Sering Diremehkan, Haruskah Mahasiswa Lulusan FKIP Jadi Guru?

Sering Diremehkan, Haruskah Mahasiswa Lulusan FKIP Jadi Guru?

Sharing is Caring
       
  

Keterkaitan antara jurusan pendidikan dan profesi guru telah festa di masyarakat, menyebabkan anggapan bahwa semua mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) akan berakhir sebagai guru. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa prospek karir lulusan pendidikan jauh lebih luas daripada sekadar mengajar.

“Kalian semua itu adalah calon guru.” 

Mahasiswa FKIP sering kali dihadapkan pada stereotip bahwa mereka semua adalah calon guru, sebuah pandangan yang tidak selalu sesuai dengan minat dan bakat mereka. Banyak yang memilih program studi di FKIP karena passion tertentu, seperti contohnya mahasiswa Pendidikan Komputer yang lebih tertarik pada teknologi daripada mendidik.

Seperti yang kita ketahui bersama, guru merupakan pelaku utama yang berperan penting dalam dunia pendidikan. Bekerja sebagai guru tidak hanya sekedar memberi materi kepada murid saja, tetapi bertanggung jawab untuk membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik, serta harus memiliki kesabaran yang luas. Hal ini tidak semua orang memilikinya.

Banyak orang tua di luar sana yang menginginkan anaknya menjadi guru, kemudian mendaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), karena menganggap gaji yang akan diterima cukup besar. Faktanya, banyak guru mengeluh karena gaji mereka tidak sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Oleh sebab itu, tidak jarang mahasiswa FKIP merasa salah jurusan karena mengikuti kemauan orang tua mereka.

Namun, tidak sedikit juga mahasiswa yang memang memilih program studi (prodi) di FKIP karena sesuai dengan passion mereka, tetapi tidak dengan pendidikannya. Contohnya, mahasiswa yang memilih prodi Pendidikan Komputer karena dia gemar dan mahir menggunakannya. Namun, ia hanya mengincar ilmu tentang komputer dan bukan tentang bagaimana cara menjadi guru dan cara mendidik murid. Akibatnya, muncul rasa tidak senang ketika seseorang mengucapkan kalimat seperti:

“Kamu itu adalah calon guru, harus memberi contoh yang baik.”

“Memangnya siapa yang ingin jadi guru? Aku masuk prodi pendidikan ini hanya ingin mendalami tentang komputer saja.”

Banyak orang yang meremehkan mahasiswa yang berasal dari FKIP dan menganggap kuliah di fakultas tersebut adalah hal yang mudah karena hanya mengulang pelajaran yang diperoleh dari SD, SMP, dan SMA saja. 

Tidak hanya itu, mereka juga berpikir jurusan pendidikan adalah jurusan yang bisa dilakukan semua orang, apalagi sekarang didukung oleh teknologi yang sudah canggih. Apa yang ingin dipelajari atau diketahui? Dapat ditemukan dengan mudah, sehingga seiring berkembangnya teknologi, pekerjaan sebagai guru seakan-akan tidak dibutuhkan lagi. Bahkan seiring berjalannya waktu, kalimat ‘Pahlawan tanpa tanda jasa’ sudah tidak dihargai.

Kebiasaan tetangga yang gemar berkomentar tentang mahasiswa FKIP dan membandingkannya dengan mahasiswa fakultas lain dengan prospek kerja lebih luas, dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan cukup mengganggu. Hal ini sering terjadi saat berkumpul di acara tertentu, para tetangga mulai menanyakan tentang pekerjaan di masa depan. Ketika dijelaskan bahwa kita berasal dari FKIP, persepsi mereka langsung tertuju pada profesi guru.

Alih-alih berusaha mengetahui lebih banyak lagi mengenai prospek karir lulusan keguruan, kalimat yang mereka lontarkan justru malah terkesan merendahkan. Percakapan yang sering terjadi atau bahkan sering dilontarkan kurang lebih seperti ini:

“Kamu kuliah jurusan apa?”

“Jurusan pendidikan ….”

“Walah-walah jadi guru toh nanti, kecil dong gajinya.”

Atau mungkin seperti ini:

“Kamu itu kuliah kok ambil pendidikan, liat tuh anaknya ibu A. Dia kuliah manajemen, lulusnya bisa jadi pengusaha atau manajer di perusahaan besar. Kalau lulusan pendidikan, ya mungkin bisanya jadi guru.”

Di balik itu semua, lulus dari FKIP tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ditambah lagi ketika sudah lulus dan menyandang gelar S.Pd, lulusan fakultas ini tidak bisa langsung menjadi guru. Masih banyak tahapan dan proses yang harus ditempuh seorang fresh graduate untuk bekerja sebagai guru, salah satunya harus melanjutkan Pendidikan Profesi Guru (PPG). 

Dapat dibayangkan bagaimana perasaan seorang mahasiswa lulusan FKIP yang benar-benar ingin menjadi guru ketika mendengar kalimat tersebut. Setelah apa yang dia perjuangkan untuk mencapai gelar S.Pd, tetapi tanggapan orang-orang sekitar meremehkan pekerjaan mulia yang diinginkannya.

Mahasiswa fakultas keguruan di bidang pendidikan tidak hanya dibekali dengan pengetahuan teoretis, tetapi juga metodologi dan praktik keilmuan yang komprehensif dalam berbagai aspek kependidikan. Hal ini membuka cakupan luas bagi lulusan fakultas keguruan untuk berkarier di berbagai bidang, tidak hanya terpaku pada profesi guru.

Lulusan fakultas keguruan siap untuk berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan dan membangun generasi penerus bangsa yang berkualitas. Beragam prospek karir menanti, seperti bekerja di instansi pemerintahan, mengembangkan solusi pembelajaran berbasis teknologi, menjadi peneliti atau dosen, penulis atau editor buku pendidikan, wirausahawan di bidang pendidikan, dan masih banyak lagi.

Sumber ilustrasi foto: https://pin.it/1fWvCQIIs

Penulis: Fatimah

Penyunting: Khiara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *