Berjuang Sendiri di Perantauan, Pak Mulyana Hanya Dapat Mengandalkan Sandal Hotel

Sharing is Caring
       
  

Ketika menelusuri Jalan Zafri Zam-Zam di Banjarmasin, kamu akan menemui seorang pria tua yang berjualan sandal hotel di trotoar, tepatnya di seberang Rumah Sakit Suaka Insan, ia adalah Pak Mulyana, yang usianya telah menginjak 60 tahun. Pak Mulyana bukanlah orang asli Kalimantan Selatan, melainkan berasal dari tanah pasundan, Bandung, Jawa Barat. Pria tua itu mengaku sudah lama tinggal di Banjarmasin, ia memiliki empat anak yang kini juga berada di Banjarmasin. Namun, ia bercerita bahwa anak-anaknya telah menelantarkannya begitu saja, tidak memberikan bantuan seperti tempat tinggal atau mengurus dirinya yang sudah tua renta. Pak Mulyana juga sudah bercerai dengan istrinya, sehingga ia benar-benar sendiri berjuang di perantauan.

“Anak saya ada empat, semuanya tinggal di Banjarmasin, tapi mereka tidak ada yang mau merawat saya dan mereka menelantarkan saya. Dengan istri juga sudah bercerai,” ujar Pak Mulyana dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar.

Di umur dan kondisinya yang sekarang, seharusnya ia bisa berdiam diri di rumah dengan keluarga untuk menikmati masa tua. Akan tetapi, Pak Mulyana harus bertahan hidup seorang diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk sekadar dapat beristirahat dan tidur sehari-hari pun Pak Mulyana harus menyewa rumah di Trisakti, sedangkan untuk transportasi menuju tempat berjualan, Pak Mulyana menggunakan jasa ojek kenalannya. Namun, terkadang ia juga harus tidur di trotoar yang menjadi tempatnya berjualan jika ojek sudah tidak beroperasi lagi karena sudah terlalu malam.

Pak Mulyana mengaku bahwa ia berjualan sandal hotel sudah sekitar empat bulan lamanya, untuk harga sandal yang ia jual pun tidak ada patokan harga alias sukarela saja. Berjualan sandal hotel memang sudah keinginannya. Sandal hotel itu didapatkannya dari teman yang bekerja di sebuah hotel. Untungnya, setiap hari ada saja yang ingin membeli sandal hotel yang Pak Mulyana jual, meski tak seberapa yang didapatkannya.

Sebelum berjualan sandal hotel, Pak Mulyana sempat berjualan es dan rokok selama tiga tahun menggunakan sepeda motor di wilayah Pelabuhan Trisakti. Namun, sekarang karena kondisinya yang tidak memungkinkan, dirinya tidak lagi bisa menggunakan sepeda motor seperti dulu, sebab kedua mata Pak Mulyana telah mengalami buta katarak sejak dua bulan lalu. Kini Pak Mulyana hanya mengandalkan pendengaran dan suara orang yang berbicara untuk berinteraksi dengan orang lain. Walaupun dengan kondisi seperti itu, Pak Mulyana tetap berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan sandal hotel, tidak mengemis dan hanya mengharapkan belas kasihan semata.

Niat Pak Mulyana sebenarnya ingin sekali untuk melakukan operasi mata dan kembali ke kampung halamannya di Bandung karena di sana masih ada keluarganya. Namun, dengan penghasilan yang didapat dari berjualan sandal hotel, tentu tidak akan cukup untuk membiayai operasi mata Pak Mulyana dan ongkos untuk pulang ke kampungnya. Oleh karena itu, Pak Mulyana sangat mengharapkan adanya uluran tangan untuk dirinya melakukan operasi mata.

“Saya mengharapkan belas kasihan orang-orang yang mau membantu saya untuk operasi mata, itu saja. Cuma itu saja,” ujarnya dengan mata yang tampak sembab.

Penulis: Srr, Abl

Editor: Snm, Ums

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *