juga menyuarakan kritik terhadap narasi pembangunan yang kerap menutupi praktik perusakan lingkungan.

“Jangan bungkus kejahatan lingkungan dalam kata pembangunan!” tegas Khafi.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap, aksi teatrikal, dan musik akustik yang menyuarakan kepedihan masyarakat adat dan alam yang dirampas. Seruan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan lingkungan bukan hanya soal hari ini, melainkan tentang masa depan bersama.

Penulis: Dewi/Nova Asri

Penyunting: Asil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *