
BUAKK!!!
Batang kayu mengayun dan menghantam dahi kiriku dengan keras sampai aku terjungkal. Tubuhku jatuh ke tanah yang becek. Tanpa jeda, tendangan dan pukulan orang-orang menghajar jasadku yang basah kuyup, mungkin karena air comberan yang bercampur dengan keringat kerja kerasku. Pikiranku lama kelamaan mulai memudar, kesadaranku pelan-pelan menghilang diiringi pukulan dan tendangan yang bersarang di tubuhku, yang bisa kulakukan hanya menutupi kepalaku dengan kedua lenganku sembari menekuk lutut. Ingatan masa lalu mulai kesana kemari membayangi benakku, seperti film yang ditayangan secara berulang di layar tancap.
Aku tinggal bersama ayahku di utara Kota Banjarmasin. Berdua kami menempati rumah gubuk yang ada di pinggir sungai. Tumpukan papan dan kayu bekas ditata sedemikian rupa, sehingga hanya muat maksimal dua orang manusia di dalamnya.
Perkenalkan namaku Luka, ayahku biasa memanggilku Luka. Orang lain juga memanggilku Luka. Usiaku terbilang cukup untuk membeli sebatang rokok, tetapi terlalu muda untuk mencari uang. Selama ini ayah selalu bekerja keras banting tulang hanya untuk sesuap nasi. Pekerjannya serabutan, kadang jadi buruh panggul di pasar, kadang juga menjadi marbot di surau terdekat. Intinya kehidupan kami bergantung pada penghasilan ayah.
Ayah tidak pernah memintaku mencari uang sendiri. Kalau boleh jujur, ia tidak pernah berbicara denganku lagi. Iya, sejak saat itu, waktu di mana aku terpaksa harus berhenti sekolah MTs beberapa tahun yang lalu. Hal ini akibat dari uang sekolah yang menunggak dan tidak bisa ditoleransi lagi oleh pihak sekolah. Ayah merasa sangat bersalah, lama kelamaan ia jarang berbicara padaku, yang kulihat makin lama ayah mulai jarang pulang dan ia mempercayakan semua pekerjaan rumah kepadaku.
Kalau ayah menitipkan uang di atas meja, aku bisa menyediakan sarapan seadanya untuknya. Ayah biasa pulang larut malam dan pergi lagi saat subuh. Sikapnya yang dulu lembut lama kelamaan menjadi lebih keras. Ayah sering melampiaskan kekesalannya padaku. Kalau sudah begitu, besiaplah aku menerima cacian dan bentakan darinya. Tak peduli apa yang kulakukan pasti akan salah di mata ayah.
***
BUAKK!!!
Batang kayu mengayun dan menghantam dahi kiriku dengan keras sampai aku terjungkal. Tubuhku jatuh ke tanah yang becek. Tanpa jeda, tendangan dan pukulan orang-orang menghajar jasadku yang basah kuyup, mungkin karena air comberan yang bercampur dengan keringat kerja kerasku. Pikiranku lama kelamaan mulai memudar, kesadaranku pelan-pelan menghilang diiringi pukulan dan tendangan yang bersarang di tubuhku, yang bisa kulakukan hanya menutupi kepalaku dengan kedua lenganku sembari menekuk lutut. Ingatan masa lalu mulai kesana kemari membayangi benakku, seperti film yang ditayangan secara berulang di layar tancap.
***
Ayah memang sosok yang disiplin dan dibesarkan di lingkungan pesantren yang membuatnya taat pada agama. Dia tidak disukai di lingkungan sekitar karena watak kerasnya. Didikan dari kakek yang merupakan seorang mantan pejuang, membuat ayah seperti itu. Ayah bersama ibu meninggalkan kampung kelahirannya demi merantau di kota, dengan membawa semua harta milik kakek untuk dijadikan modal usaha. Tak lama ayah dan ibu kembali dan meminta nenek agar menjual rumah peninggalan kakek untuk tambahan modal lagi. Aku dibawa oleh nenek tinggal di rumah gubuk, tidak jauh dari rumah yang dulu. Tak lama saat aku masih di sekolah dasar, nenek menyusul kakek dan ayah datang menjemputku.
Sampailah aku di kota ini. Sayang, kehidupan kami di kota kurang beruntung. Kami tinggal di tempat paling kumuh, saat itu ibu sedang mengandung. Tak lama kemudian ibu terbaring sakit, mungkin kelelahan karena sambil bekerja. Tidak sampai waktu siang esok hari, ibu meninggalkan kami bersama bayi yang ada di dalam perutnya. Sejak saat itulah sikap ayah mulai berubah makin keras dan kasar kepadaku, yang tidak berubah dari ayahku hanya ketaatannya pada agama.
Suatu malam, aku menemukannya terlelap di atas sajadah sambil memegang tasbih. Mungkin karena ketaatan ayah pada agama membuatnya tidak pernah menyakitiku. Sekeras apapun bentakannya, sekasar apapun ucapannya tidak pernah sedikit pun ayah memukulku. Jika emosi sudah mulai memuncak, maka ia hanya masuk bilik dan diam.
Keadaan seperti itu yang membuat suasana rumah menjadi seperti neraka bagiku. Ditambah jiwaku yang masih labil ini yang selalu terpancing untuk melawan perkataan ayah. Selama apapun aku menahan sabar, tetap saja aku tidak bisa untuk tidak melakukan pembelaan. Mungkin karena itu ayah selalu emosi memarahiku. Setelah dimarahi aku biasanya pergi tanpa tujuan entah kemana. Hal ini kulakukan untuk sekadar mendinginkan kepala.
Biasanya yang kulakukan berjalan di sekeliling pinggiran sungai. Kadang kalau menemukan keong atau cacing aku jadikan umpan untuk memancing ikan. Kalau sudah lelah berjalan biasanya aku duduk di jembatan sambil menghisap beberapa batang rokok yang kusembunyikan.
“Dimarahin lagi, Luka?” sapa tetangga yang lewat
“Biasalah,” jawabku sambil bernada.
“Mending kamu minggat aja, Luka,” saran dari yang lain
“Heh! Dia itu ayahku. Ya, terserah dia mau ngapain,” jawabku ketus.
Tak pernah terpikir olehku untuk meninggalkan ayah. Entah mengapa, tetapi yang jelas harapan semua akan menjadi lebih baik lagi membuatku terus bertahan. Watak keras ayahku sepertinya menurun kepadaku.
Makin lama kebisaan itu selalu kulakukan setelah selesai adu mulut dengan ayah, setiap kali aku tidak ada kerjaan. Aku betah berada berjam-jam duduk di sana. Ironisnya, hampir setiap waktu aku tidak ada kerjaan. Jembatan itu sudah seperti singgasana bagiku karena disini aku hanya duduk diam sambil mengkhayal semuanya akan berakhir dan keluarga kami utuh kembali. Namun, cerita itu hanya akan terus menjadi angan belaka.
***
BUAKK!!!
Batang kayu mengayun dan menghantam dahi kiriku dengan keras sampai aku terjungkal. Tubuhku jatuh ke tanah yang becek. Tanpa jeda, tendangan dan pukulan orang-orang menghajar jasadku yang basah kuyup, mungkin karena air comberan yang bercampur dengan keringat kerja kerasku. Pikiranku lama kelamaan mulai memudar, kesadaranku pelan-pelan menghilang diiringi pukulan dan tendangan yang bersarang di tubuhku, yang bisa kulakukan hanya menutupi kepalaku dengan kedua lenganku sembari menekuk lutut. Ingatan masa lalu mulai kesana kemari membayangi benakku, seperti film yang ditayangan secara berulang di layar tancap.
***
Keadaan tiba-tiba berubah. Seiring datangnya bulan Ramadan, sikap ayah berubah total. Sepatah dua patah kata mulai keluar dari mulutnya, senyumnya selalu sumringah setiap harinya. Tidak pernah lagi kudengar bentakan dan cacian. Rasanya seperti suatu hal yang tidak pernah kujumpai berabad-abad.
Sorenya ayah selalu membawakan takjil untuk berbuka. Setelah berbuka ayah mengajakku salat berjamaah di masjid dan yang membuatku senang ayah selalu mengutarakan ingin pulang ke kampung halamannya setelah lebaran nanti. Ia akan mengumpulkan uang untuk ongkos perjalanan.
Puasa di minggu pertama kujalani dengan senang hati. Namun, aku mulai sadar, keadaan fisik ayah sedikit demi sedikit mulai melemah. Ayah tidak bisa bekerja di luar rumah karena sakit. Ia hanya bisa terbaring di biliknya. Kutanyakan padanya apa yang telah menimpanya saat ini.
“Ayah sakit, Luka,” lirihnya
“Parah kali ini, Nak,” tambahnya.
***
BUAKK!!!
Batang kayu mengayun dan menghantam dahi kiriku dengan keras sampai aku terjungkal. Tubuhku jatuh ke tanah yang becek. Tanpa jeda, tendangan dan pukulan orang-orang menghajar jasadku yang basah kuyup, mungkin karena air comberan yang bercampur dengan keringat kerja kerasku. Pikiranku lama kelamaan mulai memudar, kesadaranku pelan-pelan menghilang diiringi pukulan dan tendangan yang bersarang di tubuhku, yang bisa kulakukan hanya menutupi kepalaku dengan kedua lenganku sembari menekuk lutut. Ingatan masa lalu mulai kesana kemari membayangi benakku, seperti film yang ditayangan secara berulang di layar tancap.
***
Ucapan Ayah tadi membuat hatiku terombang-ambing. Di satu sisi aku sangat senang dengan perubahan sikap ayah. Namun, di sisi lain aku sedih semua ini harus terjadi padaku. Dunia terasa jungkir balik, aku berpikir apakah ini akibat perlakuan ayah padaku selama ini dan selama satu minggu yang dilakukannya ini adalah cara ayah menghapus jejak kesalahannya padaku.
Entah perasaan senang atau sedih, semuanya campur aduk. Aku senang karena ayah besikap sangat baik kepadaku, tetapi aku juga merasa sedih melihat ayah harus terbaring sakit. Kini perasaaanku itu tidak terkatakan lagi. Sekarang aku akan kehilangan ayah, keluarga satu-satunya yang kumiliki saat ini.
Makin hari kondisi ayah makin memburuk. Tubuhnya kurus, ayah bahkan tak sanggup lagi untuk berpuasa. Bulan puasa sudah berjalan selama dua minggu, uang tabungan ayah sudah habis kupakai untuk membeli obat dan untuk makan sehari-hari bersamanya. Di tengah kebingungan aku teringat akan keinginan ayah yang ingin pulang ke kampung halamannya. Tinggal berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang. Uang tabungan yang tadinya untuk ongkos perjalanan sudah habis terpakai.
Akalku berputar, mencari barang apa lagi yang harus kujual dan seketika aku teringat ayah pernah bercerita bahwa ia mempunyai cincin pernikahan yang langka dan lumayan mahal. Cincin pernikahan itu satu-satunya barang paling berharga yang dimiliki keluarga ini. Langsung saja kucari di dalam bilik ayah. Tak perlu waktu lama untuk bisa menemukan kotak yang berisi cincin pernikahan tersebut. Sepertinya cincin inilah yang diceritakan ayah dulu.
Setelah memastikan kondisi ayah sudah tenang di pembaringan sembari berpamitan, aku mengunci semua pintu rumah, tetapi membuka sedikit jendela untuk sirkulasi udara. Aku berjalan ke pusat kota, sambil membawa kotak berisi cincin tadi. Tujuanku sudah pasti, pergi ke toko cincin pernikahan di pasar terdekat. Toko-toko permata ada banyak di pusat kota. Jaraknya sangat jauh dari daerah rumahku. Kondisi pasarnya juga berbeda saat terakhir kali aku ke sana. Memang aku jarang sekali pergi ke pusat kota.
Sesampainya di pasar, aku langsung menuju ke deretan toko permata yang menjual cincin permata. Setelah berkeliling, aku memutuskan masuk ke sebuah toko yang terlihat bisa dipercaya dan benar saja pemilik toko mau membeli cicin ayah tadi. Pemilik toko terlihat sangat tertarik dengan cicin tersebut dan mau membelinya dengan harga berapa pun. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyebutkan harga yang kuinginkan berdasarkan ongkos perjalanan pulang berdua dengan ayah dan ditambah biaya makan sedikit. Pemilik toko itu langsung setuju membayar kontan.
Setelah keluar dari toko, tak sabar aku pulang ingin bercerita dengan ayah bahwa besok kita akan pulang. Saking senangnya uang yang ku peroleh tadi ku pegang sepanjang perjalanan menuju ke rumah. Aku mempercepat lariku meski jalanan di tengah pasar tergenang air. Di balik persimpangan, tiba-tiba seorang menabrakku dari belakang.
DUKK!!!
Kami berdua terpental. Lelaki itu tadi berpakaian cukup rapi. Namun, sekarang berlepotan karena jatuh ke genangan air. Begitu pun aku.
“Maaf,” ucapnya sambil tergesa-gesa.
“Ini untukmu,” laki-laki tersebut langsung menyerahkan tas yang dipegangnya kepadaku dan lanjut berlari.
“Hei, tunggu!!!” seruku.
Tak lama kemudian banyak orang-orang yang mengerumuniku.
BUAKK!!!
Batang kayu mengayun dan menghantam dahi kiriku dengan keras sampai aku terjungkal. Tubuhku jatuh ke tanah yang becek. Tanpa jeda, tendangan dan pukulan orang-orang menghajar jasadku yang basah kuyup, mungkin karena air comberan yang bercampur dengan keringat kerja kerasku. Pikiranku lama kelamaan mulai memudar, kesadaranku pelan-pelan menghilang diiringi pukulan dan tendangan yang bersarang di tubuhku, yang bisa kulakukan hanya menutupi kepalaku dengan kedua lenganku sembari menekuk lutut. Ingatan masa lalu mulai kesana kemari membayangi benakku, seperti film yang ditayangan secara berulang di layar tancap.
“Maliiiiing!!! Maliiiiiing!!! Ini dia! Dia yang pegang tas itu!” teriak mereka.
“Hajar dia!”
“Bunuh!!!”
Mereka memukuliku dengan membabi buta, “Bukan! Bukan saya malingnya!!!” aku berseru membela diri sembari berusaha melindungi diri dari pukulan dan tendangan yang mereka layangkan padaku.
Aku terus berteriak walaupun tak terdengar karena tenggelam oleh amukan massa. Sementara itu, tubuhku terus dihujani pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi. Uang yang kupegang berhamburan ke tanah yang tergenang air. Sekuat tenaga aku mengumpulkan uang yang tercecer kemudian meringkuk sambil melindungi uang tersebut di balik tubuhku.
Kurasakan ada nyeri yang teramat sangat di dadaku, setelah kuperhatikan ada sebilah pisau menancap penuh di sana. Seketika itu pula amukan mulai berhenti, orang-orang mulai menepi. Darah bercucuran kesana kemari dan meluncur deras dari bagian pisau yang ditancapkan tadi. Pandanganku sedikit demi sedikit mulai kabur, sekujur tubuhku dipenuhi luka. Uang yang tadi sudah basah kini kembali basah dan menjadi merah gelap karena terkena ceceran darah. Beberapa orang berseragam mulai mendekatiku.
Aku teringat ayahku di rumah. Tidak hanya ayah, bahkan aku teringat ibu, nenek, dan kakekku. Satu persatu membayangi benakku, satu per satu ingatan masa lalu menghampiriku. Kemudian ingatan itu memudar seiring pandanganku yang mulai tidak jelas dan berubah menjadi bayangan putih.
“Ayah, ayo kita pulang,” kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang terucap dalam benakku.
Beberapa hari kemudian, tetangga mencium bau tak sedap dari arah rumah Luka dan ayahnya. Mereka menemukan jasad ayah Luka yang terbujur kaku dengan posisi sedang bersujud di atas sajadahnya.
Penulis: Zai
