90 Persen Siap, Wakil Dekan III FKIP ULM Harapkan PTM Dapat Meminimalisir Learning Loss

Sharing is Caring
       
  
Surat Edaran Rektor tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka di Lingkungan ULM.

Banjarmasin, Warta JITU — Universitas Lambung Mangkurat (ULM) telah mengeluarkan Surat Edaran Rektor pada Senin (3/1) lalu mengenai Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka di Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat. Dalam edaran tersebut dicantumkan bahwa perkuliahan tatap muka (PTM) akan diberlakukan di lingkungan kampus ULM pada awal semester genap, bulan Februari 2022 mendatang dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) dan memenuhi ketentuan yang berlaku. 

Wakil Dekan III bidang Kemahasiswaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ULM Dwi Atmono mengatakan bahwa FKIP sendiri telah memiliki kesiapan 90 persen untuk menghadapi PTM bulan depan. 90 persen dari kesiapan tersebut termasuk sarana dan prasarana di ruang lingkup kampus, dengan Tim Peer Educator Covid-19 yang merupakan perwakilan dari 21 program studi (prodi) di FKIP ULM yang digerakkan untuk menerbitkan pedoman pembelajaran dan kegiatan lainnya bagi civitas akademika. 

“Untuk kesiapan sudah 90%, dengan melengkapi fasilitas ruangan dengan prokes. Diantaranya thermo gun, desinfektan, juga ruang transit bagi yang pada saat itu terindikasi Covid,” ujar Dwi Atmono saat diwawancarai via WhatsApp pada Rabu (12/1).

Tidak hanya itu, Dwi Atmono juga menambahkan bahwa FKIP sendiri telah menerbitkan petunjuk umum pembelajaran tatap muka terbatas di lingkungan FKIP ULM yang nantinya akan diperbanyak dan disebarkan kepada seluruh civitas akademika dalam bentuk buku digital.  

Namun, dalam penerapannya kelak, fakultas tetap akan menyerahkan sistematika PTM kepada prodi seperti adanya pembagian shift. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Ketua Program Studi Pendidikan IPA FKIP ULM Maya Istyadji, yang mengatakan bahwa dosen Pendidikan IPA sudah 100 persen siap dalam menghadapi PTM kelak dan pastinya akan tetap menggunakan metode hybrid learning karena pengisian ruang kuliah hanya 50 persen dari daya tampung. Hal tersebut dilakukan untuk mematuhi prokes yang berlaku. 

“Rencana prodi enam pertemuan pertama mahasiswa berbeda orangnya dengan enam pertemuan kedua. Artinya setiap individu mendapat kesempatan yang sama antara luring dan daring,” ucap Maya saat diwawancarai via WhatsApp pada Rabu (12/1). 

Di lain sisi, mahasiswa prodi Pendidikan Matematika angkatan 2020 Diva Farapikatan menyampaikan keinginannya untuk perkuliahan tatap muka. Menurutnya, dengan adanya PTM akan membuat pembelajaran lebih efektif dan dapat bertemu dengan dosen serta teman-teman.

“Pendapatnya ya ngikut alur aja, gimana baiknya. Kan kebijakan dari kampus masing-masing pasti sudah dipikirkan secara matang baik secara sistematikanya hingga penerapan prosedur kesehatannya,” tambahnya.

Hal ini sejalan pula dengan pernyataan mahasiswa Pendidikan IPA angkatan 2021 Noorhayati. Menurutnya, PTM sangat diperlukan agar mahasiswa tidak terjebak dalam zona nyaman, yaitu perkuliahan daring yang semuanya menjadi serba mudah dan fleksibel untuk dilakukan.

Terakhir, Dwi Atmono menyampaikan harapannya bahwa dengan adanya PTM ini diharapkan dapat meminimalisir learning loss yang terjadi saat pembelajaran berlangsung dan semua civitas akademika dapat terlibat dengan penuh rasa tanggung jawab.

“Mudah-mudahan PTM berjalan secara baik dengan tetap melaksanakan prokes, agar meminimalisir learning loss. Diusahakan semua ikut berpartisipasi dengan penuh tanggung jawab agar PTM dilaksanakan dengan baik,” ujarnya.

Penulis : Kar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *