Apa yang tersirat dalam pikiran kamu saat menemui orang yang sedang membaca buku? ia pintar dan rajin? Atau terkesan cari perhatian? Pandangan tersebut mungkin sering ditemui di kehidupan bermasyarakat. Sebenarnya bukan masalah pandangannya, tetapi lebih terkesan cemoohnya sehingga membuat orang yang membaca merupakan “budaya yang hilang” di sekitar kita. Padahal seperti yang sering didengar waktu TK dulu, bahwa membaca buku dunia ada digenggamanmu. Tetapi jika sebuah buku hanya tersusun rapi di rak atau terdiam dalam tas tanpa dibaca? Apa gunanya? Yang ada hanya gumpalan debu tutupi buku bukan dunia didalam genggaman.

Membaca merupakan sebuah aktivitas yang dapat dilakukan oleh semua usia mulai dari anak-anak hingga lansia. Dengan membaca, banyak pengetahuan dan informasi yang didapat guna meningkatkan kualitas hidup. Membaca selain sebagai tolak ukur kecerdasan suatu bangsa, kemampuan membaca yang tinggi pun merupakan salah satu ciri sebuah negara yang maju. Indonesia adalah negara dengan penduduk terpadat keempat di seluruh dunia menurut Biro Sensus AS maupun Worldometers. Dari banyaknya penduduk Indonesia, dilansir dari Warta Ekonomi minat masyarakat Indonesia untuk membaca dinilai sangat memprihatinkan, yakni dengan persentase hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang di Indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca. The World’s Most Literate Nations juga menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 dalam kecakapan literasi. Sungguh ironis kan? Cukup penduduk saja yang padat, pengetahuan kita jangan sampai ikut tersendat.
Selanjutnya, dalam membaca tidak lepas dari yang namanya perpustakaan. Ya, sebuah tempat yang isinya adalah barisan buku yang tersusun rapi di rak. Tempat ini merupakan surganya penyuka buku. Akan tetapi, tempat dengan ribuan buku ini tak hanya dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian orang, kadangkala ada saja kelakuan jahil orang-orang ‘panjat sosial’. Bukannya ke perpustakaan untuk membaca, yang ada mereka hanya memanfaatkan wi-fi gratis, atau sekedar berfoto ria dengan latar rak buku untuk menampilkan citra baik di dunia maya. Sungguh luar biasa bukan? Membaca buku tidak lagi menjadi primadona kalangan remaja.
Tak hanya itu, dalam era serba digital ini hampir semua kalangan memiliki gawai sehingga mereka teralihkan oleh kecanggihan teknologi yang serba instan. Membuat orang rela membuang-buang waktu hanya untuk cek sosial media atau bermain game berlama-lama, sehingga menyurutkan keinginan untuk membaca buku yang hanya dianggap tumpukan kertas putih dengan sajian kata yang membosankan ketika dibaca.
Kendati demikian, ada beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk menumbuhkan minat baca buku seseorang. Pertama, yaitu cari tahu hobi seseorang, setelah itu berikan referensi buku keren tentang kegemarannya yang akan menggugah seleranya untuk membaca. Kedua, membaca tidak perlu dimulai dengan buku yang berat dan tebal, tetapi mulailah dengan buku yang kita sukai. Contohnya, jika kita menyukai misteri maka kita bisa membaca buku tentang detektif Sherlock Holmes yang terkenal. Kemudian ketiga, usahakan untuk membaca buku setiap hari walau hanya satu halaman atau satu paragraf. Seperti kata pepatah cinta tidak datang secara langsung tetapi cinta datang karena telah terbiasa. Terakhir, kita bisa memanfaatkan gawai untuk membaca buku elektronik. Era canggih dengan kapabilitas gawai yang sudah modern pun sebenarnya banyak menyediakan aplikasi e-book, contohnya iPusnas, sebuah platform digital dari Perpustakaan Nasional RI. Serta, mungkin bisa mengutip quote dari Najwa Shihab yaitu “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca.. Cari buku itu. Mari jatuh cinta”.
Membaca buku bukan hal yang ‘jadul’, bahkan dengan membaca buku mampu menjadikan kita sebagai manusia modern. Zaman dengan era serba digital saja sebenarnya membantu kita untuk meningkatkan minat baca, sudah dipermudah tidak perlu harus ke perpustakan dulu baru bisa baca buku. Hanya saja pemanfaatannya yang kurang di bijaksanai sehingga terkesan memberikan dampak buruk kedepannya.
Terlepas dari masih minimnya minat baca buku di Indonesia, kita berharap bahwa generasi sekarang dan juga yang akan datang bisa menemukan kenikmatan tersendiri dalam membaca buku, karena dengan membaca buku adalah salah satu cara untuk membuat seseorang menjadi unggul dan hebat. Tidak akan ada yang menyangkal hal ini!
Penulis: Ahmad Bakharzi Hakam
