Penulis: Seone
“To… tolong… ampuni aku…” ucap seseorang dengan pakaian lusuh dan penuh luka lebam di sekitar wajahnya.
“Si… si… siapa yang menyangka kalau bedebah ini sekuat itu…” seseorang dengan pakaian sama lusuhnya mencoba berlari sekuat tenaga hanya untuk menyelamatkan diri.
“Heh… hehehehehehe!” Tawanya begitu keras dan menandakan kepuasannya. Anak remaja berusia 18 tahun dengan postur tubuh tinggi ramping dan berambut merah darah ini pun langsung menghunjam musuh-musuhnya yang tidak berdaya dengan pukulan-pukulan keras dan terarah.
Setelah puas dengan “pesta” yang ia lakukan, anak itu berteriak.
“AKU ADALAH YANG TERKUAT DI DAERAH INI!!! SIAPA SAJA YANG PUNYA NYALI UNTUK MEREBUT GELAR INI DATANG LAH DAN BAWA WAJAH KALIAN KEPADAKU!!!”
Ia tersenyum tipis dan meninggalkan tempat “pesta” miliknya.
***
Tap… tap… tap… tap…
Aku berjalan selangkah demi selangkah lebih dekat sambil memasang wajah seorang tiran. Tersenyum tipis dengan tatapan sinis dan super dingin. Aku memperlihatkannya kepada seorang bocah sekolah menengah atas yang kebetulan satu kelas denganku. Bocah ini sudah menjadi target perundungan harianku. Melihatnya mengeluarkan air mata yang tumpah membasahi wajah dan kacamatanya sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, perasaanku hari ini sedang tidak baik. Aku mengalami beberapa kesialan yang membuatku sangat kesal. Jadi, aku ingin sesuatu yang baru.
Setelah mendapati diriku yang sangat dekat dengan bocah ini, aku memaksanya untuk menatap ke hadapanku. Aku mulai berpikir “inovasi” apa yang harus kuberikan kepadanya. Setelah melihat lengan kanannya, aku berseru menemukan apa yang telah kutemukan.
Seperti Archimedes¹ yang kegirangan menemukan gaya apung suatu benda² dan berlari tanpa busana ke Kota Sirakusa³ untuk membagikan hasil penemuannya, aku pun merasakan perasaan yang sama dan berteriak.
“EUREKA⁴!!!” Seolah mendapatkan pencerahan dari Yang Maha Kuasa, aku tanpa membuang waktu mengeksekusi ideku.
Aku mengangkat paksa dan menghajar bocah itu dengan beberapa pukulan dan tendangan yang mendarat telak di wajah, perut, dan betisnya. Setelah memastikan ia tidak berdaya, aku memegangi lengan kanannya dengan tanganku dan mengangkat satu tanganku yang lain.
PRAKKKK!
Suara ini mirip seperti dahan pohon yang sering kupatahkan di sekitar jalan menuju tempat tinggal.
“AAAAAAAAAAKKKKKHHHHHHHH!!!” jeritan yang sangat “merdu” tetangkap oleh indera pendengaranku.
Dia terus menjerit. Luka lebam di wajah dan beberapa noda berwarna merah yang membekas di seragamnya menjadi satu paduan yang mengerikan. Puas dengan pemandangan ini, aku berjalan dengan santai meninggalkannya dan melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal.
***
Malam yang indah aku habiskan dengan menonton film bergenre thriller favoritku. Aku menikmati setiap adegan berdarah dengan segenap jiwaku dan tidak melewatkan hal sekecil apapun. Setelah menonton film, aku melanjutkannya dengan makan malam dan bersantai di atas sofa ruang tamu.
Ketika aku sedang bersantai, tiba-tiba terdengar dobrakan keras dari pintu depan rumah. Setelahnya muncul seorang gadis cantik berumur 25 tahun berambut merah darah sama sepertiku.
“KAU… Sialan… Apa yang sebenarnya kau inginkan! Sudah kesekian kalinya kau melakukan ini! Apa yang harus kulakukan untuk menghentikanmu?” serunya dengan penuh kemarahan dan kebencian yang tertuju kepadaku.
“Dengan berbagai tindak kejahatan yang sudah kau lakukan apa kau benar-benar manusia? Mengapa kau terobsesi menyakiti jiwa dan raga seseorang? Kau sudah gila, ya?!” lanjutnya.
“Aku tidak gila, Angelia. Aku hanya mematahkan satu lengannya saja, bukan memutus lengannya, lengannya pasti sembuh. Jadi, tidak perlu risau, walau sel manusia tidak memiliki sifat totipotensi⁵ seperti sel tumbuhan, mekanisme yang ada dalam tubuh manusia bisa memulihkan keadaan itu. Lagipula, bukan kah menyenangkan bisa menindas dan menyakiti orang lain?” balasku dengan santai dan menampik perkataannya.
Dia terdiam untuk sesaat, ia menangis. Ia mengambil napas sedalam mungkin dan bergerak mendekatiku.
“Oi, Ares! Aku sudah melakukan apa pun untuk bisa menghentikan obsesimu terhadap perundungan, penindasan, atau perkelahian jalanan dan berbagai kejahatan lainnya. Namun, sepertinya aku sudah gagal membimbingmu sebagai seorang kakak dan pengganti orang tuamu. Aku senang bahwa para korban tindak kejahatanmu akhirnya berani mengungkapkan kepadaku apa yang telah terjadi, orang tua mereka, pihak sekolah, dan kepolisian. Sebagai bentuk kasih sayangku yang terakhir, aku mengusirmu dari rumah ini. Sebentar lagi pihak kepolisian akan mendatangi tempat ini untuk menangkap bedebah sepertimu, sialan,” bisiknya kepadaku dengan nada pasrah.
Ia juga menambahkan, “Jangan membuat kerusakan ketika meninggalkan rumah ini, kau tahu bukan siapa yang kau hadapi sekarang ini?”
Sebuah ancaman yang kudengar bukan sembarang ancaman. Angelia, kakak biologisku, dulunya juga seorang berandalan terkuat di masanya yang akan menghajar siapa pun yang menjadi musuhnya. Namun, dengan alasan yang tak kuketahui, ia berhenti dan
tidak ingin melakukan hal itu lagi. Sekarang, ia hanya seorang pekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji terkenal di kota ini. Aku tidak tahu apakah ia saat ini masih bisa bertarung atau tidak, tetapi pilihan meninggalkan rumah untuk melarikan diri dan menghindari adu tinju dengannya adalah pilihan yang cukup realistis mengingat ia pernah menjadi seorang berandalan terkuat di masanya. Daripada membuka peluang bahwa aku mungkin terluka jika melakukan adu tinju dengannya, aku pun berbalik dan mengemas barang-barangku yang kuperlukan dan segera meninggalkan dirinya dan tempat itu.
***
Tengah malam telah berlalu, sekarang sudah memasuki waktu dini hari. Aku melihat jam digital yang terpampang di sebuah batas kota menunjukkan pukul 2.18 dini hari. Aku entah mengapa sampai detik ini masih belum terkejar oleh pihak kepolisian. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Aku terus berjalan menuju hutan yang ada di dekat perbatasan barat kota. Kota yang aku tinggalkan berbatasan dengan laut di arah timur dan berbatasan dengan hutan dan bukit di arah barat. Untuk menuju kota selanjutnya harus menempuh jalan raya sejauh 14 km ke arah utara dan 12 km ke arah selatan.
Aku yang terus berjalan menuju arah barat, akhirnya aku berhasil masuk ke dalam hutan. Aku mulai mencari tempat yang cocok untuk beristirahat sejenak. Setelah memasuki lebih dalam kawasan hutan, akhirnya aku menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat. Tempat itu dekat dengan sungai dan aku menemukan pepohonan yang cocok untuk dijadikan tempat bersandar. Aku mulai mematahkan ranting-ranting pohon yang ada di sekitarku untuk dijadikan membuat api. Api yang aku buat tidak terlalu besar karena akan terlihat mencolok dan mungkin ada polisi yang terus mengejarku di hutan ini dan menyadari percikan api atau asap yang terlihat. Melihat sekitar untuk memastikan aku masih aman, aku yang hanya ingin beristirahat sejenak akhirnya mulai memejamkan mata dan tertidur hingga besok pagi.
Aku menghabiskan beberapa hari di hutan. Aku benar-benar ingin keluar dari hutan dan menuju arah selatan. Aku benar-benar tidak tahan lagi untuk terus berada di dalam sana. Aku menderita luka-luka lecet yang berujung pada pembengkakan sampai mengeluarkan nanah. Aku juga menderita gatal yang terasa di sekujur permukaan tubuhku. Aku juga tidak dapat mandi karena sungai yang ada di dalam hutan tidak dapat digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan minum dan mandi karena sebagian airnya mulai tercemar yang ditandai dengan bau tidak sedap dan warna air yang keruh di beberapa bagian sungai. Setiap malam aku kesakitan karena gigitan serangga yang tidak kuketahui. Bukan hanya itu saja, aku menemui predator-predator yang berbahaya dan nyaris membuatku kehilangan nyawa. Aku juga sulit mencari tempat teduh jika hujan terjadi, dan benar saja, aku kehujanan. Akibatnya, aku mengalami demam tinggi dan flu. Penglihatanku juga mulai kabur. Penderitaan yang kualami makin lengkap dengan terbatasnya pengetahuanku mengenai tanaman apa saja yang dapat dikonsumsi atau tidak. Dengan ketidaktahuanku, aku hanya makan dan minum seadanya. Ikan kecil, burung kecil, belalang, dan beberapa jenis buah yang tidak kuketahui namanya menjadi hidangan sehari-hari.
Aku ingin ke kota saja, aku tidak peduli apa aku akan hidup atau mati. Yang jelas aku harus keluar dari sini. Pikirku dengan pesimis mencoba berjalan keluar hutan sekuat tenaga menuju jalan darat yang menghubungkan dua kota.
Diriku yang sedang sakit dan mulai kehilangan kesadaran mencoba terus berjalan keluar dari hutan. Perasaan yang saling bertentangan terus menggerogoti diriku. Selagi terus berjalan, pikiranku berkecamuk satu dengan yang lain, apa lebih baik aku mengakhiri hidup sekarang atau aku melanjutkan hidup dengan kemungkinan besar akan divonis hukuman penjara seumur hidup atau mungkin hukuman mati? Aku sudah tidak peduli lagi. Aku benar-benar tidak peduli. Bukankah ku bilang aku tidak peduli? Aku tidak peduli!
Aku yang berjalan dari pagi hingga sore demi menemukan apa yang disebut sebagai jalan raya sambil membayangkan cemoohan dan sumpah serapah apa yang akan kalian, para pembaca, lontarkan kepadaku. Yang pasti, upaya yang kulakukan berhasil. Aku melihat sesuatu yang berasal dari kumpulan bahan tambang yang dicampur menjadi satu dan dibentuk sedemikian rupa sehingga ia mengeras dan dapat digunakan untuk sesuatu yang memiliki roda untuk melintas di atasnya. Aku mulai diliputi perasaan senang tanpa berpikir panjang untuk segera menuju kesana dan mulai tertawa sendiri seperti orang gila.
Saking senangnya aku tidak merasakan sesuatu yang sedang mendekat ke arah diriku. Aku terus berada di tengah jalan dan mengangkat tinggi-tinggi lenganku dan berteriak sebagai luapan kegembiraan. Aku melakukannya selama beberapa saat, sampai aku baru menyadari bahwa sesuatu dengan kencang sedang melaju menghampiriku.
***
“Pemirsa. Sebuah kecelakaan tragis terjadi di jalan raya yang menghubungkan dua kota pada sore hari tadi. Kecelakaan ini terjadi akibat kelalaian sang sopir truk kontainer yang diduga mengalami kantuk saat mengendara. Seorang remaja dengan perkiraan usia 17-19 tahun juga ikut menjadi korban kecelakaan tragis ini. Sang sopir truk dapat diselamatkan. Namun, nahas, remaja tersebut terpaksa kehilangan nyawanya. Berikut laporan selengkapnya.”
“Kecelakaan tragis yang terjadi di jalan raya lintas kota pada pukul 16.38 telah menewaskan seorang remaja berusia 17-19 tahun. Kronologi kecelakaan yang terekam oleh kamera pengawas menunjukkan bahwa awalnya remaja tersebut berada di tengah jalan dan terlihat seperti merayakan sesuatu. Tiba-tiba datang sebuah truk kontainer dengan kecepatan tinggi menghantam keras remaja tersebut. Sang supir yang diduga berada dalam kondisi kantuk berusaha membelokkan arah truk dan menabrak pohon besar. Namun, malangnya remaja tersebut tetap terhantam truk dan terhempas sejauh lima meter dan kepalanya terbentur pembatas jalan. Remaja tersebut sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, tetapi nyawanya tak dapat terselamatkan akibat pendarahan hebat di kepalanya. Identitas remaja tersebut masih belum diketahui. Pihak kepolisian masih terus berusaha menemukan identitas remaja tersebut, sedangkan sang sopir kini masih tak sadarkan diri dan terus mendapat perawatan medis. Saya beserta kru yang bertugas melaporkan.”
***
Malam tanpa purnama…
Malam ini mengabarkan satu makna…
Hening dan membisu…
Bibir yang merah mulai membiru…
Terlihat seorang gadis cantik berambut merah darah hanya terpaku di tempat duduknya. Ekspresinya datar, tetapi ada jeritan yang tertahan dalam hatinya. Tidak mampu menahan lebih lama lagi, akhirnya gadis itu mulai bercucur air mata. Setiap tetesnya meluncur pelan membasahi pipinya. Ketika ia melihat foto yang muncul di layar kaca, kepalan tangannya memerah.
Ia melihat rambut merah dari jasad korban sebuah kecelakaan. Meskipun identitas sang korban masih belum diketahui, instingnya mengatakan bahwa sang korban entah mengapa terasa sangat familiar dengan dirinya. Dan mulai sekarang, mungkin rumahnya benar-benar kosong dan lapang, serta hanya ia sendiri yang akan menghuni rumah itu untuk selamanya.
“Hmm… eh… aku masih hidup?” tanyaku dengan penuh kebingungan selagi membuka mata.
Aku mencoba mengamati keadaan sekitar. Yang terlihat hanyalah sebuah rumah, beberapa tanaman hias, halaman depan yang terbilang sangat luas, pagar rumah berwarna hitam, dan tembok bermaterialkan batu bata yang cukup kokoh mengelilingi rumah tersebut. Aku yang dipenuhi rasa penasaran mencoba untuk bergerak lebih jauh dan mencoba meraih informasi lebih dalam, akan tetapi…
“HAH? UUGGHH… URRRGH… HYAAH! Sialan, apa yang terjadi?” Aku terus mencoba menggerakkan tubuhku, keanehan ini membuatku merasa seperti orang lumpuh. Tidak, sepertinya bukan lumpuh. Aku sadar bahwa aku persis sedang berdiri. Jadi, mengapa aku tidak bisa berjalan? Kalau lumpuh, maka aku pasti berada dalam posisi duduk atau berbaring, tetapi aku tidak berada dalam kedua posisi itu. Aku mulai merenungkan apa yang sedang kualami sekarang ini. Aku mulai bertanya-tanya mengapa aku hanya terus-terusan berdiri sedangkan aku tak dapat berjalan? Jika aku lumpuh, apakah aku sedang disandarkan pada sesuatu yang dapat menopangku berdiri tegak? Atau aku memang berdiri, tetapi apakah aku tak dapat berjalan karena sesuatu menancap kakiku ke dalam tanah? Tidak mungkin, iya, kan?
Akhirnya aku mulai menengok ke belakang. Aneh, penglihatanku seperti lebih hebat dari burung hantu saja. Aku seolah dapat melihat dalam sudut satu lingkaran penuh padahal burung hantu saja hanya mampu melakukan tiga perempatnya saja. Aku juga mencoba menggerakan tanganku, tetapi reaksinya juga sama ketika aku menggerakan kakiku. Aku mencoba berteriak kepada setiap orang yang melewati rumah dimana aku berdiri sekarang, tetapi hasilnya nihil. Seolah suara yang kugunakan adalah suara dalam hati.
Gundah, heran, dan putus asa. Tiga perasaan itu menempati tiga teratas billboard emosi diriku. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Namun, jawaban dari pertanyaanku muncul tepat selagi perasaan negatif mencengkram diriku.
“Mamah, akuu mahu buwahh… mama peetyik (Mamah, aku mau buah, mamah petik),” ucap seorang anak kecil yang sepertinya baru bisa berbicara kepada ibunya selagi jari telunjuknya diacungkan ke arah di mana aku sekarang.
“HAH??? Sialan kau bocah tengik! Kau pikir aku makhluk autotrof seperti tumbuhan? Jadi, aku sekarang memiliki akar yang merongsok ke dalam tanah, punya tubuh yang kokoh, punya dahan dan ranting yang bercabang-cabang, dan menghasilkan buah sebagai cadangan makanan??? Sini kau bocah! Aku akan menghajarmu!” Kemarahanku memuncak dan ingin sekali menghajar anak itu yang seolah meledekku dengan tumbuhan.
Akan tetapi, apa mereka berdua mengindahkan perkataanku atau memang tidak dapat medengar apa yang kukatakan. Namun, satu perkataan dari ibu anak itu membuatku terdiam.
“Hei… tidak boleh seperti itu. Nak, itu pohon milik orang lain. Kau tidak boleh sembarangan mengambil apa yang sudah dimiliki oleh orang lain tanpa izinnya.”
“Jadi, aku tyidak bica mamam buwah (Jadi, aku tidak bisa makan buah)?” Anak itu cemberut.
“Nanti, ya… Mama belikan di toko buah. Kau bisa makan buah sesukamu.” Ibu itu memberikan harapan. Anak itu mengangguk setuju dan pergi bersama ibunya.
Kakiku tertancap ke dalam tanah, seperti akar. Tanganku yang sekarang mungkin bercabang, seperti dahan dan ranting, rambutku mungkin sudah berwarna hijau. Tubuhku keras dan kokoh seperti batang. Dan mungkinkah aku bisa membuat makanan sendiri? Aku merenungkan kembali perkataanku tadi dan percaya atau tidak aku…
“Aku… bereinkarnasi… dan aku sekarang hidup menjadi sebuah pohon,” ucapku dengan wajah tanpa ekspresi. Bukan, aku tidak tahu lagi ekspresi apa yang harus ditunjukkan.
***
Selagi aku tertidur. Aku bermimpi tentang hari-hariku sebagai seorang manusia.
BAAKKK! BUKK! BAKK! BUKK!
“Heh… kenapa? Sudah tidak tahan? Hihihi… maaf saja, ya, hari ini aku mendapat surat tantangan dari segerombolan domba-domba yang sudah merasa jadi serigala. Jadi, aku harus berlatih terlebih dahulu sebelum menghajar mereka. Bukankah kau sudah bersedia menjadi samsak hari ini? Ayolah, bantu aku berlatih dasar sialan!” Aku yang saat itu sedang memohon secara halus kepada seseorang.
“…”
“Ya, sudah, aku anggap setuju, ya.” Karena tidak ada respon, aku kencangkan ikatan rantai yang ada di pergelangan kedua tangannya dan ikatan yang ada di atas gantungan yang biasa kupakai untuk samsak tinju. Namun, hari ini, “temanku yang baik hati” rela menjadi samsak agar aku bisa mengalahkan musuh-musuhku. Sebelum aku melanjutkan latihan, aku melepas kacamata dari wajahnya. Setelahnya, aku melanjutkan latihan dengan penuh semangat.
***
Keesokan harinya, saat mentari mulai bangun dari tidurnya, terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok… tok tok…
“Permisi, apa ada orang di rumah?” Terdengar suara gadis sedang bertamu di rumah itu.
Aku yang masih sempat merasakan apa yang disebut sebagai tidur, mulai membuka mata, lebih tepatnya penglihatanku dan mulai mengarahkannya pada sumber suara. Saat penglihatanku mulai terarah pada gadis itu, aku entah mengapa seperti mengenal siapa sosok di balik gadis itu.
Gadis itu berparas cantik, memiliki perawakan tinggi ramping, rambut merah darahnya panjang dan dikuncir. Aku memperkirakan usianya dalam rentang 20-25 tahun. Namun, aku berpikir sepertinya dia berusia 22 tahun. Hari ini dia memakai pakaian olahraga dengan handuk kecil yang dikalungkan di lehernya. Dia membawa tas-tas besar yang aku tidak tahu apa isinya. Satu hal yang menyedot perhatianku ialah bahwa matanya sama persis dengan milikku sewaktu hidup. Aku mulai mencoba mengingat-ingat siapa dia. Ketika aku mengingat lagi seperti apa suaranya, aku mulai tertawa kecil tanpa sadar dan menyayangkan kenapa aku mengingatnya lagi tadi.
“Kau yang bernama Tuhan itu maunya apa? Mengapa Engkau kembali mempertemukan aku dengan Angelia?” jujur saja, aku sangat kesal dengan takdir ini.
Tetapi satu hal yang juga membuatku terkejut adalah bahwa penghuni rumah tersebut tiada lain adalah…
“Maaf membuat kakak menunggu lama!” balas anak berkacamata yang sepertinya seorang siswa SMP.
“Aduh, kenapa pagi sekali?” Muncul lagi anak seumurannya yang berambut merah darah dan mata yang sama seperti Angelia.
Seorang anak berkacamata? Terlebih lagi ada anak berambut merah darah dan mata yang sama dengan Angelia? Tunggu dulu… Aku sepertinya mengenalnya, dia bocah mata empat yang sering terkena perundungan dariku bukan? Dan satunya, aku mulai berpikir kalau dia mirip denganku dan Angelia, tapi aku masih belum bisa menebak siapa dirinya sampai perkataan Angelia menambah kebingunganku.
“Oi, Ares, jangan banyak mengeluh. Ayo latihan,” ajak Angelia.
Ares? Aku? Aku satu rumah dengan bocah itu? Aku di sini bukan? Mengapa ada aku padahal sudah ada aku di sini? Mengapa aku sepertinya mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan Angelia dan bocah berkacamata itu? Aku yang aku ketahui adalah seorang berandalan terkuat yang tidak memiliki hubungan baik dengan Angelia dan selalu menjadikan bocah itu target perundungan harian yang aku lakukan. Namun, sepertinya teka-teki itu untuk sementara harus berlalu karena setelah beberapa saat mereka bertiga menuju ke tempat aku berdiri.
Mereka bertiga dengan pakaian olahraga mulai melakukan pemanasan. Setelah pemanasan, Angelia mulai membuka tas-tas besar miliknya dan mengeluarkan sejenis kain yang kelihatannya panjang sekali. Ia juga mengeluarkan sejenis busa yang biasa dipakai untuk dalaman sofa. Tidak ketinggalan gulungan-gulungan tali tambang marlon. Setelah mengeluarkan barang-barang yang diperlukan, mereka bertiga mulai melilitkan busa dan kain kepadaku. Busa dipasang melingkar yang diikuti oleh kain. Selanjutnya, kain dan busa yang sudah dilingkarkan dililit dengan tali tambang. Setelah terpasang dengan sempurna di batang pohon, kini tubuhku. Mereka sepertinya menjadikanku sebagai samsak untuk latihan.
“OI, OI, OI, OI, OI, OI, OI, OI!!! Jangan bercanda… NGGHH… UGHHH…” Aku mencoba sekuat tenaga untuk bergerak meskipun memang mustahil, tetapi aku tidak ingin dijadikan samsak bagi mereka! Pada saat yang bersamaan, Angelia mengambil posisi kuda-kuda, sepertinya ia yang mengambil giliran pertama. Gawat! Angelia bukan orang sembarangan, dia…
BUAKKK… BUKKK… BAKK… BUKKK…
“HYAHH! HWAAHH! HAAH!” Angelia memukul dan menendang sekuat yang ia bisa.
“UUUAAAAAAKKKHHHH!!!” Hanya itu lah responku. Angelia terus melakukan melanjutkan pukulan dan tendangan dan diriku juga terus menerima pukulan dan tendangan kerasnya. Sakit, itu lah yang kupikirkan.
Selanjutnya giliran bocah berkacamata. Bocah itu tak sekuat Angelia. Walau begitu setiap pukulan dan tendangan yang kuterima tanpa melakukan perlawanan balik baik dari Angelia walaupun bocah ini tetaplah menyakitkan.
BAKK… BUKK… BAKK…
“UWOOOHH!” Bocah sialan itu juga sepertinya tidak mau kalah dengan Angelia.
“UKHHHH… AKH… UWAAAKKHHH…” Aku terus menjerit berteriak dan terus menerima berbagai pukulan dan tendangan dari bocah itu. Aku sudah tidak tahan lagi!
Setelah bocah itu sudah merasa cukup dengan pukulan dan tendangannya. Selanjutnya menjadi giliran aku untuk “menghajar” diriku. Ini hal yang tidak pernah terbayangkan ketika aku memukul dan menendang diriku sendiri. Aku sudah tidak berdaya tetapi…
SYUUTT…
BUAK!!! Aku mendapat tendangan meluncur dari diriku.
“OOOGGGHHHH!!! HAHH… HAHHH… hentikan sialan… hentikan…” Aku sampai memohon untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, tetapi tidak ada yang mendengarkanku.
Aku ingin membalas perbuatan mereka. Aku kembali mencoba menggerakan tanganku, sekarang menjadi ranting-ranting dan dahan-dahan milikku. Berharap ada keajaiban muncul. Namun, sekali lagi hasilnya nihil. Aku benar-benar putus asa. Aku hanya bisa pasrah dan menjerit selagi mereka terus menerus secara bergantian melancarkan serangan demi serangan mereka masing-masing.
***
Beberapa hari telah berlalu. Aku untuk sekarang ini terus menjadi samsak bagi mereka bertiga, mungkin lebih tepatnya aku dan mereka berdua. Sepertinya Angelia sedang melatih aku dan bocah itu menguasai bela diri. Angelia sepertinya menginginkan aku dan bocah itu menyempurnakan dan memperkuat teknik dasar pukulan dan tendangan. Terus menerus dijadikan samsak oleh mereka, aku pun juga harus menahan sakit dan terus menggali informasi dengan mendengar apa saja dari percakapan mereka bertiga. Dari percakapan mereka yang berhasil didengarkan oleh diriku, aku menyimpulkan beberapa hal.
Pertama, aku berada di dunia yang bukan aku yang sekarang ini berada. Aku tidak hanya bereinkarnasi saja, tetapi juga aku hidup kembali di dunia yang berbeda. Kedua, dari percakapan mereka, aku tahu bahwa aku dan bocah berkacamata itu di dunia ini merupakan teman dekat dan sudah memulai pertemanan kami sejak bangku sekolah dasar. Ketiga, melihat hubungan antara Angelia dan aku, aku berasumsi bahwa hubungan kami tidak buruk. Meskipun aku dan Angelia tidak menunjukkan gestur yang akrab, tetapi tidak terlihat perasaan acuh dan benci satu sama lain. Yang membedakan hubunganku dengan Angelia yang ada di dunia sana dan sini ialah bahwa kedua orang tuaku di dunia sana bercerai akibat pertengkaran hebat yang menjurus ke arah kekerasan. Akhir hidup mereka berdua juga menyedihkan. Ibuku mati karena terkena gangguan mental yang sangat kuat, dan ayahku mati karena penyakit kronis yang diperparah dengan konsumsi narkotika semasa hidupnya. Sedangkan kedua orang tuaku di dunia ini sepertinya memiliki kehidupan yang cukup harmonis, meskipun mereka berdua bercerai juga di dunia ini. Namun, tidak separah di dunia sana. Aku yang di dunia ini juga tidak memiliki kepribadian seperti diriku sebelum bereinkarnasi di dunia ini. Ia pandai bertarung, tapi tidak menjadi berandalan dan menghajar orang-orang. Ia juga mempunyai kenakalannya sendiri, tetapi ia tidak tertarik untuk merundung dan menindas orang yang lebih lemah dibandingkan dengannya. Benar-benar berbanding terbalik.
Selagi mengingat-ingat informasi yang berhasil didapatkan, kini malam kembali menyapa. Jadi, aku memutuskan untuk tidur untuk bangun kembali melihat seperti apa kehidupan aku nantinya di dunia ini.
***
Pada suatu malam yang tenang, aku kembali mendapati diriku sedang bermimpi akan sesuatu.
“Wah… wah… toiletnya sudah penuh, ya. Mau bagaimana lagi, aku ke sana ah,” aku mengucapkannya dengan cemberut.
Aku sebenarnya bisa saja mendobrak salah satu dari pintu toilet manapun yang aku suka dan menarik orang yang ada di dalamnya tanpa peduli ia belum selesai melakukannya, tetapi mereka beruntung karena aku tidak ada niatan untuk melakukannya. Jadi, aku pergi ke belakang sekolah saja. Aku menuju ke salah satu pohon besar yang ada di sana.
Aku menengok ke arah belakang dan menggerakan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Setelah dirasa aman, aku mulai memposisikan diriku untuk mengeluarkan, atau ekskresi sesuatu ke arah akar dari pohon itu. Apa yang aku keluarkan ini adalah cairan yang mengandung zat-zat yang harus dikeluarkan dari tubuhku sebagai hasil dari proses penyaringan (filtrasi), pengumpulan kembali (reabsorpsi), dan penambahan zat sisa (augmentasi) yang dilakukan oleh ginjal, dan saluran-salurannya (tubulus kontortus proksimal, distal, dan kolektivus) hingga peredarannya tertampung di kantung kemih. Ketika aku, otakku, memerintahkan cairan itu untuk dikeluarkan, maka cairan itu pun keluar melalui saluran yang ada pada organ itu.
Syuuuurrr…
Ah… rasanya lega sekali. Oh, ya, zat-zat yang dikeluarkan oleh tubuh, beberapa diantaranya dibutuhkan oleh tumbuhan lho… harusnya jika aku sebagai tumbuhan harus bersyukur dengan hal ini.
Beberapa hari setelahnya…
Saat itu tidak ada orang yang berlalu-lalang di jalan sekitar rumah. Kemudian, terlihat beberapa anak remaja yang sedang berbincang-bincang. Aku sendiri tidak dapat mendengar obrolan mereka, dan salah satu dari mereka datang mendekati rumah. Aku tidak tahu apa yang anak ini lakukan, tetapi aku tidak yakin anak ini datang dengan maksud baik-baik.
Anak ini memasuki rumah lewat atas tembok, sudah seperti pencuri saja. Anak ini lalu mendatangiku. Aku yang curiga tetap saja tidak dapat berbuat apa-apa. Semoga anak ini tidak melakukan sesuatu terhadapku.
Sialnya, Tuhan lebih mengabulkan ketidakinginanku.
Anak ini… dia… kalau kau mau numpang ke toilet, bilang saja! Mengapa kau lebih memilih melakukannya di sini? Apa kau bodoh?
SYUUUR…
Anak itu tersenyum puas dengan kelakuannya.
Cairan yang dikeluarkan anak itu… membasahi tanah dan tanpa sadar akarku menyerap cairan tersebut.
“HHHHHOOOOOOOEEEKKKKKKK!!!”
Aku dengan sekuat tenaga memuntahkan apa yang akarku serap dari anak itu. Namun, secara terus menerus akarku menyerap semua cairan yang dikeluarkannya.
Bukan hanya itu saja, kesialanku bertambah dengan bau yang dihasilkan oleh amonia dari cairan itu, dan aku tidak dapat menghindar dari aroma itu. Setelah selesai mengeluarkan seluruh cairan yang harus dibuang, anak itu berkata…
“Seharusnya kau bersyukur mendapat suplai nutrisi yang kau butuhkan, pohon sialan.” Anak itu lalu pergi dengan tatapan tajam kearahku sambil tersenyum.
Mendengarkan perkataannya, aku merasa bahwa aku bereinkarnasi sebagai pohon bukan lah tanpa alasan. Aku hanya bisa “menunduk” dan termenung akan kehidupanku sebelumnya.
***
Kesialan demi kesialan terus menghampiriku. Aku ingin cepat mati. Kehidupan keduaku bukan lah kehidupan yang menyenangkan. Dan hanya malam yang dapat menghentikan sementara badai kesialan yang menimpa diriku.
Lagi dan lagi, pertanda akan sesuatu kembali kudapatkan.
“EUREKA!” Aku berseru karena menemukan hal baru yang layak kuberikan kepada seorang bocah berkacamata yang penuh luka.
PRAKKKK!
Suara yang menandakan patahnya lengan kanannya terdengar.
“AAAAAAAAAAKKKKKHHHHHHHH!!!”
Ini adalah jeritan yang aku pikir sebagai sesuatu yang sangat merdu untuk didengar.
***
Apa yang telah kulakukan… dan apa yang telah dilakukan oleh orang lain terhadapku… sepertinya merupakan satu timbal balik yang dikehendaki oleh yang namanya Tuhan itu, ya. Jika aku masih diberi kesempatan untuk memohon kepada-Nya, aku minta agar aku cepat mati saja dan aku ingin menebus kesalahanku di kehidupan sebelumnya.
Ini lah doaku yang kupanjatkan kepada-Nya, walau sebenarnya aku sendiri masih tidak tahu apakah Tuhan itu benar adanya, selama menjalani kehidupan keduaku akhir-akhir ini. Dengan berbagai penderitaan yang aku terima, aku mulai memikirkan sedikit demi sedikit perbuatanku. Rasa penyesalan memang selalu datang di akhir cerita. Aku sudah putus asa untuk hidup sebagai diriku yang sekarang di dunia ini. Lain kali, jika aku kembali bereinkarnasi, aku tidak ingin menyakiti orang lain lagi.
***
Pagi yang mengabulkan doaku sudah tiba…
Angelia, aku, bocah berkacamata dan ayahnya menyiapkan alat-alat untuk “menghabisiku” hari ini. Tanpa banyak membuang waktu, mereka mulai menebas dahan dan ranting sebelum “menebas” diriku menjadi dua.
SRAK!!! SRAK!!! SYAATT!!!
Bersamaan dengan tebasan-tebasan itu, aku menjerit kesakitan yang luar biasa. Walaupun sekali lagi, tidak dapat terdengar oleh makhluk lain karena sejak kapan tumbuhan bisa bersuara? Tidak mungkin.
“AAAAAKKKHHHH!!!”
Jeritku menandakan kesakitan yang luar biasa.
Selanjutnya, ayah dari bocah berkacamata itu dibantu Angelia menggunakan gergaji mesin untuk “membelah” diriku menjadi dua.
SRRRRINGGGGGGG!
“HAHAHAHAHAHAHA!!!”
Tak menghiraukan rasa sakit, aku memaksakan diriku untuk tertawa karena aku yakin, kematianku sudah di depan mata.
Kebahagiaanku memuncak seiring dengan aku dan bocah berkacamata itu mulai mengumpulkan semua dahan dan ranting di dekat diriku dan menyiramnya dengan minyak tanah. Jika kalian bertanya apakah itu memungkinkan? Ya, area disekitarku sudah dibersihkan dari rumput-rumput liar dan dilingkari dengan aliran air yang sudah dibuat. Selain itu, alat untuk memadamkan api jika membesar sudah disiapkan. Jadi “kematian” yang disiapkan untuk diriku tidak akan menimbulkan masalah.
Setelah Angelia menyalakan api di ranting yang dipegangnya, ia melemparkannya ke arah diriku. Akhirnya, penantianku terwujud. Aku sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali dihidupkan dalam wujud yang berbeda atau tidak, tetapi aku berterima kasih karena sudah mengetahui apa yang dirasakan oleh siapa saja yang menjadi korban tindak kejahatanku. Setidaknya aku berjanji jika dipertemukan oleh mereka, korban-korban tindak kejahatanku, aku akan meminta maaf. Entah penyiksaan macam apa untuk membuat mereka memaafkanku akan aku terima. Satu hal lagi, tidak perlu bersedih melihat kematianku. Ini adalah cara mati yang terbaik.
SELESAI
¹Archimedes dari Sirakusa adalah seorang matematikawan, fisikawan, insinyur, astronom, dan penemu asal Yunani yang terkenal (Wikipedia).
²Dikenal sebagai hukum Archimedes. Prinsip Archimedes menyatakan bahwa gaya apung ke atas yang diberikan pada benda yang direndam dalam cairan, baik yang terendam seluruhnya atau sebagian, sama dengan berat cairan yang dipindahkan benda tersebut dan bekerja dalam arah ke atas di pusat massa dari cairan yang dipindahkan (Wikipedia).
³Sebuah kota di Pulau Sisilia, Italia (Wikipedia).
⁴Eureka adalah kata seruan yang digunakan untuk melambangkan penemuan suatu hal. Kata ini berasal dari bahasa Yunani Εὕρηκα/Ηὕρηκα – Heurēka/Hēurēka yang berarti “Aku telah menemukannya”. Seruan ini terkenal karena digunakan oleh Archimedes (Wikipedia).
⁵Teori totipotensi adalah teori yang mengatakan bahwa setiap sel berpotensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi individu lengkap seperti induknya (Wikipedia).
