
Aku gemetar kedinginan seakan tertimbun salju. Gigil merambati tulangku, mematuk kulit, dan mendinginkan lidah hingga beku. Tak terkatakan begitu banyak rasa berkecamuk dalam diriku. Kebanyakan adalah metafora negatif dari sulur kebencian dan ketakutan yang memintal dalam dadaku.
Apa yang terjadi padaku? Samar-samar, aku pun tak tahu. Samar-samar, ingatanku menolak mereka ulang kejadian yang lalu. Seolah diriku secara spontan membangun tembok yang tinggi nan kokoh dari apa pun yang berasal dari relung kegelapan pikiran, yang mungkin saja akan menyakitiku. Kulangkahkan kaki pulang ke rumah dengan perasaan mual yang menggumpal, berjalan sunyi tak ingin menarik perhatian siapa pun atau apa pun, sama sekali tak memahami apa pun yang terjadi pada diriku.
Hanya ada rasa sakit, sakit, sakit tak terdefinisikan. Padahal aku tidak terluka dan tak berdarah, walau seujung jari pun. Namun, hatiku berat oleh penderitaan tak kasat mata, yang meretakkan jiwa hingga menjadi tanpa nama. Sesampainya di rumah, ibu melihat wajahku yang penuh teror. Ia bertanya, “Ada apa?”
Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu.
Bagaimana mungkin aku tidak tahu jika raga dan sukmaku menderita sedemikian rupa? Kupaksa otakku bekerja, menggali memori sejelas-jelasnya. Lalu, tampaklah kejadian itu. Tangan-tangan berkeringat durjana yang meraihku, meninggalkan jejak buruk tak terlihat di atas kulit seperti merek terbakar hangus, permanen, dan tak akan pernah hilang, tak peduli secanggih apa teknologi pengobatan zaman sekarang. Tangan keriput memang tak mengucurkan darah dari dagingku. Namun, tak ayal mengoyak jiwa dan hatiku menjadi seonggok kerusakan tanpa harapan perbaikan.
Aku menangis, menangis, dan menjerit. Mual naik ke kerongkonganku, membuatku memuntahkan apa-apa bersama rasa derita dalam diriku. Keluarlah, keluarlah, keluarlah rasa perih yang menyayat sukma, jangan engkau berdiam dalam diriku lebih lama. Aku tak sanggup memikulnya. Aku tak meminta derita ini ada. Aku tak meminta pria gila itu untuk menjamahku seakan aku buah di pinggir jalan.
Namun, derita itu tidak hilang. Sayatan dalam jiwa tiada pulih. Setengah hidup aku terpaksa melangkah maju, membawa serta luka yang tak tahu apakah akan sembuh. Noda-noda tak terlihat bermekaran di kulitku, tiada peduli seberapa keras aku menggosoknya dengan sabun anti noda paling ampuh. Sejak saat itu, dunia tiada lagi sama bagiku. Dunia tiada lagi seindah arunika¹. Duniaku telah tertutup awan kelabu dan derita awanama² yang menempel di kalbu.
¹fajar; matahari terbit
²tanpa nama; anonim
Penulis: Firdayati Amalia Shaliha
