Banjarmasin, Warta JITU — Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tahun 2026 dijadwalkan akan berlangsung pada 11 Agustus mendatang. Berdasarkan panduan resmi yang diterbitkan pihak universitas, kegiatan tersebut akan dilaksanakan di dua lokasi berbeda, yakni di Gedung Sultan Suriansyah untuk kampus Banjarmasin dan Auditorium ULM Banjarbaru untuk kampus Banjarbaru.
Rencana pelaksanaan PKKMB di Gedung Sultan Suriansyah ini menuai pertanyaan dari sejumlah mahasiswa. Pasalnya, lokasi tersebut berbeda dengan tempat penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya yang secara konsisten hanya digelar di Auditorium ULM Banjarbaru.
Koordinator Minat, Bakat, Penalaran, dan Informasi Kemahasiswaan, Zuhdian Noor, menjelaskan bahwa keputusan pelaksanaan di dua lokasi tersebut merupakan hasil evaluasi tahunan antara Wakil Dekan III dan Wakil Rektor. Ia menambahkan, kebijakan itu diambil dengan mempertimbangkan masukan dari orang tua serta pihak terkait yang menyoroti potensi kepulangan mahasiswa yang terlalu malam, meskipun acara hanya berlangsung hingga sore hari, mengingat keesokan harinya mahasiswa baru masih harus mengikuti rangkaian kegiatan di tingkat fakultas.
“Atas dasar itu, Pak WR III mau mencari yang lebih efisien dan agar mahasiswa itu tidak terbebani dengan adanya PKKMB ini. Akhirnya, diambil kesimpulan bahwa PKKMB itu kita laksanakan di dua tempat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pelaksanaan PKKMB tingkat universitas tahun ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun lalu kegiatan digelar selama dua hari, maka kali ini acara dipadatkan menjadi satu hari saja.
Tidak hanya itu, ia juga menilai bahwa Gedung Sultan Suriansyah dipilih karena hingga saat ini ULM Banjarmasin belum memiliki fasilitas gedung yang mampu menampung seluruh mahasiswa baru dengan estimasi 3.000 hingga 4.000 orang. Bahkan, opsi awal sempat mengarahkan kegiatan kampus Banjarmasin ke area terbuka kampus.
“Kita berpikir sempat ingin melaksanakan di Open Space, tapi itu tempat terbuka. Khawatirnya nanti cuacanya panas dan kasian juga mahasiswanya. Cobalah kita lihat di gedung sebelah, ternyata ruangnya lebih representatif juga dan bisa menampung dengan jumlah yang standar kita. Akhirnya kita kerja samalah memakai di gedung susu seperti ini,” ungkapnya.
Kendati demikian, penggunaan dua lokasi terpisah bukanlah skema yang sepenuhnya baru. Ia mengungkapkan bahwa metode serupa pernah diterapkan pada masa lalu sebelum ULM memiliki gedung auditorium mandiri.
Selain itu, ia menuturkan bahwa pemilihan Gedung Sultan Suriansyah turut didasari pertimbangan efisiensi anggaran. Biaya mobilisasi massal, termasuk penyediaan bus untuk ribuan mahasiswa baru, dinilai jauh lebih besar dibandingkan biaya sewa gedung. Efisiensi tersebut juga sejalan dengan pemangkasan durasi acara universitas menjadi satu hari penuh.
“Efisiensi kita hanya terlaksanakan satu hari. Tapi begitu kita ke Gedung Sultan Suriansyah yang harganya lebih murah daripada biaya mobilisasi kita. Setelah kita kompilasi ternyata lebih murah,” tuturnya.
Konsekuensi dari durasi acara yang hanya berlangsung sehari membuat agenda pengenalan organisasi mahasiswa (ormawa) terpaksa ditiadakan dari susunan acara utama tingkat universitas.Meskipun begitu, ia memastikan bahwa perkenalan ormawa tidak dihilangkan sepenuhnya, melainkan dialihkan ke dalam rangkaian perayaan Dies Natalis ULM. Menurutnya, fokus utama PKKMB sejatinya adalah pengenalan sistem perkuliahan kepada mahasiswa baru sesuai koridor pedoman kementerian.
“PKKMB itu sebenarnya ingin mengenalkan sistem perkuliahan. Jadi kita pun dibatasi dari rambu-rambu kurikulum dari Kementerian Belmawa. Di sana kita sudah dikasihkan pedoman. Di dalam pedomannya sendiri pun memang tidak ada memperkenalkan masalah tentang organisasi. Itu hanya kreatif kita yang kita masukkan ke PKKMB. Tapi supaya itu tidak hilang, akhirnya kita adakan di Dies Natalis. Artinya tujuan kita mengenalkan Ormawa itu tidak hilang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, setelah rangkaian PKKMB selesai, pihak universitas akan melakukan pemantauan dan evaluasi komprehensif guna mengukur tingkat keberhasilan kebijakan ini serta menilai kelayakannya untuk diterapkan kembali pada masa mendatang.
“Setelah PKKMB ini kita akan monitoring dan evaluasi lagi. Kita juga menyampaikan biasanya lewat kuisioner-kuisioner ke fakultas. Sehingga apa masukan mereka, itu yang menjadi evaluasi kita. Kalau memang pelaksanaan di dua tempat ini lebih efektif dan efisien, dan itu lebih bagus maka itu akan kita laksanakan di tahun depan. Tapi kalau ternyata ada kendala-kendala yang ternyata tidak terlalu efektif lagi, ini kita akan mencari terobosan baru yang lebih bagus. Artinya kita akan mengambil satu pakem yang pas untuk pelaksanaan PKKMB ini,” jelasnya.
Sebagai penutup, ia menyampaikan harapan agar seluruh rangkaian PKKMB tahun ini dapat berjalan sukses, sehingga mahasiswa baru mendapatkan gambaran yang utuh mengenai ekosistem akademik di lingkungan kampus.
“Harapan terbesar tentu sukses dalam PKKMB mahasiswa. Mahasiswa secara awal masuk ke ruang ULM itu mengetahui bagaimana cara pendidikan di ULM. Nanti bagaimana mereka berinteraksi dengan dosen, dengan teman baru di mahasiswa, dengan cara pembelajaran baru. Walaupun ini awal, harapannya mereka sudah tergambarkan bagaimana kuliah di ULM,” tutupnya.
Penulis: Nada
penyunting: Kiki
