Aku hanya bisa berharap agar hal ini dapat bertahan lama karena aku tahu tidak selamanya hidup hanya tentang kebahagian.
Nur alifah, harapan
Lagi…
Lagi-lagi dia memintaku untuk melakukan hal itu. Entah sudah berapa kali dia mengatakannya. Aku lelah, kepalaku selalu terasa penuh, kapan semua ini akan berakhir? Apakah aku harus menuruti perkataannya agar aku merasa lega?
Terakhir kali aku mengikuti perkataannya, aku melihat bunda yang berteriak ketakutan setelah melihat pergelangan tanganku yang sudah berlumuran darah. Aku bingung, apakah aku melakukan kesalahan? Aku hanya mengikuti perkataannya. Saat itu, bunda langsung membawaku ke rumah sakit. Sejujurnya, aku merasa kalau tubuhku sudah makin lemas, bahkan untuk bersuara saja aku tidak kuat.
Aku dirawat selama beberapa hari karena “katanya” aku kehilangan banyak darah. Selama aku dirawat, bunda sangat memperhatikanku. Aku merasa aneh dengan hal itu, tidak biasanya wanita itu memperhatikanku sampai sebegitunya. Dulu aku pernah kecelakaan dan mengalami patah tulang, wanita itu bahkan tidak pernah datang untuk menjengukku, yang kutahu dia hanya menyuruh para perawat untuk menjaga dan merawatku.
Aku hanya tinggal berdua dengan bunda. Kalau kau tanya di mana ayahku, aku akan menjawab bahwa aku tidak tahu di mana keberadaannya sekarang. Dia meninggalkanku dengan bunda setelah bertemu dengan wanita sialan itu. Sejak itu juga hidupku berubah, bunda menjadi orang yang dingin dan kasar, dia menjadi lebih mudah marah bahkan tidak jarang sampai memukulku. Pukulan dan makian sudah menjadi teman sehari-hariku.
Karakterku yang pendiam dan susah bergaul membuatku tidak mempunyai teman, bahkan ada beberapa siswa yang sempat merundungku karena melihatku berbicara sendiri. Kupikir mereka memang tidak ingin berteman denganku, aku tidak terlalu peduli dengan itu dan kubiarkan saja mereka merundungku walaupun terkadang aku jadi ketakutan serta merasa tidak ingin kembali ke sekolah.
Sejujurnya, terkadang aku suka berkhayal bagaimana jika aku memiliki keluarga yang lengkap dan teman yang banyak, pasti seru. Aku suka membuat cerita dengan alur yang indah di kepalaku, sampai suatu hari dia datang dan mengubah semuanya. Dia merebut keluarga dan teman-temanku. Dia mengambil alih alur yang sudah kubuat sedemikian indahnya menjadi sangat mengerikan. Aku membencinya, sungguh membencinya, tetapi mengapa dia selalu ada ketika aku merasa sendirian? Ketika aku sedih, bahkan ketika bunda mengurungku di gudang yang gelap dan pengap itu, dia selalu menemaniku.
Apakah dia anak yang baik? Aku tidak tahu itu. Dia cantik, tetapi matanya yang tajam membuatnya terlihat galak. Mungkin dia lima tahun lebih muda dariku, wajahnya tidak asing, aku seperti pernah melihat wajah itu tapi aku tidak bisa mengingatnya.
Pada awalnya, dia hanya memakiku, mengatakan bahwa aku tidak berguna, bodoh, dan tidak diharapkan. Namun, akhir-akhir ini kata-katanya jauh lebih menyakitkan, bahkan dia menyuruhku untuk melukai tanganku. Ya, dia lah penyebab aku harus dilarikan ke rumah sakit beberapa waktu lalu.
Aku tidak menyukainya, bagaimana caraku mengusirnya? Dia membuat kepalaku penuh dan sakit. Suatu hari, aku pernah memarahinya karena dia terus menyuruhku untuk mengakhiri hidupku. Aku berteriak mengusirnya, aku ketakutan sampai bunda datang memeluk dan menenangkanku. Saat itu lah dia menghilang.
“Aya, kamu kenapa sayang? Coba tenang dulu, ya.”
Sayang? Apa aku tidak salah dengar? Bunda kembali memanggilku sayang setelah sekian lama. Tangisku makin kencang ketika menyadari bahwa bunda terus menenangkanku dengan kata-kata indahnya.
“Sudah, ya, nggak apa-apa. Jangan dengarkan perkataannya,” ujar bunda sambil terus mengusap punggungku.
Jujur saja, aku kaget. Rasanya aku tidak pernah menceritakan tentang anak itu kepada siapa pun. Bagaimana bunda bisa tahu hal itu?
“Bun… bunda tahu anak yang selalu mengataiku itu?” tanyaku penasaran.
Bunda terlihat sedikit kaget, tetapi itu tidak berlangsung lama karena bunda langsung tersenyum sangat manis.
“Sayang, mungkin sudah saatnya kamu tahu hal ini agar kita bisa tahu diagnosis dan pengobatannya.” Alisku berkerut mendengarnya.
“Maksud bunda apa?”
“Sayang, bunda sudah beberapa kali melihat kamu berteriak dan berbicara sendiri. Oleh karena itu, bunda membaca buku harian kamu. Lalu, akhirnya bunda tahu kalau ada yang salah denganmu. Sebenarnya bunda kurang yakin dengan apa yang terjadi denganmu karena bunda bukan ahlinya. Makanya, kita harus pergi ke dokter secepat mungkin.” Bunda menjelaskan dengan tenang, tetapi tidak dengan perasaanku. Aku merasa dadaku sedikit sesak dan kepalaku pusing. Pada akhirnya, aku kembali menangis di pelukan bunda.
“B-bunda…” isakku.
“Iya, sayang. Kamu yang sabar, ya, jangan terlalu dipikirkan. Kita lalui ini bersama, bunda tahu anak bunda adalah anak yang kuat, kamu pasti bisa. Kamu anak bunda satu-satunya, bunda tidak ingin kehilangan kamu. Tolong bertahan, ya. Maaf… selama ini bunda terlalu jahat padamu, seharusnya bunda tidak menjadikanmu pelampiasan bunda. Maafin bunda, ya, anak bunda. Bunda sayang Aya,” sambil menangis bunda tetap memeluk dan memberikan semangat untukku.
Keadaanku? Aku tidak bisa mendeskripsikannya untuk saat ini, ada rasa senang karena bunda telah kembali seperti dulu dan ada rasa sedih mengingat keadaanku saat ini.
Semalaman aku dan bunda menghabiskan waktu bersama merenungi hal-hal yang terjadi belakangan ini. Kami pun memilih berdamai dengan masa lalu dan memulai hidup baru yang lebih baik.
Beberapa waktu kemudian, bunda mengajakku ke psikiater dan saat itu lah kami mengetahui bahwa aku mengidap BPD atau borderline personality disorder, salah satu gangguan kepribadian yang memengaruhi perasaan dan cara berpikir penderitanya. Beberapa gejalanya adalah mood atau suasana hati yang tidak stabil, gangguan pola pikir dan persepsi, perilaku impulsif, serta hubungan yang intens, tetapi tidak stabil.
Pada kasusku, aku mengalami halusinasi dan menciptakan karakter jahat yang selalu mempengaruhi sikap dan perilakuku, bahkan menyugestikan tindakan mencelakai diri sendiri. Berdasarkan analisis dokter, aku menderita gangguan mental ini karena perpisahan orang tuaku, kekerasan yang dilakukan bunda, dan perundungan yang kuterima di sekolah yang membuatku trauma. Ketika mendapat diagnosa seperti itu, bunda langsung memeluk dan meminta maaf kepadaku, bahkan dia mengatakannya sambil menangis.
“Maaf, Aya. Maafin bunda, sayang. Bunda salah, bunda minta maaf. Seandainya bunda tidak melakukan itu, mungkin sekarang kamu tidak akan menderita seperti ini. Tolong maafkan bunda.”
Aku berusaha tegar dengan hal ini, aku tidak bisa melihat bunda seperti ini.
“Bunda… ini bukan salah bunda, ini sudah takdir yang harus Aya jalani. Tolong jangan salahkan diri bunda, ya. Aya nggak pernah benci dan nyalahin bunda, jadi udah, ya, nangisnya.”
Bunda menghapus air matanya dan kembali berucap, “Aya sayang, mulai saat ini kamu harus bahagia, ya. Bunda janji, mulai saat ini bunda akan terus menyayangi Aya lebih dari diri bunda sendiri.”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataan bunda. Akhirnya, beban yang kurasakan selama ini terangkat, tidak akan ada lagi air mata kerinduan akan kasih sayang seorang ibu, tidak akan ada lagi air mata kesedihan. Aku hanya bisa berharap agar hal ini dapat bertahan lama karena aku tahu tidak selamanya hidup hanya tentang kebahagian. Ada saatnya kita akan merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Maka dari itu, jangan pernah menyerah karena semuanya akan indah pada waktunya. Aku berharap agar kita selalu merasakan kebahagiaan walaupun dengan hal yang sederhana sekalipun.
BIONARASI PENULIS
Nur Alifah, lahir di Samuda, Mentaya Hilir Selatan, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah pada 8 Februari 2002. Merantau dari Kalimantan Tengah ke Kalimantan Selatan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Lambung Mangkurat, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Kesukaannya terhadap membaca kadang membuatnya lupa waktu. Dari hal ini lah, dia mulai menuliskan beberapa cerita karangannya sendiri saat ini.
Editor: Ums
Sumber foto: pixabay.com/artbykleiton
