Rumah Runtuh

Rumah Runtuh

Sharing is Caring
       
  

Pagi yang dingin berselimut sinar mentari yang indah, mendekap gadis bersyal merah, Noe Devina. Ia menggigil kecil, di tengah perutnya yang terasa sakit. Menyeduh teh dengan sedikit gula dan membebat syal di leher jenjangnya, sudah menjadi rutinitas pagi di kota mode –Prancis– apalagi saat musim dingin.

Tring! 

Satu pesan masuk dari teman lama. Noe membaca sekilas pesan itu lalu langsung menghapusnya tanpa balasan. Ia menarik napas panjang, mengangkat cangkir dan menyesap tehnya perlahan, kemudian menaruhnya kembali. Setelah perutnya agak mendingan, ia melangkah menuju jendela, memandang keluar. Terlihat mobil-mobil berlalu lalang dan orang-orang dengan mantel tebal berjalan. Namun, matanya terpaku pada seseorang.

Seorang laki-laki dengan gitar di punggung duduk di halte bus tur tujuan Paris. Meski dari lantai tiga apartemen hanya terlihat bagian belakangnya, Noe yakin itu Bryan Mahardika Fauzan, sahabat penanya dari Indonesia yang kini tinggal di Prancis.

Noe segera meraih mantel tebalnya, berlari ke luar sembari mencoba menelepon Fauzan, tapi panggilannya tak dijawab. Setibanya di lantai bawah, ia mengatur napas sejenak, lalu memanggil, “Fauzan!” 

Namun, laki-laki itu tidak merespon. Ia mendekat dan mencoba mengagetkannya. 

“Dor!”

“Kenapa?” Fauzan menoleh santai sambil melepas earphone

“Pantas nggak dengar aku manggil, ternyata kamu pakai earphone,” keluh Noe, duduk disampingnya.

Comment vas-tu, Zan?” tanya Noe, mencoba menyembunyikan rasa kesalnya.

“Hey! Bukannya aku sudah bilang jangan panggil aku Fauzan? Pakai nama penaku dulu. Masih ingat, kan?”

“Vey ….” Noe mengangguk kecil, menyerah.

“Bagus.” Vey tersenyum kecil. 

By the way, gimana perkembangan novel kamu?”

“Kenapa kamu tanya soal itu sih, Vey?” Noe mengalihkan pandangan. 

“Karena aku penasaran.”

“Nanti saja aku ceritakan,” ujar Noe tersipu.

Vey tersenyum jahil.  “Oke. Aku mau ke Menara Eiffel. Mau ikut?” tawar Vey.

Noe mengangguk cepat. “Tapi busnya sudah lewat. Harus nunggu lama lagi.”

“Aku memang enggak mau naik bus.”

“Terus, kenapa duduk di sini?”

“Nungguin kamu.”

Noe terdiam, lalu tersenyum tipis. “Ya sudah, ayo!”

Mereka berjalan bersama. Di sepanjang jalan, puncak Menara Eiffel mulai terlihat dari kejauhan. 

“Vey, kenapa kamu enggak lanjutin S2 di NYC?” tanya Noe, memecah keheningan.

“Enggak tahu. Rasanya capek belajar terus,” jawab Vey, menghela napas pelan.

“Tapi bukannya Ayah kamu pernah bilang—”

“Sudahlah. Hidup enggak selalu tentang ambisi orang lain,” potong Vey.

“Iya juga, sih ….”

“Kamu hebat banget ya, Noe. Kadang aku mikir, kok bisa kamu selalu berhasil? Ayah sering banget membandingkan aku dengan kamu. Capek banget dengernya. Apa enggak bisa, ya, kamu saja yang jadi anak Ayahku?”

“Aku berada di titik ini juga nggak gampang dong, Vey. Bahkan sekarang saja nih, masih ada saja yang mengganggu aku. Apa yang mungkin kamu lihat sebagai kesuksesan itu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan apa yang sudah aku lalui.”

“Terserah kamu,” ucap Vey melongos pergi.

Mereka tiba di kaki Menara Eiffel. Tempat itu mulai ramai dan Vey tiba-tiba menarik tangan Noe. 

“Jangan sampai hilang di keramaian.”

Hati Noe menghangat. Vey selalu memperhatikannya, meski kadang caranya kasar. Noe mengangguk lalu membiarkan Vey menarik tangan dan menuntunnya. Sementara itu, Noe mengikuti langkah Vey sambil sesekali mengetuk gitar yang tergantung di punggung Vey.

Sekarang mereka sudah berada di cafe dekat Menara Eiffel yang menyuguhkan pemandangan menara cantik itu. Percakapan mereka masih mengalir ringan, mulai dari pekerjaan, kuliah, hingga impian masing-masing. Namun, ada satu hal yang membuat Noe heran, nada bicara Vey terasa sedikit tajam, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan.

“Vey, kamu tahu? Belakangan ini banyak berita buruk tentang aku,” kata Noe, memecah keheningan saat mereka duduk di bangku taman dekat Menara Eiffel.

“Berita apa?” tanya Vey, pura-pura tidak tahu.

“Orang-orang bilang aku memalsukan nilai dan menyadur buku-buku yang aku tulis. Bahkan Indah, sahabatku, percaya pada semua itu.” tutur Noe dengan suara bergetar. 

“Aku enggak tahu harus gimana lagi, Vey.”

“Berita itu benar, gak?” tanyanya, mencoba terdengar santai.

No! Tentu saja nggak,” tegas Noe, matanya mulai berkaca-kaca.

“Kalau begitu, gak usah dipikirin. Orang yang benar pasti menang,” Vey tersenyum kecil, tetapi pandangannya menghindar.

“Tapi ini beda. Bayangkan deh, Indah itu sudah seperti kakakku sendiri, Vey. Sekarang aku kehilangan dia juga. Kemana lagi aku cerita? Aku sendirian, Vey. Mama, Papa, dan Adikku sudah duluan ke surga, kenapa aku ditinggal? Mereka sudah senang-senang di sana, tapi aku sendirian di dunia yang nggak adil ini. Aku mau nyusul mereka, Vey.”

Air mata Noe mulai mengalir, tetapi Vey memeluknya erat.  “Kamu masih punya aku.”

Singkat, namun kalimat itu seakan tidak cukup mengobati luka Noe.  “Tapi kamu juga mau pergi, kan? Kamu kan kembali ke Strasbourg.”

Vey melepaskan pelukannya, menatap Noe dalam-dalam.  “Tenang saja, aku akan sering-sering menghubungimu.”

****

Dua tahun kemudian, Noe terduduk di kamarnya, membuka kotak surat kenangan.

Sudah 2 tahun sejak kejadian itu, aku masih belum bisa melupakannya atau mungkin tak akan pernah bisa. Beberapa menit setelah kamu mengantarkanku ke apartemen, aku mendapat kabar bahwa kamu kecelakaan. Sekarang aku benar-benar sendirian, Vey. Bukannya kamu sudah janji akan selalu ada untukku?” 

Noe menemukan tulisan itu di salah satu surat yang ada di kotak surat kenangan. Surat terakhir yang ia tulis untuk Vey masih utuh, tetapi ada satu hal yang kini ia tahu dengan pasti, semua berita buruk tentang dirinya berawal dari Vey. Berita buruk mengenai karyanya yang dianggap menyadur milik orang lain dan telah memalsukan nilai.

Setelah kematian Vey, orang tuanya memberikan buku catatan milik Vey kepada Noe yang berisi pengakuan tentang pengkhianatan dan alasan di baliknya. Vey merasa tertekan karena ia ingin membuktikan diri kepada ayahnya. Tetapi saat melihat Noe sukses, ia merasa kalah sebelum bertanding.

Aku iri pada Noe. Dia selalu lebih hebat dariku. Saat aku gagal menjual bukuku, bukunya laris di pasaran. Saat aku tidak bisa menyenangkan ayah, Noe sudah mencapai semuayang aku impikan. Aku tidak benci Noe, tapi aku benci diriku sendiri karena tidak bisasepertinya.”

Noe terdiam, matanya berkaca-kaca.

Aku tak pernah bisa menjadi seperti dia dan itu menghancurkanku. Aku tahu apa yang kulakukan salah. Tapi aku tidak ingin dia menderita. Aku hanya ingin dia tahu rasanya gagal, seperti aku. Maafkan aku, Noe. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu kehilangan segalanya.”

Air mata Noe mengalir tanpa henti. Ia baru menyadari betapa berat beban yang dipikul Vey selama ini. Di satu sisi, ia ingin memaafkan. Namun, luka pengkhianatan itu masih terlalu segar.

“Vey, aku tak marah,” Noe menghela napasnya.

“Tidak. Awalnya aku marah. Aku merasa dikhianati oleh orang yang kuanggap rumah. Tapi semakin aku mencoba memahami, aku menyadari sesuatu. Kamu hanya manusia. Kamu juga berjuang dengan lukamu, sama seperti aku. Aku kecewa, tapi aku tahu, hidupmu penuh luka yang tak pernah kamu ceritakan. Meski kamu menghancurkan kepercayaanku, aku tetap berterima kasih. Kamu mengajarkanku bahwa rumah, sekuat apa pun, bisa runtuh kapan saja. Namun, aku masih punya Tuhan. Itu cukup untuk membuatku berdiri lagi.”

“Aku memutuskan untuk memaafkanmu, Vey. Bukan karena kamu tak bersalah, tapi karena aku ingin melangkah maju. Luka ini tidak akan hilang, tapi aku tidak akan lagi membiarkannya mengikatku. Meski rumahku pernah runtuh, aku tahu aku mampu membangunnya kembali, lebih kuat dari sebelumnya.”

“Aku tidak sendirian. Rumahku bukanlah seseorang, melainkan langkah-langkahku yang terus maju.”

Penulis: Naila Hanun (Calon Jurnalis Muda)

Penyunting: Khiara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *