Tak Sekuat Dulu, Jurnalisme Kini Lebih Banyak Mencari Keuntungan

Sharing is Caring
       
  

Banjarmasin, Warta JITU – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta JITU Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (FKIP ULM) telah selesai menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “R.I.P Journalism: Welcome to The Era of Content Marketing”, bertempat di Aula Kayuh Baimbai Pemerintah Kota Banjarmasin, Sabtu (30/7).

Makna dari tema seminar nasional LPM Warta JITU tahun 2022 ini adalah media massa berbasis jurnalisme saat ini telah berada diambang kematian karena eksistensinya tidak sekuat dulu, sehingga menyebabkan media massa kini banyak yang berpindah haluan untuk mencari keuntungan-keuntungan melalui content marketing dan melakukan clickbait yang berlebihan serta melanggar kode etik jurnalistik yang berlaku.

“Seminar ini bertujuan menghasilkan pemikiran yang kritis dan kreatif dengan permasalahan yang menjadi tema, yaitu matinya berbagai media massa yang tidak lagi mementingkan kualitas konten jurnalistik yang sesuai kode etik,” ujar Ketua Pelaksana Semarak VII LPM Warta JITU Muhammad Ridhoni melalui sambutannya.

Seminar nasional yang menjadi agenda tahunan dalam perayaan dies natalis LPM Warta JITU, kali ini berkesempatan mengundang dua pemateri yang ahli di bidangnya, yaitu salah satu anggota AJI Balikpapan Biro Banjarmasin Fariz Fadhillah yang membawakan materi mengenai melemahnya eksistensi jurnalisme di Indonesia dan Pendiri Tabloid Mahasiswa Intr-O FISIP ULM dan Lembaga Penerbitan Mahasiswa Kinday ULM Budi Kurniawan yang memaparkan materi mengenai reposisi pers mahasiswa (persma) di tengah melemahnya eksisitensi jurnalisme.

Fariz Fadhillah dari AJI Balikpapan Biro Banjarmasin.

Dalam penyampaiannya, Fariz mengungkapkan bahwa saat ini portal berita terkadang membuat judul yang bersifat clickbait untuk dapat menarik banyak perhatian pembaca karena makin banyak halaman yang dibuka, maka makin banyak pula keuntungan atau uang yang diterima oleh publishers.

“Tapi clickbait ini ada sisi buruknya juga, terkadang supaya banyak dibaca, judul beritanya jadi nyeleneh dan tidak sesuai isi beritanya. Ada juga yang menyertakan foto korban tanpa menyensor wajahnya, itu sudah termasuk pelanggaran kode etik,” jelasnya.

Dirinya menyampaikan, solusi bagi pembaca agar bisa mendapatkan berita yang bagus dan berkualitas adalah cerdas dalam memilah informasi dan saring sebelum sharing.

“Jikalau media digital mencari uang hanya dengan mengandalkan iklan Google ads dan lainnya, yang rumusnya ‘makin banyak pembaca, makin banyak iklan yang masuk’, maka senjakala jurnalisme memang sudah tiada,” pungkas Fariz.

Budi Kurniawan selaku Pendiri Tabloid Mahasiswa Intr-O FISIP ULM dan Lembaga Penerbitan Mahasiswa Kinday ULM.

Di samping itu, Budi Kurniawan yang membahas mengenai reposisi persma di tengah melemahnya eksistensi jurnalisme menyampaikan bahwasanya persma jangan terlalu terbebani oleh romantisme sejarah karena sejatinya seiring pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, hal itu membuat keadaan persma tak selalu sama dengan persma yang dulu.

“Kalian hidup dengan zaman kalian, dengan platform yang berbeda dan tantangannya juga berbeda. Jangan silau dengan pencapaian generasi sebelumnya yang tampak hebat itu, cukup anggap itu sebagai energi saja untuk kalian,” ucap Budi.

“Tapi jangan sampai dengan kemudahan teknologi dan zaman ini membuat kalian tidak melakukan apa-apa,” tutupnya.

Penulis: Snm

Editor: Ums

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *