Memiliki pendidikan yang tinggi adalah impian serta keinginan setiap orang terlepas dari latar belakang yang dimiliki. Semua orang berhak memiliki pendidikan yang baik. Membahas tentang pendidikan, permasalahan yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan adalah tentang perempuan yang berpendidikan tinggi di kalangan masyarakat.
Perdebatan tentang perempuan yang berpendidikan tinggi sebenarnya bukanlah hal yang baru lagi baik di dunia nyata maupun media sosial misalnya di Instagram, X, dan sebagainya. Sejak zaman dahulu perempuan seakan memiliki lebih banyak batasan dibandingkan laki-laki salah satunya dari segi pendidikan. Hal ini seakan dibiarkan sampai turun-temurun. Meski sudah memasuki era modern, ternyata hal itu masih dipercaya oleh banyak orang.
Semua orang terutama kaum perempuan pasti pernah mendengar perkataan seperti :
“Untuk apa sih perempuan sekolah tinggi-tinggi ujungnya ngurus rumah juga.”
“Buat apa berpendidikan tinggi, toh, akhirnya ke dapur juga.”
“Jangan sekolah tinggi-tinggi nanti susah nyari jodoh.”
atau
“Duh! Cape-cape sekolah nanti jadi ibu rumah tangga juga, tuh.”
Kalimat-kalimat tersebut bagaikan belenggu bagi perempuan. Menguatkan stigma bahwa perempuan hanya akan berakhir di dapur, seolah-olah memadamkan semangat dan ambisi mereka. Stigma ini membuat perempuan merasa sia-sia dan ragu untuk meraih mimpi mereka, sekuat apapun usaha yang mereka lakukan.
Stigma tersebut masih ada sampai sekarang dikarenakan budaya yang melekat pada masyarakat yang menjadi salah satu faktor pendidikan untuk laki-laki lebih utama daripada perempuan. Padahal kenyataannya tak hanya untuk laki-laki, pendidikan juga sangat penting bagi perempuan. Karena sesungguhnya, pendidikan adalah hak setiap orang dan merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki taraf kehidupan kedepannya agar menjadi lebih baik.
Mengapa perempuan penting memiliki pendidikan? Secara garis besar, ada tiga peranan perempuan dalam pendidikan yaitu untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Peran pertama perempuan dalam pendidikan adalah untuk meningkatkan value dirinya. Seorang perempuan akan lebih dipandang apabila dia memiliki status yang lebih tinggi. Dengan mendapatkan pekerjaan yang baik akan dihormati oleh banyak orang, sebaliknya jika perempuan tidak berpendidikan tinggi terkadang akan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.
Kemudian, peran kedua adalah untuk keluarga. Setiap perempuan hakikatnya pasti akan menjadi seorang istri dan ibu yang akan melahirkan seorang anak, meski beberapa ada yang tidak ingin memiliki anak dalam waktu dekat dan mengurus rumah tangga. Namun, sebagai seorang istri, perempuan yang berpendidikan tinggi lebih cenderung memilih pasangan yang setara. Misalnya, memiliki pola pikir yang tidak jauh berbeda. Karena dengan begitu satu sama lain akan lebih menghargai dan tidak ada yang merasa direndahkan atau diremehkan, sehingga dapat terciptanya keharmonisan dalam rumah tangga.
Selain itu, seorang perempuan pasti akan menjadi seorang ibu dan melahirkan seorang anak, meski ada beberapa yang memilih untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu. Tentunya akan bertanggung jawab besar dalam tumbuh kembang anaknya.
Perempuan dengan pendidikan yang tinggi dapat melahirkan generasi yang cerdas dan berkualitas dalam keluarganya. Karena seorang ibu yang berpendidikan mempunyai pengetahuan lebih dalam mengembangkan potensi anaknya. Namun, bukan berarti seorang ibu yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi tidak dapat membesarkan anaknya dengan baik, umumnya akan ada perbedaan pada pola asuh diantara keduanya.
Membahas antara perempuan yang berpendidikan tinggi dan yang tidak, mengenai pola asuh anak dapat kita lihat di lingkungan masyarakat sekitar. Misalnya, ibu A yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi dan ibu B yang memiliki pendidikan yang tinggi. Ibu A dalam pola asuhnya akan cenderung mengikuti pola asuh yang telah diajarkan oleh ibunya saat ia masih kecil atau bisa disebut pola asuh turun-temurun. Kemudian ibu B dalam pola asuhnya akan mengombinasikan pengetahuan yang didapat selama masa menempuh pendidikan, dan cenderung berusaha menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun, diantara dua pola asuh tersebut pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kemudian, peran perempuan di masyarakat, yaitu dengan memperoleh pekerjaan dan cara bersosialisasi. Di zaman sekarang salah satu syarat untuk mendapatkan pekerjaan baik laki-laki maupun perempuan adalah melalui pendidikan. Riwayat pendidikan akan menjadi patokan dari sekian banyak kriteria saat melamar pekerjaan. Perempuan yang berpendidikan tinggi mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang lebih tinggi. Sehingga pendapatan yang diperoleh cenderung lebih besar.
Dalam pergaulan perempuan yang memiliki pendidikan tinggi dan tidak, akan terdapat perbedaan. Karena pendidikan merupakan sebuah mindset atau pola pikir seseorang. Misalnya, perbedaan pada cara menjaga ruang lingkup pergaulan, bersosialisasi, dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.
Hal tersebut bisa disebabkan oleh kurangnya pemahaman atau pengetahuan yang didapatkan. Tak jarang sampai sekarang masih marak kasus tentang pernikahan dini dan sebagainya.
Membahas tentang stigma perempuan yang berpendidikan tinggi, banyak perbincangan yang menanggapi hal tersebut baik dari sisi perempuan yang berpendidikan tinggi dan tidak, misalnya seperti ini:
“Kuliah gak kuliah, kan sama aja, ujung-ujungnya akan jadi ibu rumah tangga. Jadi, buat apa capek-capek?”
“Justru itu, karena kita akan jadi seorang ibu, kita perlu punya pengetahuan yang luas untuk anak kita nanti.”
“Tapikan gak kuliah juga bukan hal yang buruk, toh, anak kan masih bisa di sekolahkan.”
“Iya, memang benar, tapi sebelum ke sekolah pasti kita yang akan mengajarkan pengetahuan pertama sama anak kita nanti.”
“Sebenarnya gak harus kuliah juga sih untuk dapat pengetahuan itu, kan masih bisa belajar lewat internet, sama kan gak semua orang bisa kuliah, misalnya karena ekonomi dan lingkungan.”
“Kuliah atau engga itu sebenarnya hak masing-masing orang untuk memilih mau atau tidak, lagian tidak ada yang memaksa atau mewajibkan untuk kuliah, tapi sebenarnya menurutku kuliah itu juga salah satu aset yang bisa membuat kita keluar dari lingkungan yang seperti yang kamu bilang dan juga salah satu usaha untuk memperbaiki ekonomi kedepannya.”
“Tapi kalau kulihat gak jarang tu lulusan kuliah nganggur, jadi apa bedanya?”
“Nah, itu berarti balik ke individunya sama rezekinya, dia mau berusaha atau engga.”
Mari kita telaah lagi. Memang benar, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan ekonomi, kurangnya dukungan lingkungan, atau bahkan karena progres mendapatkan pekerjaan yang tidak jauh berbeda dengan pendidikan yang lebih rendah.
Namun, di era modern ini, banyak peluang tersedia bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi, bahkan bagi mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu. Berbagai program beasiswa dan jalur pendidikan alternatif dapat menjadi solusi untuk mewujudkan mimpi meraih pendidikan tinggi.
Perlu diingat, progres mendapatkan pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh pendidikan tinggi semata. Faktor lain seperti relasi, pengalaman kerja, dan kemampuan mencari peluang juga memainkan peran penting.
Simpulannya, stigma yang melekat pada perempuan berpendidikan tinggi, bahwa mereka pada akhirnya hanya akan berakhir di dapur, perlu dibantah. Perempuan memiliki peran yang jauh lebih luas dan penting, baik bagi diri mereka sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Pendidikan tinggi merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas hidup di masa depan.
Namun, penting untuk diingat bahwa perempuan yang tidak memiliki pendidikan tinggi bukanlah perempuan yang buruk. Setiap orang memiliki pola pikir dan jalan hidupnya masing-masing untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan.
Penulis : Aries
Penyunting : Mike
