Setapak Asa di Lorong Jati Diri

Sharing is Caring
       
  
Sumber foto: pixabay.com (@mohamed_hassan)

Kujalani langkah baru di bangku perkuliahan, masa yang bisa kusebut sebagai pencarian jati diri yang belum tertemukan. Kucari hingga ke celah terkecil kehidupan. Meski awalnya, ada rasa takut yang menyelimuti seisi kepala. Terus kucoba semampunya, sampai akhirnya aku berhasil melawannya dengan tekad yang penuh arti.

Bagaikan bayi yang baru saja terlahir dari rahim Sang Bunda, aku mengalami masa transisi dari bangku sekolah menuju kuliah. Tak banyak yang kupersiapkan tuk menghadapinya. Sebagai gadis yang dulu banyak memiliki waktu luang dan bermain manja, kini harus rela mengorbankan sebagian waktu tidur hanya untuk kegiatan yang sebenarnya membosankan. Sejak dulu, hanya belajar dan pelajaran yang kukejar. Tak pernah terlintas sedikitpun untuk mengikuti kegiatan lain. Hanya mengejar target di bidang pendidikan seperti orang yang mempunyai kemauan sekuat baja, tanpa tahu bahwa ada banyak hal lain yang bisa kulakukan.

Semua berawal dari suatu ketika. Saat itu, ada kegiatan pengenalan terhadap mahasiswa baru. Mulai dari proses pembelajaran hingga organisasi-organisasi yang memberi berbagai macam penawaran. Entah takdir atau kebetulan. Aku berada di tengah hiruk-pikuk tempat itu dan ada satu hal yang membuatku bersemangat. Sebuah organisasi yang pernah kuidamkan di bangku sekolah. Aku mencoba bergabung di sana. Seiring waktu, kini aku bahkan masih belum mampu mempercayainya. Seorang diri yang awalnya diselimuti berbagai rasa takut untuk mencoba hal baru, sekarang perlahan melakukannya, entah mendapat dorongan dari mana. Ada banyak rasa takut yang akhirnya bisa kupadamkan. Meskipun kerap kali kuucapkan berbagai mantra agar kuat menjalaninya. Bukan sekadar omong kosong, tetapi ini benar adanya. Aku seperti lahir dengan jiwa yang baru. Kutemukan jati diri yang belum sempat tergali. Kiranya, inilah salah satu bentuk nyata dari mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Hingga beberapa tahun mendatang, asa itu terus menggantung di pundakku, berusaha tetap berkomitmen, hingga menghasilkan banyak manfaat.


Penulis: Anita Inayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *