Tangisan yang Tertahan: Refleksi Emosional “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis”

Tangisan yang Tertahan: Refleksi Emosional “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis”

Sharing is Caring
       
  

Judul: Bolehkah Sekali Saja Kumenangis

Genre: Drama, komedi, thriller, dan romantis

Durasi film: 1 jam 41 menit

Bahasa: Bahasa Indonesia

Tayang: 17 Oktober 2024

Adaptasi: Runtuh oleh Feby Putri dan Fiersa Besari

Pemeran: Prilly Latuconsina sebagai Tari, Pradikta Wicaksono sebagai Baskara, Surya Saputra sebagai Pras, Dominique Sanda sebagai Dev, Widi Mulia sebagai Nina, Shania Gracia sebagai Sarah, Antonio Blanco Jr sebagai Dimas, Kristo Immanuel sebagai Agoy, Ummi Quary sebagai Ica, Adzana Ashel, Kenya Nindia sebagai Lola, Dayu Wijanto sebagai Tika, Nandito Hidayattullah Putra, Ence Bagu, dan Adzana Ashel

Direktur: Reka Wijaya

Penulis: Junisya Aurelita, Santy Diliana, dan Rezy Junio

Sumber: yt Sinemaku Pictures

Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis mengisahkan kehidupan seorang gadis muda bernama Tari, yang sejak kecil harus menghadapi trauma akibat kekerasan verbal. Ayahnya, yang dikenal kasar dan temperamental, sering menekan Tari secara emosional. Pertengkaran antara kedua orang tuanya, disertai kekerasan yang dialami ibunya, menyebabkan luka batin yang mendalam bagi Tari. Situasi ini semakin diperburuk ketika kakaknya memutuskan untuk meninggalkan rumah.

Tanpa ada yang bisa diandalkan, Tari berusaha sendiri melindungi ibunya dari kekerasan ayahnya. Ditambah beban hidup yang begitu berat membuat Tari semakin kesulitan mengekspresikan emosinya. Tekanan juga hadir di tempat kerja, di mana Tari merasa terjebak dalam pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya. Hingga seorang pekerja baru bernama Baskara muncul di kantornya.

Suatu ketika, Tari menemukan sebuah komunitas Support Group, tempat orang-orang saling berbagi cerita dan berfokus pada isu kesehatan mental. Tanpa diduga, Baskara ternyata juga bergabung di grup tersebut. Seperti ayah Tari, Baskara juga memiliki masalah dalam mengendalikan emosinya karena trauma masa lalu.

Apakah Tari akhirnya mampu menghadapi semua traumanya dan berhenti menahan tangisnya yang selama ini tersembunyi?

Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis sukses menciptakan kombinasi antara suasana hangat dan emosional yang tajam, memberikan penonton pengalaman mendalam melalui perjalanan di setiap karakter. Kisah konflik dalam keluarga Tari dibangun dengan perlahan, memungkinkan penonton merasakan setiap tahapan emosional yang dialami para tokoh, khususnya Tari. Film ini menyoroti dampak trauma dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), menampilkan bagaimana ketegangan batin yang dialami seorang anak dapat menggerus perasaannya dari waktu ke waktu.

Selain menggambarkan dinamika keluarga Tari, film ini juga memberikan sorotan pada harapan orang tua terhadap anak melalui karakter Baskara, yang diperankan oleh Pradikta Wicaksono. Baskara, seorang anak sulung, bergulat dengan tekanan batin setelah gagal mewujudkan mimpinya menjadi pemain basket profesional. Sub-plot ini menjadi menarik karena menyoroti tekanan dan kegelisahan yang sering dialami oleh anak-anak yang dibebani harapan besar dari orang tua mereka. Sutradara, Reka Wijaya, berhasil menggambarkan pergulatan batin Baskara dengan cara yang subtil namun tetap relevan.

Namun, meskipun film ini berhasil menyajikan tema keluarga dengan kuat, ada beberapa aspek yang terasa kurang terintegrasi dengan baik. Beberapa elemen cerita tampak terputus-putus, dengan narasi yang terkadang tidak mengalir secara mulus. Salah satu contoh adalah sub-plot Baskara yang menarik namun kurang dieksplorasi secara mendalam, membuat bagian ini terasa tidak mendapatkan porsi yang cukup. Hal ini menyebabkan beberapa momen di film tidak sepenuhnya menyentuh atau mengena seperti yang diharapkan.

Kendati demikian, kekurangan dalam narasi tersebut tidak secara signifikan mengurangi dampak emosional film secara keseluruhan. Isu utama tentang KDRT tetap dieksekusi dengan baik, memberikan pengaruh emosional yang mendalam bagi penonton. Penggambaran trauma antar generasi dan perjuangan seorang anak untuk melindungi dirinya sendiri maupun keluarganya terasa begitu nyata. Film ini menghadirkan tema yang berat, terutama dengan adanya adegan kekerasan yang ditampilkan secara gamblang. Oleh karena itu, penonton yang sensitif terhadap kekerasan mungkin perlu lebih berhati-hati saat menontonnya.

Di balik tema yang suram, film ini membawa pesan penting tentang pentingnya berbicara dan meminta bantuan dalam menghadapi trauma. Isu kesehatan mental dan trauma keluarga diangkat dengan cara yang memperlihatkan betapa pentingnya dukungan dari lingkungan serta komunitas bagi para korban KDRT. Salah satu hal yang ditonjolkan dalam film ini adalah bagaimana komunitas Support Group menjadi tempat yang aman bagi Tari dan Baskara untuk berbagi cerita dan menghadapi trauma mereka. Dukungan seperti ini menjadi faktor krusial dalam proses penyembuhan dan pemulihan diri dari luka batin yang disebabkan oleh kekerasan dan harapan yang tidak realistis.

Sumber: Sinemaku Pictures

Setiap luka memiliki cerita, dan setiap cerita memiliki potensi untuk menyembuhkan. Kita tidak sendiri dengan cerita dapat menjadi langkah dalam kebebasan.

Secara keseluruhan, Bolehkah Sekali Saja Kumenangis adalah sebuah film yang layak ditonton, terutama bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang kompleksitas dinamika keluarga yang penuh konflik dan maladaptif. Skor akhir 8/10, film ini mengajarkan bahwa meskipun luka dari masa lalu bisa begitu menyakitkan, selalu ada harapan melalui dukungan dari orang lain dan keberanian untuk menghadapi masalah. Meski beberapa elemen narasi masih bisa disempurnakan, film ini berhasil memberikan pesan kuat tentang trauma generasi dan pentingnya pemulihan kesehatan mental.

Bagaimana Sobat JITU? Apakah kamu tertarik untuk menonton film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis? Jangan lupa berikan pendapatmu setelah menonton film tersebut di kolom komentar!

Penulis: Febrita

Penyunting: Dyaa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *