Hari ini seperti biasa aku terbangun di tempat antah berantah. Sebenarnya aku di mana, segalanya masih terasa asing. Hiruk-pikuk kota yang tidak terlalu cocok bagiku, namun malah membuatku berlarut-larut terjebak di dalamnya. Di sini terlalu ramai, tapi tetap saja aku merasa kosong. Tapi ya mau bagaimana lagi, inilah jalan yang kupilih pergi merantau jauh dari orang tua. Dulu ku pikir dengan menjadi dewasa aku akan merasa bebas, hidup berjauhan dari orang tua yang terkadang suka mengekang. Di sini bisa ku lakukan apapun yang ingin ku lakukan, tapi nyatanya semua masih terasa abu-abu. Masih ku cari di mana letak kebebasan yang membahagiakan itu, nyatanya tidak ada yang seperti itu.
Dewasa menuntutku untuk memendam, dewasa membuatku untuk menahan, dewasa membuatku lagi-lagi memasang senyum di segala keadaan. Mirisnya kebahagiaan yang dikhayalkan anak kecil berusia 10 tahun di foto itu, senyumannya begitu tulus dahulu dengan keinginan besar tumbuh dewasa. Nyatanya setelah berusia 20 tahun senyumnya menjadi palsu. Di luar kuat, di luar merasa hebat, malamnya menangis tersedu-sedu meratapi nasib, malamnya merindukan rumah, malamnya ingin menyerah.
Tapi apakah aku selemah itu? Tentu tidak. Ku kenakan baju putih dan celana hitam ini lagi yang entah menjadi kali kesekian ku kenakan minggu ini. Jika mahasiswa mengenakan baju hitam putih artinya apa? Tentu artinya dalam bahaya, bukan seperti itu maksudku sedang memperjuangkan hasil akhir dari satu semester yang telah dilewati dengan suka duka. Hari-hari dimasa ujian terasa berat, belum lagi melihat masing-masing kamar di kos terkunci rapat, menandakan pemiliknya sudah berpulang duluan. Lagi-lagi yang tersisa hanya aku, benar kata mereka menjadi dewasa membuatmu terbiasa sendirian.
Di keheningan malam berdering lagi, ya dering telepon dari ibu. Suaranya di seberang bagai secercah harapan di gelapnya malam. “Lebaran tahun ini pulang nak?”, pertanyaan itu entah berapa kali sudah dilontarkannya. Jawabanku selalu abu-abu, yang bisa ku ucap hanya tunggu, kepastian masih ku ragu. Lagi-lagi ku meminta dia untuk bersabar dulu. Sungguh Bu, aku juga mau pulang, tapi belum bisa sekarang, ujianku masih menunggu untuk dikerjakan.
Penulis: Fitriana
Penyunting: Fitriana
