Ketika Nilai Nyawa Runtuh di Bawah Standar Ganda Amukan Massa

Ketika Nilai Nyawa Runtuh di Bawah Standar Ganda Amukan Massa

Sharing is Caring
       
  

Ada rasa pilu dan debar tertahan yang seketika merayap di dada ketika sebuah video singkat itu melintas di beranda media sosial. Membayangkan posisi seorang anak kecil yang harus melihat ayahnya pulang bukan lagi dalam keadaan bernyawa, melainkan terbujur kaku penuh luka akibat amuk massa di Baturiti, Tabanan. Yang paling merobek hati tentu adalah suara tangisannya yang memanggil-manggil sang ayah di tengah kerumunan orang dewasa.

Peristiwa tragis yang merenggut nyawa KD yang berusia sekitar 38 tahun akibat dugaan pencurian dua ekor ayam aduan pada Jumat, 24 Juli 2026 dini hari ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Kematian tersebut menjadi potret buram ketika masyarakat bertindak sebagai pengadil di jalanan, di mana nilai dua ekor hewan ternak justru dihargai lebih tinggi daripada nyawa seorang manusia, sekaligus meninggalkan trauma seumur hidup bagi seorang anak yang tidak tahu apa-apa.

Tragedi ini menyisakan luka psikososial yang amat mendalam dan sering kali luput dari pandangan masyarakat luas. Menjadi saksi mata atas kematian orang tua dengan cara yang begitu tragis di ruang publik adalah bentuk kekerasan mental paling telak bagi seorang anak. Ia tidak hanya kehilangan sosok pelindung dalam hidupnya, tetapi juga kehilangan rasa aman terhadap dunia di sekitarnya.

Bagaimana anak itu bisa tumbuh dengan normal jika di kepala kecilnya terekam jelas bagaimana orang-orang sekitar tega merenggut nyawa ayahnya secara kolektif? Luka batin seperti itu tidak akan pernah bisa disembuhkan hanya dengan ucapan turut berdukacita.

Ironisnya, di sinilah kita dihadapkan pada standar ganda moralitas yang hidup di tengah masyarakat. Tentu saja tindakan pencurian tidak bisa dibenarkan dan tidak boleh dinormalisasi dalam bentuk apa pun. Masyarakat mengutuk tindakan pencurian sebagai bentuk pelanggaran yang merusak ketertiban.

Namun di sisi lain, atas nama kejengkelan itu pula, mereka melahirkan amoralitas baru yang jauh lebih mengerikan yaitu pembunuhan, termasuk aksi pengeroyokan hingga tewas dan pembakaran motor.

Terjadi kontradiksi ekstrem di mana publik membenci pelanggaran hukum, tetapi merayakannya dengan cara melanggar hukum yang jauh lebih berat. Ada semacam pemakluman massal yang mengerikan ketika amarah berkedok menjaga keamanan lingkungan dibiarkan berujung pada hilangnya nyawa manusia.

Masyarakat dengan sangat mudah menghakimi seseorang yang diduga mencuri ayam sebagai penjahat besar yang halal dihabisi hidupnya. Padahal secara nalar dan hukum, tindakan massa mengeroyok orang sampai mati itu jauh lebih tidak berperikemanusiaan dibandingkan kerugian hewan ternak. Ketika nyawa manusia dihargai lebih murah daripada barang curian, di situlah kita sebenarnya sedang menyaksikan kegagalan moral kolektif yang jauh lebih berbahaya.

Bukan rahasia lagi jika kekerasan yang dipertontonkan secara terang-terangan di depan umum ini meninggalkan pesan yang sangat buruk bagi lingkungan sosial kita. Aksi beringas itu sama saja dengan menjejali kepala anak-anak muda dengan pemikiran bahwa hukum rimba adalah hal yang wajar.

Alih-alih belajar tentang arti keadilan atau cara menyelesaikan masalah lewat jalur yang dingin, orang-orang di sekitar justru disuguhi tontonan kelam tentang bagaimana manusia bisa berubah menjadi sosok yang kehilangan nurani. Kalau praktik main hakim sendiri ini terus dibiarkan dan dianggap biasa, jangan heran jika kita sedang melahirkan rantai kekerasan baru yang bakal meledak di masa depan.

Peristiwa ini seharusnya menampar kita semua bahwa penegakan hukum terhadap kelima pelaku pengeroyokan yang kini sudah diamankan pihak berwajib tentu menjadi langkah awal yang penting, tetapi itu saja tidak pernah cukup.

Negara lewat lembaga terkait harus turun tangan memberikan pendampingan psikologis jangka panjang untuk memulihkan mental anak yang ditinggalkan. Lebih dari itu, kita juga harus berani merombak cara pandang sosial kita bahwa kemarahan yang tidak terkontrol bukanlah bentuk kepedulian pada ketertiban umum, melainkan sebuah bentuk teror nyata yang merusak masa depan bangsa dari unit terkecilnya yaitu keluarga.

Penulis: Kiki

Penyunting: Nada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *