Delusi

Sharing is Caring
       
  

Disaat azan subuh berkumandang, aku yang mulanya tertidur lelap, bangkit untuk mulai bersiap. Ku panjatkan doa kepada yang kuasa, kiranya semua hal yang akan ku jumpai hari ini berakhir dengan baik-baik saja. Sarapan? Hmm… Jangan ditanya, tentunya pasti kulewatkan. Sehari makan tiga kali yang sering ku ucapkan ketika mereka bertanya via suara hanya angan, nyatanya sarapan sering ku gabung dengan makan siang. Makan malam? Tanpa sadar sering terlewatkan, makan malam ku gantikan dengan meneguk kafein agar tetap tahan terjaga menulis laporan yang tidak ada habisnya. Setelah ku bersiap dengan pakaian rapi, seperti mahasiswa pada umumnya berkemeja dan bercelana hitam yang entah berapa kali ku pakai ulang setiap minggunya. Ku naiki si merah yang kurang lebih 10 tahun terakhir membersamaiku dalam menuntut ilmu.

Ku jalani hari-hariku sebagai mahasiswi perantauan, yang setiap harinya kuliah, praktikum, rapat, dan pulang. Meski pulang ku sekarang terasa berbeda, tidak ada mereka yang menyambutku dengan senyum hangat, tidak ada yang mengomeliku karena pulang terlambat, bahkan tidak ada kudapan meski itu hanya secangkir teh hangat. Dramatisnya lagi jika hujan mengguyur semesta, kadang ku lihat teman-temanku dijemput mereka, sedang aku sendirian, rasa iri ini membunuh, rasanya ingin mengeluh, tapi lagi-lagi ku tak ingin mereka gaduh. Sorenya, disepanjang jalan pulang, aku mulai bertanya-tanya, sudahkah aku hidup dengan benar? Apakah aku menjalani hidup yang aku mau? Akan jadi apakah diriku dimasa depan? Akankah mereka yang menungguku disebenar-benarnya rumah tetap ada sampai dunia menempatkan aku di versi terbaikku? Walaupun pada akhirnya pikiran itu juga lenyap dibawa langit jingga yang bersembunyi di balik kegelapan.

Dihari-hari selanjutnya aku mulai tersadar, ini hanya dunia, tak perlu dibuat rumit. Ini memang prosesnya dan kita bertanggung jawab kepadanya. Menangis tidak akan merubah apa-apa. Yang harus ku yakini adalah aku hanya aku, aku disini karena keinginan ku, aku yang hari ini adalah hasil pilihan-pilihan ku di masa lalu, aku tidak menyesali apapun. Mereka dirumah sungguh-sungguh mengharapkanku, mereka dirumah percaya terhadap aku, mereka dirumah selalu mendoakan aku, mereka… mereka rela berjuang dan dengan sabar menunggu sampai mereka dapat mengatakan “Ibu guru cantik itu adalah anakku”.


Penulis : Fitriana dan Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *