Trigger warning: penyebutan kata ‘bunuh diri’ dan adegan pembunuhan.

Teruntuk kamu yang mempunyai hobi menonton film horor yang penuh dengan pesan, Lamun Sumelang yang rilis pada 21 November 2019 ini sepertinya bisa dimasukkan dalam daftar tontonan kamu. Film yang awalnya berjudul “Jiwa-Jiwa Tanpa Raga” ini diproduksi oleh Ravacana Films yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan ditulis sekaligus disutradarai oleh Ludy Oji Prastama. Film pendek berdurasi 18 menit dan diproduseri oleh Egha Harismina dan Elena Rosmeisara tersebut dibintangi oleh Freddy Rotterdam (Agus), Nunung Deni Puspitasari (Marni), Ikun Sri Kuncoro (Parmin), Liek Suyanto (Jiman), Tuminten (Pon), Retno Yunitawati (Sum), Naura Quinta (Ningsih), dan Mirkoen Awaly (Bapak Agus). Lamun Sumelang mengangkat realita masyarakat Gunung Kidul dan mitos pulung gantung yang biasa dianggap sebagai pemicu terjadinya bunuh diri.
Film dimulai dengan Agus yang melihat cahaya merah seperti bintang jatuh yang menandakan ada seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya. Agus berlari ke arah bintang jatuh tersebut dan menemukan salah satu tetangganya, Parmin, yang ingin bunuh diri. Agus ‘membantu’ proses bunuh diri dengan mencekik leher Parmin menggunakan tali. Hal tersebut dilakukan Agus untuk memenuhi tujuh orang tumbal agar anaknya, Ningsih, yang sedang sakit dapat sehat kembali. Parmin adalah tumbal keenam sehingga Agus perlu mencari satu orang untuk menjadi tumbal. Namun, siapa sangka kejadian tidak terduga dialami Agus ketika mendapatkan tumbal ketujuhnya.

Dari Lamun Sumelang, kita dapat melihat bagaimana minimnya ilmu pengetahuan yang dilengkapi dengan faktor ekonomi mempengaruhi seseorang. Bagian yang menarik perhatian dalam film pendek ini adalah sosok antagonis tidak diperlihatkan di sepanjang cerita, latar belakang, dan kisah para roh. Menurut saya, film ini sangat layak mendapat atensi karena film ini diproduksi dengan sangat apik, cerita yang penuh makna dan pembelajaran, dialog ringan yang menggelitik perut, ditambah dengan sinematografi yang luar biasa. Sementara itu, di awal film juga terdapat trigger warning yang sangat membantu untuk memperingatkan penonton bahwa dalam film terdapat adegan yang memiliki potensi untuk membuat seseorang merasa tidak nyaman.
Meskipun percakapan tokoh menggunakan bahasa Jawa, penonton tidak perlu khawatir dengan keterbatasan bahasa karena telah tersedia terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Film Lamun Sumelang tersedia di kanal YouTube Ravacana Films sehingga semua orang dapat menonton secara legal dan gratis. Kesimpulan yang diperoleh setelah menontonnya, menurut saya secara keseluruhan film ini memiliki kualitas yang sangat baik. Wajar saja jika film garapan Ludy Oji Prastama ini meraih penghargaan Film Pendek Terpilih Piala Maya 8.
Penulis: Abl
Editor: Kar
