Kita, Prokrastinasi Akademik, dan Lainnya

Sharing is Caring
       
  

Selama menjalani perkuliahan, sejak pertama kali mengumpulkan niat untuk menjadi seorang mahasiswa. Pastinya, harus memiliki niat dan harapan yang ingin diraihnya kelak. Ada banyak tujuan dari setiap orang yang ingin berkuliah. Mulai dari mendapatkan pekerjaan, meraih gelar, menambah pengetahuan, memperluas relasi, hingga meningkatkan status sosial, dan sebagainya. Barang kali beberapa hal tersebut termasuk dari salah satu tujuan kita menjadi mahasiswa. Tujuan-tujuan itulah yang menjadi alasan seseorang untuk tetap melanjutkan langkah dan terus survive menghadapi kehidupan perkuliahan.

Pada tahap awal perjalanan, seseorang berusaha mengenal dan beradaptasi. Semua masih menyenangkan dan mengasyikkan. Sebagai mahasiswa baru (maba), kita tertarik mencoba hal-hal baru yang ditawarkan. Salah satunya adalah berorganisasi. Dengan itu, seseorang mulai terlihat sibuk dan berusaha membagi waktu dengan baik. Tugas kuliah, kegiatan organisasi, dan hal pribadi lainnya harus benar-benar dibagi sesuai porsinya. Belum lagi, bagi mereka yang sambil bekerja. Kita sama-sama dituntut semesta untuk tahan banting dan sekuat baja.

Namun, namanya jiwa muda, kita terkadang masih terbuai dalam hal-hal yang ‘dipenting-pentingkan’. Seperti nongkrong tiap malam tanpa tujuan yang jelas, bermain game online sampai lupa waktu, scroll media sosial sampai insecure, dan hal lainnya. Kecenderungan seseorang yang tak bisa membedakan hal penting dan hal yang ‘dipenting-pentingkan’ ini kalau dimanjakan akan menimbulkan masalah. Sebuah penundaan terhadap tugas penting dan mengabaikannya dalam jangka waktu tertentu, dikenal dengan prokrastinasi akademik. Hal ini bisa terjadi terhadap siapa saja, khususnya mahasiswa.

Prokrastinasi akademik ini menyebabkan seseorang menjadi suka menunda-nunda tugas atau pekerjaan yang mestinya dapat diselesaikan dengan baik. Tidak hanya itu, prokrastinasi akademik ini bisa saja membuat seseorang mengabaikan kewajibannya. Ia lebih memilih kegiatan lain yang dianggapnya penting. Sebaiknya kebiasaan ini dihindari, terutama mahasiswa seperti kita yang punya peran di organisasi. Meskipun kadang dianggap sepele menunda tugas ini, tetapi dampak yang ditimbulkan tidak akan baik. Sebab bukan hanya merepotkan diri sendiri, tetapi juga orang lain yang terlibat dalam tugas atau pekerjaan tersebut. Jangan sampai seseorang yang percaya pada kemampuan kita dalam memberikan tugas itu merasa kecewa dengan kebiasaan prokrastinasi akademik ini.

Sesibuk apapun, seseorang harus bisa mengatur waktunya dengan baik. Terlebih, jika bisa membuat skala prioritas, itu tentunya sangat berguna untuk manajemen diri. Mari kita biasakan dan lebih selektif lagi dalam menentukan hal yang penting dan hal yang ‘dipenting-pentingkan’ ini. Sesekali, seseorang memang perlu menarik napas sejenak dan menikmati hal-hal yang sudah terlewati. Baik itu dengan healing, self reward, atau lainnya. Namun yang terpenting, jangan sampai lupa waktu, menunda tugas, dan melupakan niat awal kita menjadi seorang mahasiswa.

Penulis: Reza Syarief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *