Banjarmasin, Warta JITU —Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) 2026 menyisakan persoalan bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sebanyak 731 mahasiswa FKIP yang semula dijadwalkan mengikuti kegiatan di Gedung Sultan Suryansyah akhirnya dialihkan ke General Building ULM setelah kapasitas gedung dinilai tidak mencukupi.Perubahan lokasi tersebut terjadi ketika mahasiswa FKIP telah berada di sekitar Gedung Sultan Suryansyah. Kondisi ini membuat mahasiswa harus kembali berpindah lokasi untuk mengikuti kegiatan PKKMB.
Koordinator Lapangan (Korlap) PKKMB 2026, Rusmad, menjelaskan bahwa penggunaan Gedung Sultan Suryansyah merupakan konsep baru dalam pelaksanaan PKKMB tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, gedung tersebut belum digunakan untuk pelaksanaan PKKMB sehingga kapasitas riilnya belum menjadi gambaran pasti bagi panitia.
“Dari segi perubahan tempat ini merupakan konsep yang baru. Di tahun-tahun sebelumnya tidak ada gambaran sama sekali untuk penggunaan Gedung Sultan Suryansyah ini, baik dari kapasitas maupun berapa mahasiswa yang bisa ditampung,” jelasnya.
Pada awal perencanaan, FKIP dijadwalkan berada di urutan pertama untuk memasuki Gedung Sultan Suryansyah. Namun, dalam rapat bersama pihak universitas pada H-3 pelaksanaan, terjadi perubahan teknis karena adanya pertimbangan terkait kapasitas gedung. Panitia kemudian menggunakan dua lokasi kegiatan, yakni Gedung Sultan Suryansyah dan Gedung Serbaguna ULM Banjarmasin. Dalam pembagian awal, mahasiswa FKIP direncanakan terbagi ke dua lokasi, dengan sekitar 600 mahasiswa berada di Gedung Serbaguna dan sekitar 700 mahasiswa di Gedung Sultan Suryansyah.
Namun, ketika proses pelaksanaan berlangsung, kondisi di lapangan tidak sesuai dengan perhitungan yang telah dibuat. Rusmad menyebut panitia sebelumnya memperoleh informasi bahwa Gedung Sultan Suryansyah dapat menampung sekitar 3.000 hingga 3.500 peserta. Setelah dilakukan pemetaan, kapasitas yang diperkirakan dapat digunakan berada di kisaran 2.900 peserta.
“Pada akhirnya tadi pagi itu tidak muat. Hanya sekitar 200 sampai 300 mahasiswa yang bisa masuk ke Gedung Sultan Suryansyah bagi mahasiswa FKIP,” ungkapnya.
Kondisi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui diskusi antara panitia, BEM FKIP, dan organisasi mahasiswa FKIP. Rektor ULM juga hadir dalam proses diskusi tersebut. Hasilnya, sebanyak 731 mahasiswa FKIP yang sebelumnya direncanakan mengikuti kegiatan di Gedung Sultan Suryansyah dialokasikan ke General Building ULM.
Menurut Rusmad, keputusan tersebut diambil karena kapasitas Gedung Sultan Suryansyah memang tidak mencukupi. Mahasiswa FKIP juga sepakat agar tidak kembali dipisahkan setelah persoalan kapasitas terjadi.
“Tidak cukup, karena teman-teman FKIP sepakat bahwa jika kali ini dipisah lagi, mereka tidak sama sekali untuk masuk ke Gedung Sultan Suryansyah. Makanya diakomodasi semua 731 itu ke General Building,” keluhnya.
Sedangkan dari pihak FKIP, perubahan lokasi tersebut dinilai berlangsung secara mendadak. Muhammad Irfan Zaidan, Kepala Bidang Kemahasiswaan BEM FKIP ULM yang dalam PKKMB turut terlibat sebagai korlap panitia BJM, mengatakan pihaknya terkejut ketika mengetahui mahasiswa FKIP tidak dapat mengikuti kegiatan di lokasi yang telah ditentukan sebelumnya.
“Yang pastinya dari kami sangat kaget dengan adanya pemindahan ini, karena ini di luar kuasa kami. Yang seharusnya kami berada di pusat, namun pada akhirnya kami harus melaksanakan secara hybrid,”kecewanya.
Menurutnya, mahasiswa FKIP telah berjalan dari kawasan fakultas menuju Gedung Sultan Suryansyah. Namun, setelah tiba di lokasi, mahasiswa justru tidak dapat masuk karena kondisi gedung telah penuh.Mahasiswa kemudian diarahkan kembali menuju General Building yang berada di lokasi berbeda.
“Yang pastinya dari mereka juga kecewa. Mereka sudah lumayan jauh jalan dari FKIP ke Gedung Sultan Suryansyah, tetapi pada saat di sana ternyata tidak bisa masuk. Akhirnya disuruh kembali lagi ke General Building yang di ujung,” katanya.
Kondisi tersebut tidak hanya membuat mahasiswa kelelahan, tetapi juga dinilai memengaruhi pengalaman mereka dalam mengikuti PKKMB. Irfan menilai perubahan lokasi berdampak langsung terhadap mahasiswa baru. Ketika sejumlah fakultas dapat mengikuti kegiatan di lokasi utama, mahasiswa FKIP justru harus mengikuti kegiatan secara hybrid di beberapa tempat.
“Dampaknya untuk mahasiswa sendiri karena mereka tidak merasakan euforia dari PKKMB ini. Beberapa fakultas merasakan di Gedung Sultan Suryansyah sebagai pusatnya, sementara FKIP terbagi lagi secara hybrid, ada di GSG dan juga di General Building,” jelasnya.
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi semakin mengecewakan karena mahasiswa baru seharusnya mendapatkan pengalaman awal yang sama dalam mengikuti kegiatan PKKMB. Irfan juga mengatakan pihak BEM FKIP baru mendapatkan kepastian mengenai pemindahan setelah mahasiswa menunggu di sekitar Gedung Sultan Suryansyah. Pihaknya kemudian melakukan pengecekan ke dalam gedung dan menemukan bahwa kondisi ruangan telah penuh. Bahkan, area yang sebelumnya diperuntukkan bagi mahasiswa FKIP telah digunakan oleh mahasiswa dari fakultas lain.
“Kami sempat mengecek ke dalam dan ternyata di dalam sudah overload. Itu harusnya tempat duduk FKIP, tapi malah menjadi tempat duduk fakultas lain. Di situ kami sudah mulai waswas apakah ini bisa masuk,” ungkapnya.
Setelah melakukan koordinasi dengan korlap universitas, pihak BEM FKIP akhirnya mengetahui bahwa mahasiswa FKIP memang tidak dapat lagi masuk ke Gedung Sultan Suryansyah karena kapasitas telah penuh.Sementara itu, Rusmad mengatakan koordinasi antara panitia dan pihak fakultas telah dilakukan secara intensif. Koordinasi tidak hanya melibatkan BEM FKIP dan organisasi mahasiswa FKIP, tetapi juga BEM dari fakultas lain.
Hal tersebut dilakukan karena pembagian mahasiswa dan layout tempat duduk di Gedung Sultan Suryansyah sebelumnya telah dipetakan berdasarkan fakultas. Namun, persoalan menjadi lebih intens ketika FKIP menjadi fakultas yang masuk terakhir ke gedung tersebut. Kondisi kapasitas yang tidak sesuai dengan perhitungan kemudian memerlukan koordinasi lebih lanjut.
Rusmad menyebut kondisi mahasiswa tetap dapat dikendalikan secara kondusif meskipun terjadi persoalan di lapangan.
“Pada akhirnya untuk teman-teman hari ini masih bisa kondusif dan masih bisa menjaga. Segala persoalan dan segala kendala yang terjadi bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Rusmad juga mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat ada skenario apabila Gedung Sultan Suryansyah tidak mampu menampung seluruh peserta. Salah satu opsi awal adalah menggunakan tenda di area sekitar gedung. Namun, rencana tersebut kemudian tidak digunakan. Pihak universitas memilih alternatif indoor berupa Gedung Serbaguna ULM Banjarmasin.
“Untuk plan-plan selain itu tidak ada sebenarnya. Nah, ini yang memang jadi evaluasi hari ini,” tukasnya.
Menurut Rusmad, penggunaan konsep dan lokasi baru membutuhkan koordinasi yang matang. Sementara itu, waktu persiapan sejak rapat koordinasi pertama hingga pelaksanaan PKKMB disebut hanya sekitar 25 hari. Ia menilai persoalan tersebut bukan hanya menjadi evaluasi bagi panitia teknis, tetapi juga bagi pihak universitas. Dari sisi FKIP, persoalan kapasitas dinilai seharusnya dapat diantisipasi sebelum kegiatan berlangsung. Irfan menekankan pentingnya survei langsung terhadap lokasi sebelum digunakan sebagai tempat kegiatan.
Menurutnya, kapasitas riil gedung harus dicocokkan dengan jumlah mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan dari setiap fakultas.
“Alangkah lebih baiknya survei terlebih dahulu ke tempatnya, supaya bisa mencocokkan dengan data mahasiswa yang real. Jangan hanya cukup meraba tanpa survei,” tegasnya.
Ia menilai survei diperlukan agar pihak penyelenggara dapat memastikan kapasitas gedung dan menyesuaikannya dengan jumlah mahasiswa masing-masing fakultas. Dari sisi panitia, Rusmad juga menyebut kapasitas ruangan dan pemerataan ruang sebagai salah satu evaluasi terbesar dalam PKKMB 2026. Menurutnya, setiap fakultas perlu mendapatkan ruang yang memadai sehingga mahasiswa dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan nyaman.
“Jangan sampai hal-hal yang terjadi secara teknis membuat setiap fakultas tidak memiliki space yang sama,” katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan dan kenyamanan mahasiswa harus menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan PKKMB.
“Kalau berbicara PKKMB hari ini, kebutuhan mereka, apa yang harus mereka dapatkan, kenyamanan mereka, dan berbagai hal yang memang mengakomodasi yang seharusnya mereka dapat selama rangkaian PKKMB, itu yang menjadi evaluasi terbesar hari ini,” tutupnya.
