Bukan Tidur Ternyenyak

Sharing is Caring
       
  

Entah apa yang membuatku bertindak seperti itu, yang jelas aku sudah mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak terucap. Seperti nasi yang terlanjur menjadi bubur, ucapan adalah hal yang tidak bisa ditarik kembali. Sejenak waktu berjalan lambat. Kebisingan tadi mendadak lenyap.

“Hari ini menu sarapannya apa, Bu?”

“Biasa…, roti sama susu putih. Tumben nanya, Rin?” ucap ibu sembari mengoleskan selai cokelat lalu menaruhnya di atas piring. 

“Gak apa-apa, kok,” balasku tersenyum riang. 

Hal yang menakutkan bagiku bukanlah menonton film horor di bioskop dengan suasana gelap yang menegangkan, bukan juga mendapat nilai terburuk ketika mengikuti ujian sekolah. Namun, hal yang membuatku gamang hingga bulu kuduk merinding tidak lain disebabkan oleh seorang wanita yang biasanya kusebut ibu. Sosok yang cerewet, tetapi baik. 

Tidak pernah terbayangkan dalam benakku bahwa ibu akan memberikan pandangan terburuk yang pernah kulihat. Ekspresi yang sangat mengerikan itu membuatku merasa menjadi orang paling berdosa di muka bumi. Acap kali aku membuat ibu marah bercampur lelah. Lelah karena memberikan nasihat yang sama ketika aku melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Sering kali aku menyakiti hati ibu dengan segala perkataan yang pernah terucap, tetapi sering kali pula aku merasa sangat bergantung kepada ibu. 

“Ibu…, kalau nanti Arin sudah tidak punya siapa-siapa lagi, apa Arin bisa menjalani kehidupan, Bu?” Pertanyaan sentimental itu mendadak keluar begitu saja dari bibirku.

“Arin tidak yakin bisa hidup tanpa ibu,” ujarku lagi. 

Wanita yang sudah hampir berkepala empat itu tersenyum simpul, “Nak, ibu memang tidak akan selalu ada di sampingmu. Tapi, ibu janji akan selalu melihatmu.”   

Mendengar itu sontak saja membuatku semakin kepikiran. Kalimat terakhir yang ibu katakan seakan-akan ibu meramal masa depan. Kebalikannya, aku selalu takut membayangkan masa depan. Makin dewasa makin pula aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpa kehadiran sosok ibu. Tidak akan pernah.

Tanpa sadar, ibu bisa menjadi sosok siapa saja. Sahabat, ayah, serta ibu yang sekaligus menjadi guru dalam segala hal. Tanpa mengutarakan maksudku terlebih dahulu, ibu akan langsung mengerti. Tidak aneh jika aku merasa itu merupakan suatu hal yang pantas disyukuri. Bayangkan saja, bagaimana bisa ada orang yang mengerti kesunyian dalam diri kita? Sepertinya tidak akan pernah aku menemukan orang seperti itu selain ibu.

Tetapi hari itu, ekspresi ibu sungguh berbeda. Sejauh ini tidak pernah ada pertengkaran panas di antara kami hingga tak saling tegur seminggu lamanya. Rekor tak saling sapa itu benar-benar terjadi hingga hari ketujuh. Hal itu terjadi karena pendapat kami yang saling bersinggungan. Namun, jujur saja aku lebih terkejut karena reaksi yang ibu berikan.

“Apa pentingnya kesenangan bersifat sementara itu?” tanya ibu dengan raut yang sendu. Kerutan di keningnya semakin jelas saja setelah mendengar perkataanku, dengan frustasi aku menjambak rambutku karena terlalu kesal.

“Demi apa pun Arin menyesal dilahirkan oleh ibu!!!”

Entah apa yang membuatku bertindak seperti itu, yang jelas aku sudah mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak terucap. Seperti nasi yang terlanjur menjadi bubur, ucapan adalah hal yang tidak bisa ditarik kembali. Sejenak waktu berjalan lambat. Kebisingan tadi mendadak lenyap. Maniknya menatapku kian lekat. Setelahnya, ibu terdiam. Tidak membalas. Sorot kecewa itu tentu saja mengarah tepat kepadaku. Setelahnya lagi, ibu berbalik pergi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Keesokan harinya Anita, sepupu sekaligus tetanggaku datang dengan membawa rantang tiga tingkat. Rantang berisi nasi, sayur, dan lauk masak itu disusun rapi di meja makan. Baunya langsung menyeruak ke penciumanku saat penutupnya dibuka. Aku mendekat, mengambil sendok, dan menyuap nasi beserta lauk yang tersedia. Tumben sekali Anita datang.

“Rin, jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Ibumu titip pesan ‘jaga diri’ katanya.”

Aku berhenti mengunyah. Sejenak mengernyit bingung, memangnya ibu ke mana? Tidak biasanya ibu pergi tanpa berpamitan. Menuju pasar di dekat rumah saja ibu selalu memberikan kabar terlebih dahulu. Apa ibu sengaja pergi karena masih marah akibat pertengkaran kemarin? Tetapi ibu bukan lah pribadi yang seperti itu, semarah apa pun ibu pasti kembali seperti semula di pagi hari berikutnya. Seperti tidak terjadi apa-apa pada hari sebelumnya, keesokan paginya langsung menyiapkan sarapan seperti biasa.

Aneh memang. Pagi ini tidak ada sarapan di atas meja. Hingga mentari terbenam menghantarkan cahaya jingganya dan sekejap saja sore hari itu berganti gelap. Tetap saja tidak ada tanda-tanda kepulangan ibu. Begitu pula keesokan harinya hingga lusa. Tidak ada suara cerewet ibu di pagi hari, tidak ada suara irisan bawang di dapur, bahkan tidak ada suara percikan minyak goreng di sore hari menjelang makan malam.

Sekali lagi aku mengingat kembali hari terakhir kali kami bertengkar. Rasanya setelah ibu meninggalkan rumah tidak pernah sehari pun aku tidak memikirkannya. Saat itu aku memang dilanda emosi sesaat, egoku tidak ingin mengalah. Memang benar itu semua karena ibu tidak mengizinkanku untuk pergi bersama teman-temanku yang berencana naik gunung saat akhir pekan. Akan tetapi, ibu terus saja melarang keras keinginan tersebut. Larangan itu mutlak.

“Memangnya kau ingin bernasib sama seperti Dion?”

Aku tak menjawab, sedangkan ibu tentu saja tetap pada pendiriannya–terus saja menentang keinginanku. Suasana di sekitar kami makin memanas dan menyesakkan dada.

“Kejadian itu sudah lama sekali, Bu,” ucapku yang sarat akan penyangkalan.

“Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, Rin. Terserah setelah ini kau ingin melakukan apa, tetapi naik ke gunung tidak bisa ibu izinkan. Jangan mengulangi hal yang sama seperti Dion,” balasnya tegas.

Ibu marah. Aku paham betul bila sudah menyebut nama itu, artinya ibu sedang di ambang batas kesabarannya. Dion, kakak laki-lakiku yang pernah mendaki gunung terkenal di kota kami. Hingga detik ini, dia tidak pernah ditemukan. Kehilangan saudara laki-lakiku tanpa ada bukti yang pasti membuat ibu sangat terpukul. Itulah mengapa ibu melarangku dengan tegas bukan hanya sekedar alasan. Memang ada luka lama dibaliknya.

Perasaan ditinggalkan ini merupakan perasaan tidak menyenangkan. Aku takut, aku kalut. Makin lama makin banyak perasaan bersalah yang timbul ke permukaan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di otakku yang kecil.

“Sepertinya aku memang sungguh keterlaluan. Apa ibu baik-baik saja?”

Tanpa sadar gumamanku mulai ikut menyatakan perasaan cemasnya. Ikut merana karena sang empunya mulai berbicara sendiri. Kelopak mata bawahku mungkin semakin hari semakin menghitam. Kadang pula mataku hanya menatap lurus meja yang mulai kotor akibat bekas makanan dan minuman instan yang diletakkan sembarangan. Keadaan rumah benar-benar seperti kapal pecah, sampah-sampah berserakkan di mana-mana, cucian piring tidak pernah kosong serta tumpukan cucian yang semakin menggunung. Hal itu juga berlaku pada kamar 3×4 meter milikku. Pakaianku, dibiarkan menumpuk dan selimut dibiarkan tersibak akibat tidak pernah lagi dilipat. 

Ternyata, tanpa kehadiran ibu aku memang tidak ada apa-apanya. Selama ada ibu semuanya tertata. Rapi dan tidak ada debu. Ibu bahkan selama ini tidak mengeluh dan melakukan semuanya dengan ikhlas. Menjadi seorang ibu ternyata melelahkan sekali.

Kapan ibu pulang?

Kapan ibu kembali?

“Ibu, aku rindu.”

Hanya itu yang bisa kupikirkan untuk saat ini. Berdiam diri dengan melamun duduk di teras rumah sembari menunggu. Menunggu kepulangan ibu. Jika memang ibu pulang, aku akan langsung meminta maaf dan meminta ibu untuk tidak pernah meninggalkanku lagi. Sungguh, setiap malam aku merasa sunyi. Tidak ada suara tawa ibu yang menonton Opera van Java kesukaannya sembari menyetrika baju. Keheningan itu menyesakkanku hingga ke tulang. 

Setiap hari aku menatap pagar yang selalu dalam posisi yang sama. Namun, entah memang ibu memaafkanku atau tidak yang pasti saat kulihat pagar menimbulkan derit karena bunyi gesekan yang kentara sontak membuatku langsung berdiri dari kursi. Hal pertama yang kulihat adalah ibu yang kembali dengan daster yang ia gunakan saat kami bertengkar waktu itu. 

“Ibu!”

Satu kata. Hanya satu kata yang keluar. Aku tidak peduli lagi, berlari layaknya orang kesetanan. Hal yang teramat kuinginkan saat itu hanya memeluk ibu. Namun, hal itu urung kulakukan. Ekspresi ibu masih dengan raut yang sama seperti terakhir kali. Dingin dan datar. 

Bukan, bukan ini yang kuharapkan ketika menyambut kepulangan ibu. Betapa aku merindukan pelukan hangatnya. Namun, kesempatan itu seperti sirna begitu saja. Melebur dengan tetes-tetes hujan ketika kami berdiri saling berhadapan di halaman rumah.

Mimik yang penuh sorot tak acuh itu sedang ibu arahkan kepadaku.

Bip! Bip!

Aku mengusap peluh di pinggiran wajahku, basah. Pipiku juga meninggalkan jejak anak sungai yang sempat mengalir. Rupanya mimpi itu adalah mimpi panjang terburuk yang pernah kualami. Jika bukan karena alarm ponselku, mungkin tatapan bengis itu benar-benar akan ditujukan kepadaku. Mengerjap sejenak, aku akhirnya memutuskan bangkit dari kasurku. Setelah menginjak lantai yang dingin, aku yakin ini bukan mimpi seperti sebelumnya. Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa menuruni tangga kutatapi seluruh ruangan dengan nanar.

Ternyata masih kosong.

Hening. Tidak ada tanda-tanda bukti kegiatan di pagi hari. Tidak ada aroma nasi goreng telur mata sapi yang terkadang menjadi menu favoritku selain roti dan susu. Sekarang tidak ada keduanya, semuanya benar-benar masih kosong. Mungkin aku memang sedang dihukum karena sudah membangkang dengan orang tua. Segala perbuatan sudah pasti ada bayarannya. Bayaran yang membuatku merenung dalam kubangan penyesalan seumur hidup. Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya menatap pagar rumah dengan hampa.

Mimpi semalam, ternyata bukan mimpi semata. 


Rici Risnawati atau yang lebih sering disapa Rici merupakan mahasiswi kelahiran Muara Teweh, 9 Februari 2003. Menulis merupakan hobi yang sudah ia lakukan sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia pernah memperkenalkan kota kelahirannya melalui buku Bunga Rampai karya inspiratif pelajar Barito Utara, yang diterbitkan oleh Cangkir Pustaka.

Sumber foto: Brodie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *