Diduga Salah Sasaran, Apakah KIP Kuliah Sebaiknya Dihapuskan?

Sharing is Caring
       
  

Awal tahun 2023 ramai diperbincangkan bahwa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) diduga tidak tepat sasaran. KIP-K adalah suatu program bantuan dari pemerintah dalam bentuk biaya kuliah dan biaya hidup yang diberikan per semester kepada mahasiswa dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Tujuan dari diadakannya KIP-K ini adalah untuk meningkatkan perluasan akses dan kesempatan belajar di perguruan tinggi bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Kuota KIP-K pada tahun 2023 menargetkan sebanyak 185.000 mahasiswa di seluruh Indonesia.  Untuk bisa menjadi penerima beasiswa KIP-K, mahasiswa harus mendaftarkan diri melalui laman https://kip-kuliah.kemdikbud.go.id dan mengisi data-data seperti biodata diri, kelengkapan aset rumah, keadaan ekonomi,  dan sebagainya. Hal ini dilakukan guna menunjang tahap penyeleksian dari pihak kampus apakah mahasiswa tersebut layak atau tidaknya menerima bantuan KIP-K. 

Namun, saat ini beredar di berbagai sosial media seperti Twitter, TikTok, dan Instagram banyak tanggapan pro dan kontra bahwa penyaluran program  KIP-K diduga tidak tepat sasaran. Hal ini dikarenakan banyak oknum-oknum mahasiswa yang diduga menyalahgunakan bantuan program ini. Tentunya hal ini membuat pihak lain seperti mahasiswa yang tidak lolos seleksi beasiswa KIP-K padahal tidak mampu secara ekonomi merasakan ketidakadilan dan kekecewaan atas peristiwa ini. Mereka juga banyak mengeluhkan bahwa mereka bersusah payah bekerja mencari uang tambahan untuk biaya kuliah karena tidak lolos seleksi penerimaan beasiswa KIP-K. Sedangkan yang mampu, malah menerima KIP-K dan uang beasiswa itu malah digunakan untuk berfoya-foya. 

Lalu bagaimana oknum yang “menyalahgunakan” tersebut bisa lolos penerimaan beasiswa KIP-K?

Diduga bahwa banyak oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan kecurangan. Mereka memberi data palsu seperti foto rumah dan aset lainnya yang memungkinkan mereka bisa menjadi penerima KIP-K. Akibat maraknya perdebatan kasus ini bahkan ada segelintir pihak yang ingin kalau program KIP-K lebih baik dihapuskan. Hal ini tentu saja ditentang dari berbagai pihak karena mereka mengatakan kalau mereka sangat terbantu dengan program KIP-K. Salah satu komentar di Twitter mengatakan bahwa sebenarnya bukan programnya yang salah, tapi memang sasarannya yang kurang tepat. Jika KIP-K dihapuskan, maka akan mempersulit orang yang benar-benar membutuhkan program ini karena biaya kuliah memang mahal.

Lalu mengenai pro dan kontra diatas, apakah KIP-K memang dinyatakan salah sasaran pada saat ini?

  1. Banyaknya mahasiswa penerima KIP-K diduga tidak bertanggung jawab menyalahgunakan program ini. Meninjau dari berbagai isu dan tanggapan kontra di berbagai sosial media mengatakan bahwa ada penerima KIP-K yang menggunakan biaya bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan tersiernya. Sehingga hal ini membuat program KIP-K menjadi kurang maksimal dalam pemanfaatannya.
  2. Mahasiswa yang menyalahgunakan diduga belum sepenuhnya menyalahgunakan program ini. Beberapa mahasiswa berpendapat, mungkin mereka yang nonton konser bisa saja “menabung” dulu agar bisa nonton konser tersebut. Melihat kondisi kehidupan kampus yang sibuk, banyak tugas, dan juga melelahkan, tentu saja mahasiswa juga perlu hiburan.
  3. Banyak mahasiswa yang mengeluh bahwa penerima KIP-K kebanyakan adalah orang-orang yang mampu. Sistem seleksi dari pihak kampus dianggap masih kurang selektif. Diduga hal tersebut terjadi dikarenakan ada oknum yang memberi data palsu pada saat pendaftaran KIP-K, sehingga bisa lolos seleksi penerima KIP-K. Hal ini tentu saja bisa menimbulkan masalah, akibatnya memungkinkan program ini menjadi disalahgunakan oleh oknum mahasiswa yang tidak bertanggung jawab, serta pembagian bantuan biaya untuk yang lebih membutuhkan menjadi tidak memiliki kesempatan sama sekali.
  4. Kurangnya kesadaran dari mahasiswa mengenai siapa yang lebih membutuhkan bantuan program ini. Salah satu mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret, memeberikan tanggapannya mengenai hal tersebut, menurutnya banyak mahasiswa yang tidak tahu malu. Mengingat KIP-K yang seharusnya untuk mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi, seharusnya ada kesadaran dari diri kita sendiri untuk tidak memanfaatkan hak orang lain.

Dari berbagai pro dan kontra mengenai penyalahgunaan program KIP-K tersebut, tentu saja membuat banyak pertimbangan dari pihak pemerintah, apakah harus menghapus program ini karena banyaknya oknum mahasiswa yang menyalahgunakannya. Hal ini tentu saja bermasalah bagi mahasiswa yang kekurangan dan merugikan pihak kampus serta negara. Namun disatu sisi, juga banyak mahasiswa yang sudah tepat sasaran menerima bantuan program ini. Jika program KIP-K dihapus, mereka menjadi tidak tahu bagaimana cara mereka melanjutkan kuliah. 

Selanjutnya, bagaimana tanggapan dari pihak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk menyikapi  masalah ini?

  • Kemendikbudristek akan mengevaluasi hal ini, mulai dari pihak kampus hingga mahasiswa penerima.
  • Kemendikbudristek juga menginstruksikan perguruan tinggi untuk dapat melakukan evaluasi disetiap semester terhadap penerima bantuan KIP Kuliah. 
  • Perguruan tinggi juga dapat mengusulkan pembatalan status penerima beasiswa KIP Kuliah kepada Kemendikbudristek.

Penulis : Mira

Editor: Fitriana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *