
Banjarmasin, Warta JITU – Persebaran kasus Covid’19 di Banjarmasin belum juga membaik. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 di Kota Banjarmasin pada Sabtu (19/12) lalu, terdapat dua kelurahan -Pelambuan Kecamatan Banjarmasin Barat, dan Pemurus Dalam Kecamatan Banjarmasin Selatan- yang termasuk kedalam zona merah dan sebanyak 22 kelurahan lainnya termasuk kedalam zona kuning.
Berkenaan hal itu, dilansir dari Baritopost.co.id, Sutarto Hadi –Rektor ULM- mengungkapkan jika daerah sekitarnya belum kunjung berubah menjadi zona hijau, maka kebijakan membuka kampus Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada awal tahun 2021 masih belum bisa dilaksanakan.
“Kalau masih begini kondisinya, dengan sangat terpaksa kami tidak bisa membuka kampus awal tahun depan. Sehingga perkuliahan tetap dengan metode daring,” tutur Sutarto Hadi yang dilansir dalam Baritopost.co.id pada Rabu (16/12) lalu.
Adanya kebijakan tersebut disinyalir untuk menghindari terjadinya muncul klaster kampus jika perkuliahan tetap dibuka dalam kondisi daerah sekitar belum aman sepenuhnya dari penyebaran Covid’19.
Berkaitan dengan kebijakan Rektor ULM yang diungkapkan dalam beberapa media massa terkait sistem perkuliahan awal tahun 2021 masih secara daring, tim Reporter Warta JITU mencoba menghubungi rektor maupun jajarannya untuk menggali lebih dalam lagi. Namun, mereka tidak angkat bicara.
Meski demikian, bagaimana tanggapan mahasiswa jika sistem perkuliahan daring ini terus berlanjut hingga awal tahun 2021 mendatang? Reporter Warta JITU mencoba meminta tanggapan ke beberapa mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ULM secara acak, hasilnya ada yang setuju dan ada juga yang tidak.
Nursyalasiah dan Mahpi Aulia mahasiswa FKIP ULM menyatakan perkuliahan secara daring yang diperpanjang hingga awal tahun sangat tidak efektif, lantaran kesulitan dalam memahami materi suatu matakuliah, dan adanya kendala terhadap jaringan di wilayah tertentu.
Tidak hanya itu, Yeni Rukmana salah satu mahasiswa FKIP ULM angkatan 2020 turut mengungkapkan ketidakefektifan kuliah daring ini.
“Menurut saya dari sudut pandang sebagai Mahasiswa Baru (Maba), kurang efektif apalagi kami yang masih belum tahu apa-apa, dan perkuliahan online yang sudah berjalan satu semester ini pun materinya tidak masuk ke otak lebih tepatnya diremehkan kaya ngomong ‘kita masih semester satu juga belum susah materinya’ gitu dan alhasil dari pelajaran yang disampaikan pun tidak masuk ke otak. Kemudian dari kendala jaringan dan kuota, kadang jaringan tu naik turun hasilnya keluar masuk dan penjelasan dosen sering tidak terdengar jelas lantaran putus-putus. Terkait bantuan kuota pun, kami maba sampai saat ini belum dapat kuota sedikitpun padahal sudah menjalani satu semester,” ujar Yeni saat diwawancarai pada Minggu (27/12).
Yeni juga menambahkan jika perkuliahan daring masih berlangsung hingga tahun 2021, hendaknya distribusi bantuan kuota untuk maba yang belum direalisasikan sampai saat ini agar lebih diperhatikan lagi.
Berseberangan dengan pendapat sebelumnya, Deni Hermawan dan Steaven Gabriel mahasiswa FKIP ULM menyatakan setuju dengan kebijakan rektor tersebut. mereka menegaskan pembelajaran yang dilakukan secara daring lebih efektif dari pada harus menanggung resiko apabila dilakukan secara luring.
“Keputusan itu juga sudah dipikirkan matang-matang oleh rektorat. Bagaimana pun, mata rantai Covid-19 malah makin menanjak sehingga mendesak para pejabat rektor mengeluarkan kebijakan untuk memperpanjang kuliah daring sampai waktu yang belun ditentukan. Kampus ULM juga bisa disebut sebagai kampus Bhinneka Tunggal Ika, dimana mahasiswanya berasal dari bermacam tempat sehingga beresiko bila mengumpulkan seluruh mahasiswa untuk kuliah tatap muka. Maka bukan tidak mungkin akan memperkeruh situasi yang sedang gawat. Sambil menunggu vaksin yang akan diberikan, sebagai mahasiswa kita harus tabah dan semangat berkuliah apapun rintangannya,” tutup Steaven saat diwawancarai melalui pesan Whatsapp pada Minggu (27/12).
Reporter: Ndy,Snm
Editor: Mim, Sfz

Mantap