
Banjarmasin, Warta JITU — Untuk pertama kalinya Desa Sungai Lumbah, Kabupaten Barito Kuala dipilih oleh Pendidikan Geografi FKIP ULM dalam pelaksanaan kegiatan riset Desa Tangguh Bencana pada Sabtu (26/2) lalu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan kapasitas Destana-Berakal Seraba (Desa Tangguh Bencana Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Banjar).
Kepala Desa Sungai Lumbah Farid Arman mengatakan pelaksanaan riset tangguh bencana ini baru pertama kali ada dan pihaknya merasa senang memperoleh pengetahuan terkait pencegahan dan penanganan bencana. Sebab pada awal tahun 2021 lalu, desa yang mempunyai 798 KK ini mendapat banyak kerugian pasca banjir, seperti terdapat banyak rumah warga rusak akibat bencana banjir, tetapi yang terdata hanya tujuh rumah saja.
Menanggapi hal tersebut, Plt BPBD Batola mengungkapkan bahwa tujuh rumah yang terdata tersebut, tiga diantaranya telah mendapat bantuan dan empat lainnya masih dalam proses. Apabila masih ada rumah warga yang rusak akibat banjir dan belum terdata kiranya bisa mengirim data pada saat gelombang kedua dibuka. Terkait bantuan berupa fasilitas perlengkapan siaga bencana, kepala BPBD tersebut menyarankan warga mengajukan proposal ke Bupati Batola dan tembusan langsung ke BPBD.
Kegiatan riset ini digelar di halaman Kantor Kepala Desa Sungai Lumbah, Kabupaten Barito Kuala dan diikuti oleh kurang lebih 50 warga sekitar yang dipaparkan langsung oleh Plt Kepala BPBD Kabupaten Barito Kuala Irmansyah sebagai pemantik, serta Deasy Arisanti, Karunia Puji Hastuti, dan Hery Porda Nugroho sebagai tim periset dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Riset Desa Tangguh Bencana yang diselenggarakan Prodi Pendidikan Geografi ini sudah dijalankan sejak Sabtu (12/2) lalu di Desa Bangkit Baru. Kemudian, riset ini kembali dilanjutkan di Desa Sungai Lumbah.
Deasy Arisanti mengatakan bahwa riset Desa Tangguh Bencana hanya digelar di dua desa. Hal ini karena menimbang pendanaan yang didapat. Hasil dari sosialisasi di dua desa tersebut akan dibagikan dalam bentuk kuesioner kepada warga sekitar terkait “Penerapan Rawan Bencana” oleh pihaknya. Selanjutnya dari kuesioner itu akan diolah menjadi data untuk pengkategorian apakah dua desa tersebut masuk bagian desa tangguh becana pratama, madya, atau utama.
“Hasilnya nanti, kita akan rekomendasikan ke BPBD untuk pelatihan, termasuk pembentukan desa tangguh bencana tersebut,” tutur Deasy.
Dilain sisi, Irmansyah sebagai pemantik menyampaikan bahwa rekomendasi diberikan kepada BPBD terlebih dahulu untuk dipetakan tingkat kerawanannya. Tidak bisa langsung membentuk desa tangguh bencana karena pembentukannya dilakukan secara bertahap sesuai skala prioritas dan pelatihan pun tergantung anggaran yang diberikan.
Meski demikian, Deasy mengharapkan setelah selesainya riset desa ini BPBD atau pemerintah terkait segera membentuk Desa Tangguh Bencana dengan dilengkapi fasilitas yang menunjang, adanya pengesahan secara hukum, beserta pelatihan-pelatihan yang dilakukan.
Editor: Ums
